IHSG Sesi I Turun 0,27%, BYAN Jatuh 3,6% dan Jadi Pemberat Terbesar

Saham News - Diposting pada 21 September 2026 Waktu baca 5 menit

IHSG Sesi I Turun 0,27%, BYAN Jatuh 3,6% dan Jadi Pemberat Terbesar

Indeks Harga Saham Gabungan belum berhasil mempertahankan penguatan pada awal perdagangan Senin, 21 September 2026.

IHSG mengakhiri sesi pertama di level 6.423,51, turun 17,65 poin atau 0,27% dibanding penutupan Jumat di sekitar 6.441.

Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pemberat terbesar indeks pada perdagangan siang ini.

BYAN turun sekitar 3,6% ke Rp13.325 dan memberikan tekanan sekitar 8,2 poin terhadap IHSG.

 

Sempat Hijau, IHSG Berbalik Turun

IHSG sebenarnya memulai perdagangan dalam zona positif.

Indeks dibuka di sekitar 6.446,90 dan sempat naik hingga 6.451,33.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama.

Tekanan jual membawa indeks turun hingga 6.388,25, sebelum kemudian memangkas sebagian kerugian dan kembali ke area 6.423 pada akhir sesi pertama.

Dengan demikian, rentang antara posisi tertinggi dan terendah sesi pagi mencapai sekitar 63 poin.

Pergerakan tersebut menunjukkan perdagangan yang cukup volatil meskipun perubahan akhir indeks hanya 0,27%.

 

Nilai Transaksi Rp5,74 Triliun

Aktivitas perdagangan sampai sesi pertama juga relatif moderat.

Data pasar menunjukkan nilai transaksi mencapai sekitar Rp5,74 triliun, dengan volume sekitar 14,28 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 1,06 juta kali.

Sumber IDX Mobile yang dikutip Bisnis mencatat 339 saham menguat, 311 saham melemah, dan 313 tidak berubah.

Perbedaan kecil pada angka volume atau jumlah saham antarplatform dapat muncul karena perbedaan waktu pengambilan data dan cakupan instrumen.

Karena itu, timestamp penting ketika mengutip statistik intraday.

 

BYAN Jadi Pemberat Terbesar

Tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari BYAN.

Data midday update Samuel Sekuritas menunjukkan BYAN berada di Rp13.325 atau turun sekitar 3,6%.

Pergerakannya mengurangi sekitar 8,2 poin dari IHSG.

Posisi BYAN menjadi signifikan karena kapitalisasi pasarnya besar.

Perubahan beberapa persen pada saham berkapitalisasi besar dapat memberi dampak jauh lebih besar terhadap IHSG dibanding pergerakan serupa pada saham berkapitalisasi kecil.

 

BBCA hingga BMRI Ikut Menekan

Setelah BYAN, pemberat indeks berikutnya berasal dari sejumlah saham big cap.

BBCA turun sekitar 0,8% dan memangkas 4,4 poin indeks.

TLKM turun sekitar 1,6% dengan dampak sekitar 3,7 poin.

BBRI kehilangan sekitar 0,6% dan mengurangi 2,9 poin, sedangkan BMRI turun sekitar 0,7% dan memangkas 2,5 poin.

Artinya, tekanan IHSG bukan hanya berasal dari satu saham batu bara.

Pelemahan beberapa bank besar dan TLKM turut membatasi kemampuan indeks untuk kembali ke zona hijau.

 

MORA dan BUMI Justru Menahan Penurunan

Di sisi lain, sejumlah saham besar memberikan kontribusi positif.

MORA menjadi salah satu penopang dengan kontribusi sekitar 1,5 poin.

BUMI juga menambah sekitar 1,5 poin, sementara TPIA menyumbang sekitar 1,3 poin.

ASII dan BRPT masing-masing memberi tambahan sekitar 1,2 poin terhadap IHSG.

Namun, kontribusi positif tersebut belum cukup menutup tekanan dari BYAN serta beberapa saham bank.

 

Ada Koreksi Penting soal Sektor Energi

Materi awal menyebut sektor energi turun sekitar 0,9%.

Data sesi pertama yang dapat diverifikasi justru menunjukkan kondisi berbeda.

Sektor energi naik sekitar 0,13%, meskipun BYAN sendiri terkoreksi.

Hal ini mungkin terdengar kontradiktif, tetapi sebenarnya tidak.

Satu saham besar dapat jatuh sementara saham energi lainnya menguat dan membuat indeks sektoral secara keseluruhan tetap positif.

Karena itu, pergerakan BYAN tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh sektor energi melemah.

 

Infrastruktur Jadi Sektor Terlemah

Sektor dengan koreksi terdalam pada sesi I justru infrastruktur, turun sekitar 0,40%.

Konsumer non-siklikal melemah sekitar 0,38%.

Keuangan turun sekitar 0,19%, teknologi sekitar 0,10%, dan sektor barang baku bergerak tipis negatif.

Sebaliknya, transportasi dan logistik menjadi sektor dengan penguatan terbesar sekitar 1,47%.

Properti naik sekitar 0,65% dan industri sekitar 0,54%.

Jadi, pelemahan IHSG terjadi ketika performa sektoral sebenarnya cukup beragam.

 

Asing Net Sell Rp216 Miliar

Arus dana asing juga memberikan tekanan.

Investor asing mencatat penjualan bersih atau net sell sekitar Rp216,24 miliar pada sesi pertama.

ANTM menjadi saham dengan net sell asing terbesar sekitar Rp100,62 miliar.

Kemudian BMRI sekitar Rp79,91 miliar, TLKM Rp53,47 miliar, BBCA Rp50,77 miliar, dan ADRO sekitar Rp17,13 miliar.

Namun, asing tidak menjual seluruh saham Indonesia.

TPIA, TINS, BBRI, COIN dan BULL masih mencatat pembelian bersih.

Ini menunjukkan adanya rotasi antar saham, bukan sekadar aksi keluar dari seluruh pasar.

 

Pasar Menunggu RDG Bank Indonesia

Sentimen domestik terbesar pekan ini adalah Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.

Kalender resmi BI menunjukkan RDG bulanan berlangsung pada 22–23 September 2026.

Pasar akan mencermati keputusan suku bunga serta pandangan BI mengenai inflasi, nilai tukar rupiah, arus modal dan kondisi ekonomi.

Menjelang keputusan tersebut, pelaku pasar cenderung sensitif terhadap perubahan rupiah dan yield global.

 

The Fed Baru Menaikkan Suku Bunga

Tekanan eksternal juga datang dari perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Federal Reserve pada 16 September menaikkan target Fed Funds Rate 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%.

Keputusan tersebut diambil dengan suara 12-0.

The Fed menyatakan aktivitas ekonomi masih berkembang solid, tetapi inflasi tetap tinggi.

Kenaikan tersebut menjadi pengetatan pertama dalam sekitar tiga tahun dan memperkuat perhatian pasar terhadap kemungkinan kenaikan berikutnya.

Bagi pasar negara berkembang, tingkat suku bunga AS yang lebih tinggi dapat memengaruhi dolar, yield obligasi, dan arus modal global.

 

Yield Treasury Masih Dekat 5%

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga masih berada dekat level 5%.

Pada perdagangan 21 September, yield tenor 10 tahun berada sekitar 4,97% setelah turun beberapa basis poin seiring melemahnya harga minyak.

Level yield yang tinggi dapat membuat aset pendapatan tetap AS lebih menarik bagi sebagian investor global.

Kondisi tersebut berpotensi menjadi tantangan bagi pasar saham dan mata uang emerging market.

 

BOJ Juga Naikkan Bunga

Federal Reserve bukan satu-satunya bank sentral yang memperketat kebijakan.

Bank of Japan pada 18 September menaikkan suku bunga menjadi 1,25%, tertinggi dalam 31 tahun.

Keputusannya disetujui dengan suara 7-2.

Langkah BOJ menambah gambaran bahwa pasar global sedang berhadapan dengan kebijakan moneter yang lebih ketat karena tekanan inflasi.

 

China Pertahankan LPR

China mengambil pendekatan berbeda.

Beijing mempertahankan Loan Prime Rate untuk bulan ke-16 berturut-turut.

LPR satu tahun tetap 3,00%, sementara tenor lima tahun dipertahankan 3,50%.

Keputusan itu sesuai dengan perkiraan pasar.

China menghadapi dilema antara kebutuhan mendorong permintaan domestik dan ruang pelonggaran yang semakin terbatas di tengah selisih yield dengan Amerika Serikat.

 

Minyak Masih di Area US$100

Harga energi juga menjadi faktor utama pasar.

Brent pada Senin turun sekitar 1,7% ke US$102,09 per barel, sementara WTI turun mendekati 2% menjadi sekitar US$98,33.

Jadi, formulasi “minyak berada di sekitar US$100 per barel” masih masuk akal untuk menggambarkan situasi pasar.

Namun arahnya pada 21 September sedang melemah.

Penurunan terjadi di tengah harapan diplomasi terkait konflik AS-Iran serta membaiknya sebagian arus minyak kawasan.

 

Serangan Houthi Tetap Jadi Risiko

Ketegangan Timur Tengah belum hilang.

Kelompok Houthi yang didukung Iran melakukan serangan terhadap sasaran di Riyadh serta fasilitas Saudi Aramco di Yanbu.

Meski demikian, arus ekspor minyak Saudi tetap relatif bertahan dan harga minyak justru turun ketika kekhawatiran terhadap gangguan pasokan berkurang.

Karena itu, lebih tepat menyebut sentimennya sebagai eskalasi Houthi-Saudi dan risiko konflik Timur Tengah, bukan menyatakan telah terjadi perang langsung Saudi-Houthi baru tanpa konteks.

 

Trump dan Xi Bertemu Pekan Ini

Agenda geopolitik besar lainnya adalah pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi Xi akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat pada 23–25 September 2026.

Trump dan Xi dijadwalkan bertemu pada Kamis, 24 September.

Pembicaraan diperkirakan mencakup hubungan perdagangan, rantai pasok, teknologi dan kecerdasan buatan serta sejumlah persoalan geopolitik.

Pasar akan mencermati apakah pembicaraan tersebut menghasilkan perubahan kebijakan yang konkret.

 

Bessent dan He Lifeng Sudah Bertemu

Sebelum pertemuan kepala negara, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng melakukan pembicaraan untuk mempersiapkan agenda ekonomi.

Reuters menyebut pertemuan mereka menjadi bagian dari persiapan menjelang KTT Trump-Xi, dengan isu perdagangan, teknologi, rantai pasok serta persoalan ekonomi bilateral menjadi bagian dari pembahasan.

Interaksi tersebut tidak menjamin terobosan.

Namun, bagi pasar, stabilitas hubungan dua ekonomi terbesar dunia dapat memengaruhi perdagangan, teknologi, komoditas dan selera risiko global.

 

Data AS Juga Masuk Radar

Investor juga akan memperoleh data baru dari Amerika Serikat.

U.S. Census Bureau menjadwalkan rilis durable goods orders Agustus pada Jumat, 25 September 2026.

Data pesanan barang tahan lama sering digunakan untuk membaca permintaan terhadap produk manufaktur berumur panjang dan kondisi investasi bisnis.

Angka yang jauh berbeda dari ekspektasi dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap ekonomi dan suku bunga AS.

 

Jadi, Kenapa IHSG Turun?

Tidak ada satu faktor tunggal.

Pada level saham, BYAN menjadi pemberat terbesar, disusul BBCA, TLKM, BBRI dan BMRI.

Pada level aliran dana, asing membukukan net sell sekitar Rp216 miliar.

Di sisi makro, pasar menghadapi kombinasi suku bunga global yang meningkat, yield Treasury dekat 5%, minyak sekitar US$100, ketegangan Timur Tengah serta penantian keputusan BI.

Namun, pasar Asia justru mayoritas menguat pada sesi yang sama.

Nikkei, Hang Seng, Shanghai, Kospi dan STI berada di zona positif pada pembaruan tengah hari.

Artinya, pelemahan IHSG juga mempunyai faktor domestik dan komposisi saham sendiri.

 

Kesimpulan

IHSG mengakhiri sesi pertama 21 September 2026 turun 0,27% ke 6.423,51.

BYAN menjadi pemberat terbesar dengan penurunan sekitar 3,6% dan kontribusi negatif sekitar 8,2 poin.

BBCA, TLKM, BBRI dan BMRI juga memberikan tekanan.

Investor asing mencatat net sell sekitar Rp216,24 miliar.

Namun, tidak semua sektor melemah. Energi justru masih naik tipis, sedangkan tekanan sektoral terbesar berasal dari infrastruktur, konsumer non-siklikal dan keuangan.

Pasar kini menghadapi pekan padat: RDG Bank Indonesia pada 22–23 September, efek kenaikan suku bunga Fed dan BOJ, harga minyak di sekitar US$100, rilis durable goods AS, serta pertemuan Trump-Xi pada 24 September.

Karena artikel ini menggunakan data sesi I, seluruh level harga dan foreign flow harus diperlakukan sebagai snapshot tengah hari dan bukan angka penutupan perdagangan 21 September.

 

 

 

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal, bukan rekomendasi personal untuk membeli, menjual atau mempertahankan saham tertentu.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.