Bunga Murah dari Jepang untuk Proyek MRT Jakarta Senilai Puluhan Triliun

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 14 May 2024 Waktu baca 5 menit

DIGIVESTASI - Indonesia telah menerima dana dari Jepang untuk memperluas jalur angkutan cepat massal (MRT) timur-barat Jakarta. Tanpa ragu, Negeri Matahari Terbit mengucurkan pinjaman senilai 140,699 miliar yen atau setara Rp 14,5 triliun.  Pinjaman tersebut akan digunakan untuk Proyek Tahap 1 Tahap 1 untuk membangun jalur metro dari Medan Satria ke Tomang yang jaraknya sekitar 24,5 km. Proyek ini diharapkan selesai pada tahun 2031.


 “Proyek ini diharapkan selesai pada tahun 2031, yaitu sekitar 7 tahun,” kata Yasui Takehiro, Kepala Perwakilan Japan International Cooperation Agency (JICA) di Indonesia,  Senin (13/Mei 2024). Yasui mengatakan, ke depan total akan ada  21 stasiun, termasuk 9 stasiun  bawah tanah  jalur MRT timur-barat. Pinjaman Jepang sebesar Rp14,5 triliun kepada Indonesia akan disalurkan melalui JICA. 

 

Pinjaman dari Jepang ini memiliki tingkat bunga 0,3% dengan biaya konsultasi 0,2%/tahun. Jangka waktu pelunasan utang adalah 40 tahun, termasuk masa tenggang 10 tahun. 

Selain itu, persyaratan kemitraan ekonomi khusus (STEP) akan berlaku untuk proyek ini. Teknologi Jepang  juga akan digunakan untuk membangun  terowongan bawah tanah, fasilitas kereta api, dan sistem persinyalan. STEP sendiri merupakan syarat yang diperlukan untuk penggunaan teknologi Jepang, yang didirikan pada Juli 2002 dengan tujuan memberikan dukungan asli Jepang kepada negara-negara berkembang. 

 

Sebelumnya, Jepang melalui JICA menggelontorkan modal dalam jumlah besar untuk proyek kereta bawah tanah Jakarta. Untuk tahap I yakni dari Lebakbulus hingga Bundaran HI sepanjang 16 km, Jepang memberikan total dana sebesar 192 miliar yen atau sekitar 24,2 triliun rupiah yang disalurkan dalam beberapa tahap.  

 

Pinjaman pertama (IP 536) senilai 1,8 miliar yen setara Rp 200 miliar periode 22 Maret 2012 hingga 22 Maret 2017, pinjaman kedua (IP 554) senilai 48 miliar yen setara Rp 5,5 triliun selama 28 Juli 2009 hingga 28 Juli 2019, pinjaman ketiga (IP 571) senilai 72,2 miliar yen setara Rp 9,5 triliun yen untuk periode 31 Maret 2016 hingga 31 Maret 2022 dan pinjaman keempat senilai 70 miliar yen setara dengan Rp9.000 miliar periode 23 April 2019 sampai dengan 23 April 2025.

 

Tingkat bunga rata-rata pinjaman yang diberikan adalah 0,2%. Jangka waktu  pelunasan adalah 40 tahun. Sementara untuk Tahap II  Bundaran HI di Kampung Bandan, Jepang juga menyetujui pemberian pinjaman senilai 70,210 miliar Yen atau Rp 9,46 triliun. Tingkat bunga pinjaman yang diberikan adalah 0,1%, sedangkan tingkat bunga  konsultan adalah 0,01%. Jangka waktu pengembalian pinjamannya juga cukup lama yakni 40 tahun.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.