Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 14 August 2025 Waktu baca 5 menit
Tidak banyak perusahaan yang mampu bertahan dalam jangka waktu panjang. Berdasarkan catatan Boston Consulting Group, usia rata-rata kelangsungan hidup perusahaan hanya berkisar 40–50 tahun. Perusahaan yang bisa melewati batas tersebut dianggap beruntung.
Hal ini karena mempertahankan keberlangsungan hingga usia tersebut bukan perkara mudah. Tantangan seperti salah pengelolaan, konflik internal, maupun krisis eksternal sering kali menjadi penyebab perusahaan tidak mampu bertahan lama. Perusahaan yang telah berusia panjang biasanya telah teruji menghadapi berbagai guncangan ekonomi dan politik, serta mampu terus berinovasi agar tetap kuat di tengah perubahan.
Keberlanjutan yang lebih menantang lagi adalah ketika perusahaan dijalankan lintas generasi, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tidak banyak yang mampu melakukannya.
Tercatat ada 10 perusahaan tertua di Indonesia yang berhasil bertahan melewati berbagai dinamika zaman hingga saat ini. Mereka telah melampaui berbagai era melalui inovasi dan peran pentingnya. Berikut daftarnya:
Pos Indonesia (1746)
Arus perdagangan yang tinggi di Indonesia pada masa itu mendorong Gubernur Jenderal VOC, Gustaaf Willem Baron van Imhoff, mendirikan lembaga pengiriman barang melalui sistem pos untuk memperlancar kegiatan perdagangan.
Pada 26 Agustus 1746, kantor pos pertama berdiri di Batavia. Berdasarkan arsip The Archives of the Dutch East India Company (VOC) and the Local Institutions in Batavia (2007), tujuan awal pendirian ini berhasil tercapai.
Perkembangan selanjutnya ditandai dengan berdirinya kantor pos di Semarang dan dibangunnya Jalan Raya Pos oleh Daendels.
Meskipun menghadapi dinamika politik dan ekonomi pada masa kolonial, kantor pos tetap bertahan hingga era kemerdekaan. Jaringan kantor pos dibangun di seluruh kota di Indonesia dan saling terhubung. Kini, Pos Indonesia masih eksis meskipun menghadapi persaingan ketat dan perubahan menuju era digital.
Bank Rakyat Indonesia (1895)
BRI adalah salah satu bank terbesar di Indonesia yang jarang tergeser dari posisi big four dan memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Bank ini memiliki sejarah panjang, berawal dari inisiatif Raden Bei Aria Wirjaatmadja yang prihatin melihat seorang guru terjerat utang rentenir.
Dengan dana kas masjid Purwokerto sebesar 4.000 gulden, ia memulai usaha simpan pinjam bagi guru, pegawai, dan petani. Pada 16 Desember 1895, ia bersama rekan-rekannya mendirikan De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden.
Berdasarkan Staatsblad No. 82 Tahun 1934, bank ini menjadi Algemene Volkscrediet Bank (AVB). Pada masa pendudukan Jepang berubah menjadi Syomin Ginko. Setelah kemerdekaan, namanya resmi menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan menjadi milik negara.
Unilever (1933)
Perusahaan asal Inggris ini berdiri pada 1 Januari 1930 hasil merger Margarine Unie dan Lever & Co. Di Indonesia, Unilever hadir pada 5 Desember 1933 dengan pabrik di Angke, Jakarta Utara.
Selama lebih dari 90 tahun, Unilever menjadi raksasa industri FMCG yang memengaruhi ekonomi dan gaya hidup masyarakat Indonesia. Produk-produknya bahkan menjadi istilah umum, seperti “Sunlight” untuk sabun cuci piring atau “Rinso” untuk deterjen.
Pada 2023, nilai ekonomi yang didistribusikan Unilever mencapai Rp38,92 triliun, melibatkan 4.800 pekerja, 500.000 ritel kecil, dan puluhan ribu petani. Perusahaan ini juga menjadi pionir dalam sertifikasi halal untuk pabrik FMCG sejak 1994, menerapkan kebijakan ramah keluarga, serta berkontribusi pada pengelolaan limbah plastik dan air.
Kimia Farma (1817)
Perusahaan farmasi pertama di Indonesia ini berdiri dengan nama NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co pada 1817, dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menyediakan obat modern, terutama pencegah penyakit tropis.
Pada 1958, perusahaan dinasionalisasi menjadi Kimia Farma, lalu pada 2001 menjadi perusahaan publik. Kini, fokusnya pada diversifikasi produk dan layanan, serta memperluas jaringan apotek di seluruh negeri.
Bank HSBC Indonesia (1884)
HSBC hadir di Batavia pada 1884 untuk mendukung pembiayaan industri gula. Meski awalnya fokus pada pembiayaan perdagangan, HSBC bertahan hingga kini mengikuti perkembangan pasar Indonesia.
Pegadaian (1901)
Sejak awal berdiri, Pegadaian memberi layanan gadai untuk memudahkan masyarakat mendapatkan dana cepat. Kini, sebagai BUMN, Pegadaian menawarkan berbagai layanan keuangan termasuk tabungan emas, tetap mempertahankan akses luas bagi semua lapisan masyarakat.
Semen Padang (1910)
Didirikan sebagai NV Nederland Indische Portland Cement Maatschappij (NIPCM), pabrik semen pertama di Asia Tenggara ini memainkan peran besar dalam modernisasi Indonesia.
Pada 1957, NIPCM dinasionalisasi menjadi Semen Padang. Semennya digunakan dalam pembangunan ikon nasional seperti Monas, Gedung DPR/MPR, dan Hotel Indonesia.
Sampoerna (1913)
Didirikan oleh Liem Seeng Tee, Sampoerna terkenal dengan produk Djie Sam Soe. Pada 1940, produksinya mencapai 3 juta batang rokok per minggu. Hingga kini, Sampoerna masih menjadi produsen rokok terkemuka di Indonesia.
Kapal Api (1927)
Didirikan oleh Go Soe Loet, Kapal Api menjadi pelopor kopi bubuk kemasan di Indonesia. Produknya merambah pasar internasional sejak 1985 ke Timur Tengah, Taiwan, dan Hong Kong.
Multi Bintang Indonesia (1931)
Bermula dari NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen di Surabaya, perusahaan ini terkenal lewat produk Bir Bintang. Kini, mereka juga memproduksi varian non-alkohol dan mempertahankan standar internasional.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.