Berita Terkini
Dari Sulit Meyakinkan Bank hingga 69,3 Juta Pengguna, Begini Perjalanan QRIS
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 13 October 2026 Waktu baca 5 menit
Korea Utara kembali melakukan peluncuran rudal di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Semenanjung Korea.
Pada Senin, 12 Oktober 2026, militer Korea Selatan mendeteksi beberapa rudal balistik diluncurkan dari kawasan Pyongyang menuju Laut Timur atau Laut Jepang sekitar pukul 09.20 waktu setempat.
Salah satu rudal terbang lebih dari 900 kilometer. Jepang secara terpisah mendeteksi sedikitnya dua rudal dan menyatakan tidak ada yang memasuki wilayah maupun Zona Ekonomi Eksklusif negaranya.
Peluncuran tersebut terjadi hanya sembilan hari setelah Korea Utara melakukan uji rudal lain yang diklaim menggunakan sistem senjata strategis hipersonik.
Informasi pertama dari Joint Chiefs of Staff atau JCS Korea Selatan masih sangat terbatas.
Pada sekitar pukul 09.32 waktu setempat, militer Seoul hanya mengatakan telah mendeteksi sebuah “proyektil tak dikenal” yang ditembakkan menuju Laut Timur.
Beberapa saat kemudian, informasi tersebut diperbarui.
JCS menyatakan Korea Utara sebenarnya telah meluncurkan beberapa rudal balistik dari kawasan Pyongyang, dengan setidaknya salah satu jenis rudal terbang lebih dari 900 kilometer.
Karena itu, istilah “proyektil tak dikenal” kini hanya menggambarkan laporan awal, bukan kesimpulan terbaru mengenai peluncuran tersebut.
Kementerian Pertahanan Jepang kemudian memberikan rincian lebih spesifik.
Tokyo memperkirakan Korea Utara menembakkan sedikitnya dua rudal balistik dari wilayah pedalamannya pada pagi 12 Oktober.
Rudal pertama diperkirakan diluncurkan sekitar pukul 09.19, mencapai ketinggian sekitar 20 kilometer dan terbang sejauh sekitar 220 kilometer.
Rudal kedua diluncurkan sekitar pukul 09.36, mencapai ketinggian sekitar 70 kilometer dan terbang lebih dari 910 kilometer.
Jepang juga mengatakan rudal kedua mungkin menempuh lintasan yang tidak biasa. Analisis lebih lanjut dilakukan bersama Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Tidak ada laporan kerusakan terhadap kapal maupun pesawat di kawasan terkait.
Sehari setelah peluncuran, Pyongyang memberikan versinya sendiri.
Media pemerintah KCNA pada 13 Oktober mengatakan badan rudal Korea Utara telah melakukan uji coba rudal balistik taktis pada 12 Oktober.
Menurut KCNA, uji tersebut dilakukan untuk memastikan keberhasilan peningkatan teknis terhadap salah satu komponen utama sistem senjata.
Korea Utara menyebut peningkatan tersebut sebagai keberhasilan besar yang dapat meningkatkan kinerja dan kecanggihan sistem senjata ofensifnya.
Namun, Pyongyang tidak memberikan rincian teknis lengkap mengenai rudal yang diuji.
Karena itu, masih ada perbedaan tingkat detail antara keterangan Korea Utara dan hasil pengamatan Korea Selatan serta Jepang.
Peluncuran 12 Oktober bukan uji rudal pertama Korea Utara pada bulan ini.
Pada 3 Oktober 2026, Pyongyang menembakkan satu rudal dari kawasan Wonsan menuju perairan timur.
Korea Utara kemudian menyatakan pemimpin Kim Jong Un mengawasi latihan rudal strategis jarak menengah yang berkaitan dengan sistem senjata strategis hipersonik.
Menurut media pemerintah Korut, rudal tersebut mengenai sasaran sekitar 1.000 kilometer dari titik peluncuran.
Dengan demikian, peluncuran 12 Oktober terjadi sembilan hari setelah uji tersebut.
Secara umum, istilah hipersonik merujuk pada sistem yang dapat bergerak lebih dari lima kali kecepatan suara.
Namun kecepatan bukan satu-satunya karakteristik yang menjadi perhatian militer.
Beberapa kendaraan luncur hipersonik atau rudal dengan kemampuan manuver dirancang untuk mengubah lintasan selama penerbangan, sehingga lebih sulit dilacak dan dicegat dibandingkan rudal balistik yang mengikuti lintasan lebih mudah diprediksi.
Hal inilah yang membuat dugaan lintasan tidak biasa pada salah satu rudal 12 Oktober menjadi perhatian.
Meski begitu, otoritas Jepang belum menyimpulkan secara final bahwa rudal tersebut merupakan senjata hipersonik. Mereka masih melakukan analisis bersama AS dan Korea Selatan.
Konteks peluncuran terbaru tidak hanya berkaitan dengan uji Korea Utara pada 3 Oktober.
Pada 8 Oktober, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyaksikan uji terbang pertama senjata hipersonik yang dikembangkan negaranya sendiri.
Sistem tersebut berhasil melakukan manuver setelah berpisah dari booster sebelum mencapai target.
Empat hari kemudian, Korea Utara kembali meluncurkan beberapa rudal.
JCS Korea Selatan menilai secara awal bahwa peluncuran tersebut dapat dilihat sebagai unjuk kemampuan sekaligus respons terhadap uji senjata hipersonik Seoul.
Namun penilaian tersebut merupakan analisis militer Korea Selatan.
Korea Utara dalam pernyataan resminya hanya mengatakan uji 12 Oktober merupakan bagian dari kegiatan rutin untuk meningkatkan teknologi sistem persenjataan.
Militer Korea Selatan mengatakan telah meningkatkan pengawasan dan kesiapsiagaan untuk menghadapi kemungkinan peluncuran lanjutan.
Informasi mengenai rudal juga dibagikan kepada Amerika Serikat dan Jepang.
Kantor keamanan nasional Korea Selatan menggelar rapat darurat untuk mengevaluasi situasi setelah peluncuran.
Pemerintah Seoul menyebut peluncuran rudal balistik Korea Utara melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Resolusi Dewan Keamanan PBB selama bertahun-tahun memang melarang Korea Utara mengembangkan dan menguji teknologi rudal balistik tertentu sebagai bagian dari rezim sanksi terkait program nuklir dan persenjataannya.
Bagi Jepang, salah satu perhatian utama adalah lintasan dan titik jatuh rudal.
Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan kedua rudal yang dideteksinya diperkirakan jatuh di dekat pesisir timur Korea Utara dan Laut Jepang.
Tokyo tidak menemukan indikasi proyektil memasuki wilayah Jepang atau Zona Ekonomi Eksklusifnya.
Pemerintah Jepang tetap melayangkan protes dan meneruskan analisis teknis bersama Seoul dan Washington.
Meski jenis dasar senjata telah lebih jelas, masih banyak informasi teknis yang belum tersedia.
Korea Selatan mengatakan beberapa jenis rudal mungkin diluncurkan dalam insiden yang sama.
Jepang mencatat dua lintasan dengan jarak dan ketinggian sangat berbeda.
Sementara Korea Utara hanya mengumumkan uji “rudal balistik taktis” tanpa membeberkan jumlah pasti, spesifikasi, kecepatan, maupun teknologi komponen yang ditingkatkan.
Karena itu, belum tepat menyimpulkan seluruh rudal 12 Oktober merupakan model yang sama atau semuanya memiliki kemampuan hipersonik.
Rangkaian peluncuran Oktober memperlihatkan cepatnya pengembangan kemampuan rudal di kedua Korea.
Pyongyang terus menyempurnakan sistem rudal balistik, termasuk teknologi yang diklaim memiliki kemampuan hipersonik.
Seoul di sisi lain juga mengembangkan sistem hipersoniknya sendiri.
Dalam situasi seperti ini, masing-masing pihak dapat melihat penguatan persenjataan lawan sebagai alasan untuk meningkatkan kemampuan militernya sendiri.
Hal tersebut menciptakan risiko siklus aksi dan reaksi yang meningkatkan ketegangan regional.
Namun motif spesifik setiap peluncuran tetap perlu dibedakan antara penjelasan resmi negara yang melakukan uji dan analisis dari negara lain.
Korea Utara kembali meluncurkan beberapa rudal balistik pada 12 Oktober 2026.
Militer Korea Selatan mendeteksi peluncuran dari kawasan Pyongyang, dengan salah satu rudal terbang lebih dari 900 kilometer.
Jepang mendeteksi sedikitnya dua rudal. Satu terbang sekitar 220 kilometer, sementara lainnya melaju lebih dari 910 kilometer dan kemungkinan mengikuti lintasan tidak biasa. Tidak ada rudal yang terdeteksi memasuki wilayah atau Zona Ekonomi Eksklusif Jepang.
Sehari kemudian, Korea Utara mengonfirmasi telah melakukan uji rudal balistik taktis untuk menguji peningkatan teknis komponen sistem persenjataan.
Peluncuran tersebut terjadi sembilan hari setelah uji rudal Korut pada 3 Oktober yang disebut Pyongyang berkaitan dengan sistem senjata strategis hipersonik, serta empat hari setelah Korea Selatan mengungkap uji senjata hipersoniknya sendiri.
Sumber: bloombergtechnoz.com/
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.