Dari Sulit Meyakinkan Bank hingga 69,3 Juta Pengguna, Begini Perjalanan QRIS

Berita Terkini - Diposting pada 13 October 2026 Waktu baca 5 menit

Foto: Infografis/ Bukti Nyata QRIS Makin Powerful, Pantesan Amerika Takut!/ Ilham Restu

Dari Sulit Meyakinkan Bank hingga 69,3 Juta Pengguna, Begini Perjalanan QRIS

QRIS kini menjadi pemandangan biasa di Indonesia.

Dari restoran dan pusat perbelanjaan hingga warung serta pasar tradisional, pembayaran cukup dilakukan dengan memindai satu kode QR.

Namun perjalanan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS tidak dimulai semudah itu.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengenang bahwa ketika QRIS diperkenalkan pada 2019, sebagian bank sudah memiliki sistem dan kode QR masing-masing.

Bank Indonesia perlu meyakinkan industri bahwa satu standar nasional akan membuat sistem pembayaran lebih terhubung dan lebih praktis bagi pengguna maupun pedagang.

Tujuh tahun kemudian, skala QRIS telah berubah drastis.

Data terbaru Bank Indonesia mencatat 69,3 juta pengguna dan lebih dari 47 juta merchant, dengan sekitar 96,7% merchant merupakan UMKM.

 

QRIS Diluncurkan pada 17 Agustus 2019

Bank Indonesia secara resmi meluncurkan QRIS pada 17 Agustus 2019, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74.

Implementasi nasionalnya mulai efektif pada 1 Januari 2020 setelah industri diberikan masa transisi untuk mempersiapkan sistem.

Tujuan utamanya sederhana tetapi besar: membuat pembayaran berbasis QR tidak terpecah-pecah berdasarkan aplikasi atau penyedia.

Sebelum standardisasi, penyelenggara pembayaran dapat memiliki kode QR sendiri.

Hal tersebut berpotensi membuat merchant perlu menyediakan beberapa QR berbeda tergantung aplikasi yang digunakan konsumen.

QRIS mencoba menyederhanakan kondisi itu menjadi satu standar nasional.

 

Awalnya Tidak Mudah Meyakinkan Bank

Dalam wawancara yang dikutip pada 12 Oktober 2026, Destry menceritakan bahwa sejumlah bank ketika itu sudah memiliki QR masing-masing.

Karena itu, BI harus menjelaskan manfaat standardisasi kepada industri.

Pernyataan ini lebih tepat disebut sebagai tantangan memperoleh penerimaan dan menyatukan standar, bukan penolakan resmi industri perbankan.

Dokumen BI mengenai sejarah pengembangan QRIS juga mencatat bahwa sebelum standardisasi, bank dan perusahaan teknologi finansial memang mengembangkan metode pembayaran QR secara terpisah.

Dengan QRIS, penyedia pembayaran kemudian bergerak menuju standar bersama.

 

Dari 67 Juta dalam Wawancara, Data BI Sudah 69,3 Juta

Destry dalam wawancaranya menyebut QRIS sudah mencapai 67 juta pengguna dan 46,7 juta merchant, dengan sekitar 96% merchant berasal dari kelompok UMKM.

Namun angka ini sebaiknya dibedakan dari statistik resmi BI yang lebih mutakhir.

Publikasi terbaru BI mencatat QRIS sudah menjangkau 69,3 juta pengguna dan lebih dari 47 juta merchant, dengan 96,7% merchant merupakan UMKM.

Perbedaan tersebut kemungkinan mencerminkan waktu pengambilan data yang berbeda.

Karena jumlah pengguna dan merchant terus berkembang, artikel yang menggunakan angka QRIS sebaiknya selalu menyertakan tanggal atau periode datanya.

 

UMKM Menjadi Basis Terbesar QRIS

Dominasi UMKM dalam jaringan merchant menjadi salah satu bagian penting dari pertumbuhan QRIS.

Dengan lebih dari 96% merchant berasal dari kelompok UMKM, QRIS tidak hanya tumbuh di bisnis besar.

Warung, toko kecil, pedagang makanan, hingga usaha pasar tradisional dapat menerima pembayaran digital tanpa harus menyediakan mesin kartu untuk setiap jaringan pembayaran.

Destry juga menyoroti perubahan perilaku tersebut.

Menurutnya, penggunaan QRIS kini semakin terlihat di pasar-pasar tradisional, menunjukkan bahwa preferensi sebagian konsumen dan pedagang mulai bergeser menuju pembayaran digital.

Namun itu tidak berarti semua transaksi masyarakat telah berubah menjadi digital.

Tunai masih tetap digunakan luas dan sah sebagai alat pembayaran.

 

Kenapa Standardisasi Begitu Penting?

Keunggulan utama QRIS bukan sekadar bentuk kode QR.

Nilai strategisnya justru terletak pada interoperabilitas.

Bank Indonesia menyusun QRIS bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia menggunakan standar internasional EMVCo untuk memungkinkan interkoneksi antarpelaku, instrumen, dan penyedia pembayaran.

Bagi konsumen, satu aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS dapat digunakan di berbagai merchant.

Bagi merchant, satu QR dapat menerima pembayaran dari beragam penyedia yang sudah terhubung dalam ekosistem.

Model ini mengurangi kebutuhan membuat kode berbeda untuk setiap aplikasi.

 

Dari Domestik ke Pembayaran Antarnegara

Ekspansi QRIS kemudian bergerak melampaui Indonesia.

Bank Indonesia mengembangkan QRIS Antarnegara, yang memungkinkan masyarakat Indonesia menggunakan aplikasi pembayaran domestiknya ketika berada di negara mitra.

Sebaliknya, wisatawan dari negara mitra dapat melakukan pembayaran di Indonesia menggunakan aplikasi asal negaranya.

Transaksi juga dirancang menggunakan mekanisme konversi mata uang lokal, sehingga tidak selalu bergantung pada penggunaan mata uang pihak ketiga.

 

Sudah Terhubung dengan Enam Negara, Bukan Tujuh

Bagian ini perlu dikoreksi dari materi awal.

Hingga Agustus 2026, Bank Indonesia menyatakan QRIS Antarnegara telah aktif dengan enam negara mitra:

Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Jadi, Timor-Leste belum seharusnya dihitung sebagai negara ketujuh yang sudah aktif.

 

Timor-Leste Masih Tahap Pengembangan

Pada 25 September 2026, Bank Indonesia dan Banco Central de Timor-Leste memang telah menandatangani nota kesepahaman mengenai sistem pembayaran dan inovasi keuangan digital.

Namun dokumen resmi BI menyatakan kerja sama tersebut menjadi fondasi untuk menjajaki QRIS Antarnegara, bukan konfirmasi bahwa konektivitas QRIS Indonesia–Timor-Leste telah aktif.

Dengan demikian, formulasi yang lebih tepat adalah:

QRIS telah terhubung dengan enam negara, sedangkan Timor-Leste sedang dipersiapkan atau dijajaki sebagai mitra berikutnya.

Destry juga menyebut India dan Timor-Leste sebagai wilayah yang ingin dijangkau dalam pengembangan berikutnya.

 

Korea Selatan Bergabung pada 2026

Salah satu ekspansi terbaru adalah Korea Selatan.

Bank Indonesia dan Bank of Korea secara resmi meluncurkan konektivitas pembayaran QR Indonesia–Korea Selatan pada 1 April 2026.

Masyarakat Indonesia dapat menggunakan aplikasi pembayaran domestik yang berpartisipasi untuk melakukan transaksi QR di Korea Selatan.

Peluncuran tersebut mengikuti konektivitas yang sebelumnya dibangun dengan Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang.

Tiongkok kemudian turut masuk dalam jaringan aktif pada 2026.

 

Transaksi QRIS Masih Tumbuh Cepat

Jumlah pengguna bukan satu-satunya indikator.

Data BI menunjukkan volume transaksi QRIS pada Agustus 2026 tumbuh sekitar 67,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut terjadi ketika volume pembayaran digital Indonesia secara keseluruhan mencapai 6,11 miliar transaksi pada bulan tersebut.

Artinya, ekspansi QRIS bukan hanya soal bertambahnya akun pengguna.

Frekuensi penggunaan sistem pembayaran digital juga masih meningkat.

 

Dari Infrastruktur Pembayaran Menjadi Infrastruktur Ekonomi

Perjalanan QRIS menggambarkan bagaimana standardisasi teknis dapat berkembang menjadi infrastruktur ekonomi yang digunakan secara luas.

Pada awalnya, tantangannya adalah menyatukan banyak penyelenggara dengan sistem mereka masing-masing.

Kini tantangannya berbeda.

Semakin banyak pengguna berarti kebutuhan keamanan, keandalan sistem, interoperabilitas, perlindungan konsumen, dan edukasi juga semakin besar.

Destry sendiri menekankan pentingnya memastikan nama penerima sebelum menyelesaikan pembayaran QRIS dan meningkatkan kesadaran keamanan pengguna.

Pertumbuhan tanpa keamanan justru dapat menciptakan risiko baru.

 

Kesimpulan

QRIS diluncurkan Bank Indonesia pada 17 Agustus 2019 ketika ekosistem pembayaran QR Indonesia masih terfragmentasi dan sebagian bank telah memiliki kode QR sendiri.

BI kemudian mendorong penggunaan satu standar nasional agar pembayaran lebih interoperabel.

Dalam wawancara terbaru, Destry Damayanti mengenang proses awal tersebut dan menyebut QRIS telah mencapai 67 juta pengguna dan 46,7 juta merchant.

Namun data resmi BI yang lebih baru menunjukkan jumlahnya sudah mencapai 69,3 juta pengguna dan lebih dari 47 juta merchant, dengan 96,7% merchant merupakan UMKM.

Ekspansi juga telah bergerak lintas negara.

Hingga Agustus 2026, QRIS Antarnegara sudah aktif dengan enam negara mitra: Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Timor-Leste belum masuk daftar aktif karena kerja samanya masih berada pada tahap penjajakan dan pengembangan.

Dari sistem yang awalnya harus menyatukan banyak QR berbeda, QRIS kini telah menjadi salah satu infrastruktur pembayaran digital terbesar di Indonesia.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.