Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 16 March 2024 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - Presiden Joko Widodo (Jokowi) nampaknya khawatir dengan berakhirnya masa jabatannya. Tidak lain adalah situasi perekonomian Indonesia. Ia mencontohkan, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkisar 5%, namun jumlah uang beredar semakin menipis. Menurut Jokowi, permasalahan tersebut muncul karena Kementerian Keuangan (Kemengkeu) dan BI terlalu banyak menerbitkan surat berharga: Surat Berharga Negara (SBN), Surat Berharga Bank Rupiah (SRBI), dan Surat Berharga Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI).
“Kalaupun boleh, yang saya sampaikan ke BI dan SBN adalah jangan membeli terlalu banyak, supaya sektor riil terlihat lebih baik dibandingkan tahun lalu.” Kantor Jakarta disebutkan sebelumnya. Sebagai referensi, berdasarkan data BI, posisi M2 pada Desember 2023 sebesar Rp 8.824,7 triliun, meningkat 3,5% year-on-year. Laju pertumbuhan ini masih jauh dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan September yang mencapai 6% year-on-year.
Salah satu faktornya adalah kenaikan dana pihak ketiga (DPK). Pada Desember 2023, DPK meningkat 3,8% dari tahun sebelumnya menjadi Rp8.234,2 triliun, sedangkan pinjaman meningkat 10,38% dari tahun sebelumnya menjadi Rp7.044,8 triliun.
Bahkan, laju pertumbuhan DPK lebih tinggi dibandingkan November 2023 (3,04%) dan Oktober 2023 (3,43%). Namun jika melihat situasi pada bulan Desember atau akhir tahun, pertumbuhan tersebut merupakan yang terendah sejak tahun 1999, atau dalam 24 tahun terakhir.
Secara terpisah, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kapasitas likuiditas perbankan untuk mendukung pertumbuhan kredit masih relatif besar. “Bank memiliki likuiditas lebih dari cukup,” katanya. Ia memastikan arah kebijakan pada tahun 2024 tetap menjaga kecukupan likuiditas bagi perbankan. Tujuannya adalah untuk terus mengamankan penjualan kredit dan pembiayaan. Selanjutnya, kebijakan pelonggaran likuiditas telah dilakukan sejak tahun 2023 dan akan berlanjut hingga tahun 2024, ujarnya. Namun, dia mengingatkan agar likuiditas yang melimpah tidak hanya digunakan untuk membeli atau menyimpan Surat Berharga Negara (SBN).
“Selama perbankan bersedia mengambil kembali kepemilikan SBN-nya tanpa terlantar, kami pastikan likuiditasnya lebih dari cukup,” kata Perry saat peluncuran Survei Perekonomian Indonesia 2023 di Jakarta pada Januari tahun lalu. ," dia berkata.
Taswin Zakaria, Direktur Utama PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII), mengatakan pihaknya fokus membeli SBN, SRBI, dan SVBI karena likuiditas sangat diperlukan untuk ekspansi kredit. "Sebenarnya kami tidak fokus membeli SRBI SVBI karena kami sangat membutuhkan likuiditas yang ada untuk ekspansi penyaluran kredit. Jadi menurut kami itu arah yang tepat," kata Taswin.
Ia mengatakan Maybank Indonesia menargetkan tingkat pertumbuhan kredit sebesar 10-12% pada tahun 2024. Pada September 2023, Maybank Indonesia menyalurkan pinjaman dan pinjaman syariah senilai Rp 112,42 triliun, meningkat hampir 1% year-on-year. Surat berharga pada periode yang sama meningkat 12,87% dari tahun sebelumnya menjadi Rp29,43 triliun.
Berdasarkan data terkini Otoritas Jasa Keuangan (OJK), surat berharga yang dimiliki perbankan mencapai Rp 1.970 triliun per November 2023, meningkat 5,4% year-on-year. Oleh karena itu, tingkat pertumbuhan industri surat berharga secara keseluruhan masih lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran kredit.
Rinciannya, surat berharga bank pelat merah mengalami penurunan sebesar 6,1% year-on-year menjadi Rp756 triliun. Pada periode yang sama, jumlah pinjaman bank swasta meningkat 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp 2.573 triliun (per November 2023). Pada periode yang sama, surat berharga bank swasta semakin meningkat hingga mencapai Rp 963 triliun, meningkat 12,6% year-on-year.
DPK perbankan swasta pada November 2023 mencapai Rp 3.666 triliun, meningkat 3,7% year-on-year. Selanjutnya, pertumbuhan pinjaman Bank Pembangunan Daerah (BPD) mencapai 7,9% year-on-year, dan surat-surat berharga meningkat sebesar 1,2% year-on-year.
Perbedaan pertumbuhan antara penyaluran kredit dan kepemilikan surat berharga terjadi pada cabang bank yang berbasis di luar negeri. Distribusi pinjaman kelompok perbankan menurun sebesar 9% tahun ke tahun, sementara surat berharga meningkat sebesar 53% tahun ke tahun. Namun DPK bank asing menyusut 6,9% year-on-year menjadi Rp 245 triliun.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.