IHSG Anjlok, Jusuf Hamka Siapkan Rp5 T Borong Saham

Saham News - Diposting pada 19 October 2026 Waktu baca 5 menit

Pengusaha jalan tol, Jusuf Hamka alias Babah Alun.

IHSG Anjlok, Jusuf Hamka Siapkan Rp5 T Borong Saham

Jakarta, 19 Oktober 2026 — Di tengah tekanan hebat yang melanda pasar saham Indonesia, pengusaha Jusuf Hamka justru melihat peluang untuk masuk ke bursa. Bersama sejumlah rekan bisnisnya, ia menyatakan telah membentuk konsorsium yang berencana membeli saham dengan nilai mencapai Rp5 triliun pada Senin (19/10/2026).

Pernyataan tersebut menjadi sorotan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 11,57% pada perdagangan Jumat (16/10/2026), di tengah kekhawatiran investor terhadap usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.

Jusuf Hamka, yang juga dikenal dengan sapaan Babah Alun, menilai koreksi tajam pada sejumlah saham berkapitalisasi besar dapat membuka kesempatan bagi investor yang memiliki dana dan berorientasi jangka panjang.

Namun, nilai Rp5 triliun yang disebutkan masih merupakan rencana pembelian. Belum ada konfirmasi independen mengenai jumlah saham atau nilai transaksi yang telah direalisasikan kelompok tersebut.

 

Pasar Saham Tertekan, Jusuf Hamka Justru Bersiap Membeli

Pekan perdagangan 12–16 Oktober 2026 menjadi periode berat bagi pasar modal Indonesia.

Pada penutupan Jumat, IHSG berada di level 5.185,10 setelah kehilangan sekitar 678,68 poin atau 11,57% dibandingkan sesi sebelumnya.

Tekanan jual bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pagi hari setelah indeks mengalami penurunan sekitar 8%.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap pergerakan harga saham dalam jangka pendek.

Di tengah kondisi itu, Jusuf Hamka menyampaikan pandangan berbeda. Ia menganggap penurunan harga secara signifikan dapat menjadi momentum untuk membeli saham perusahaan-perusahaan besar.

Dalam pernyataan melalui akun Instagram pribadinya pada Minggu (18/10/2026), ia mengungkap rencana bersama sekelompok pengusaha untuk masuk ke pasar saham pada awal pekan berikutnya.

Nilai dana yang disebutkan mencapai Rp5 triliun.

Rencana itu kemudian diberitakan sejumlah media, termasuk IDNFinancials, RMOL, dan Bloomberg Technoz.

 

Konsorsium Rp5 Triliun, Siapa Saja yang Terlibat?

Jusuf Hamka merupakan tokoh pengusaha yang terkait dengan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), perusahaan yang bergerak dalam pengusahaan jalan tol.

Ia juga menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres.

Dalam pernyataan terbarunya, Jusuf mengaku telah membentuk kelompok bersama sejumlah rekan pengusaha untuk melakukan pembelian saham.

Meski demikian, belum ada penjelasan terperinci mengenai seluruh anggota konsorsium, pembagian dana antarpeserta, maupun mekanisme transaksi yang akan digunakan.

Belum diketahui pula apakah pembelian direncanakan dalam satu kali transaksi atau dilakukan secara bertahap.

Karena itu, publik perlu membedakan antara pengumuman kesiapan dana dan realisasi pembelian yang benar-benar terjadi di bursa.

Pernyataan seseorang mengenai rencana investasi dapat menjadi informasi pasar yang menarik, tetapi belum cukup untuk memastikan seluruh transaksi akan terlaksana sesuai target awal.

 

Empat Saham Bank Besar Jadi Sorotan

Dalam penjelasannya, Jusuf Hamka menyebut sejumlah saham perbankan besar yang dinilai menarik setelah mengalami penurunan harga.

Saham yang disorot meliputi:

Kode Saham Perusahaan
BMRI PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
BBRI PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
BBNI PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
BBCA PT Bank Central Asia Tbk

Keempat bank tersebut merupakan emiten besar yang memiliki peran penting dalam sektor perbankan dan pasar saham Indonesia.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), saham-saham bank besar tersebut juga mengalami penurunan tajam.

Menurut data perdagangan yang diberitakan EmitenNews pada 19 Oktober, BMRI turun 14,82%, BBRI melemah 14,84%, BBNI terkoreksi 12,90%, sedangkan BBCA turun 14,81% pada perdagangan Jumat sebelumnya.

Jusuf Hamka menilai koreksi harga tersebut membuat sejumlah saham perbankan lebih menarik untuk dipertimbangkan.

Namun, penyebutan keempat saham tidak berarti konsorsiumnya telah dipastikan membeli semuanya. Belum tersedia rincian resmi mengenai emiten, jumlah lembar saham, dan nilai pembelian yang direalisasikan.

 

Mengapa Dividen Menjadi Pertimbangan?

Selain potensi pemulihan harga, Jusuf Hamka mengemukakan alasan lain yang membuat saham bank menarik menurut pandangannya, yaitu pembagian dividen.

Ia menyebut bahwa sejumlah saham perbankan besar berpotensi menawarkan imbal hasil dividen yang menurut perhitungannya berada di kisaran 8–9%.

Angka tersebut merupakan estimasi yang disampaikan Jusuf Hamka, bukan jaminan imbal hasil seluruh saham yang disebutkan.

Dividend yield atau imbal hasil dividen merupakan perbandingan antara dividen per saham dengan harga saham yang digunakan dalam perhitungan.

Sebagai contoh ilustratif, jika sebuah saham diperdagangkan pada harga Rp4.000 dan memberikan dividen tahunan Rp320 per saham, maka imbal hasil dividennya sebesar 8%.

Namun, angka tersebut bisa berubah apabila harga saham bergerak atau jumlah dividen yang dibagikan berbeda dari periode sebelumnya.

Selain itu, pembagian dividen bergantung pada laba, kondisi keuangan, kebijakan perusahaan, serta persetujuan yang diperlukan.

Artinya, membeli saham dengan harapan memperoleh dividen tidak sama dengan menyimpan uang pada instrumen yang memberikan tingkat bunga tetap.

Investor juga tetap menghadapi risiko penurunan harga saham, sehingga pendapatan dividen belum tentu mampu menutupi kerugian nilai investasi.

 

MSCI Jadi Salah Satu Pemicu Kekhawatiran Pasar

Koreksi besar IHSG berlangsung setelah MSCI mengeluarkan pengumuman penting pada 15 Oktober 2026.

Lembaga penyedia indeks global tersebut membuka konsultasi mengenai usulan untuk mengubah klasifikasi saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

MSCI menyoroti sejumlah persoalan terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas pelaksanaan reformasi pasar modal.

Klasifikasi MSCI penting karena banyak pengelola investasi internasional menggunakan indeksnya sebagai acuan portofolio.

Apabila perubahan klasifikasi nantinya diterapkan, dana investasi yang mengikuti indeks tertentu mungkin perlu menyesuaikan kepemilikan saham Indonesia.

Kemungkinan tersebut meningkatkan ketidakpastian di pasar.

Namun, sampai 19 Oktober 2026, MSCI belum menetapkan keputusan akhir penurunan klasifikasi Indonesia.

Konsultasi masih berlangsung hingga 30 April 2027 dan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

 

Jusuf Hamka Ajak Pengusaha Mendukung Pasar Domestik

Selain membicarakan peluang investasi, Jusuf Hamka juga mengajak pengusaha Indonesia untuk lebih aktif mendukung pasar modal domestik.

Ia mengaitkan rencana pembelian saham dengan semangat kepercayaan terhadap perekonomian nasional.

Menurutnya, partisipasi pengusaha dalam negeri dapat menjadi salah satu bentuk dukungan ketika pasar menghadapi tekanan.

Dalam pernyataannya, Jusuf juga menyampaikan pandangan politiknya mengenai latar belakang tekanan eksternal terhadap Indonesia.

Namun, pendapat bahwa proposal MSCI bertujuan menggoyangkan pemerintahan merupakan interpretasi pribadi Jusuf Hamka, bukan kesimpulan yang didukung oleh pengumuman resmi MSCI.

Dokumen MSCI menjelaskan bahwa konsultasi tersebut berkaitan dengan persoalan tata kelola, transparansi, dan kemudahan investasi di pasar saham Indonesia.

Kedua hal tersebut perlu dibedakan agar pembaca dapat menilai perkembangan pasar berdasarkan informasi yang terverifikasi.

 

Apakah Dana Rp5 Triliun Bisa Menahan Kejatuhan IHSG?

Rencana pembelian saham dalam jumlah besar dapat menarik perhatian karena transaksi investor bermodal besar berpotensi menambah permintaan terhadap saham tertentu.

Namun, pengaruhnya tidak otomatis cukup untuk mengangkat seluruh pasar.

IHSG mencakup pergerakan banyak saham dengan kapitalisasi dan bobot indeks berbeda-beda.

Apabila dana Rp5 triliun benar-benar digunakan, dampaknya akan dipengaruhi oleh saham yang dibeli, waktu transaksi, kondisi likuiditas, serta tekanan jual dari investor lain.

Bahkan pada saham berkapitalisasi besar, permintaan tambahan tidak menjamin harga langsung pulih.

Perlu diperhatikan pula bahwa nilai pembelian saham tidak dapat langsung dibandingkan dengan penyusutan kapitalisasi pasar seolah kedua angka memiliki arti yang sama.

Pembelian Rp5 triliun merupakan nilai transaksi yang direncanakan, sedangkan perubahan kapitalisasi pasar mencerminkan perubahan total valuasi saham berdasarkan harga pasar.

Karena itu, belum ada dasar untuk memastikan bahwa rencana Jusuf Hamka dan kelompoknya akan membalikkan penurunan IHSG.

 

Apa yang Perlu Dicermati Setelah Pengumuman Ini?

Perkembangan terpenting berikutnya adalah bukti pelaksanaan transaksi.

Publik perlu melihat apakah terdapat konfirmasi lanjutan mengenai nilai pembelian yang benar-benar dilakukan, saham yang menjadi tujuan, serta apakah kegiatan tersebut berlangsung sesuai jadwal.

Meski demikian, identitas pembeli pada transaksi bursa tidak selalu dapat diketahui secara langsung dari data perdagangan publik.

Selain rencana konsorsium, investor juga perlu memperhatikan perkembangan keputusan MSCI, reformasi pasar modal Indonesia, dan kondisi fundamental perusahaan.

Khusus untuk saham perbankan, kualitas aset, pertumbuhan kredit, profitabilitas, dan kebijakan dividen tetap menjadi indikator penting untuk dipelajari.

Pergerakan harga yang telah turun tajam dapat menarik perhatian, tetapi juga bisa mencerminkan meningkatnya risiko pasar.

 

Kesimpulan: Rencana Besar Belum Tentu Menjadi Transaksi Besar

Pernyataan Jusuf Hamka mengenai kesiapan dana Rp5 triliun menunjukkan adanya investor domestik yang melihat peluang di tengah tekanan pasar saham Indonesia.

Namun, nilai dana yang diumumkan harus dipahami sebagai rencana sampai tersedia bukti transaksi yang dapat dikonfirmasi.

Begitu pula dengan saham-saham bank yang disebutkan. Perusahaan berkapitalisasi besar dan memiliki riwayat pembagian dividen tetap menghadapi risiko pergerakan harga.

Di tengah ketidakpastian MSCI, keputusan investasi perlu mempertimbangkan informasi yang lebih luas daripada sekadar pernyataan seorang investor besar.

Menurut kamu, apakah rencana pembelian saham dari kelompok pengusaha bisa membantu memulihkan kepercayaan pasar, atau investor masih akan menunggu kepastian dari MSCI?

 


Disclaimer: Artikel ini untuk informasi dan edukasi pasar modal. Rencana investasi Jusuf Hamka belum dinyatakan sebagai transaksi yang telah terealisasi. Penyebutan BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Harga saham dan dividen memiliki risiko serta tidak menjamin keuntungan.

Sumber: idnfinancials.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.