Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 29 May 2025 Waktu baca 5 menit
Perusahaan industri di China mencatat peningkatan laba yang lebih pesat pada April 2025, seiring dengan keberhasilan program tukar tambah dari pemerintah yang mendorong permintaan terhadap produk manufaktur, meskipun industri masih menghadapi tekanan dari tarif impor yang lebih tinggi dari Amerika Serikat.
Berdasarkan data dari Biro Statistik Nasional (NBS) yang dikutip oleh Bloomberg pada Selasa, 27 Mei 2025, laba industri naik sebesar 3% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada April, meningkat dari pertumbuhan 2,6% yang tercatat pada Maret 2025. Dalam periode Januari hingga April, laba sektor industri meningkat 1,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Ekspor luar negeri pada April masih mengalami hambatan karena eksportir China berusaha mengalihkan penjualan ke pasar alternatif sebagai respons terhadap lonjakan tarif dari AS yang sempat mencapai hingga 145% sebelum diberlakukan masa tenggang selama 90 hari.
Sektor manufaktur tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan laba di antara sektor industri lainnya. NBS melaporkan bahwa laba produsen manufaktur meningkat 8,6% dalam empat bulan pertama tahun ini, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan sebesar 26,8% yang dialami oleh sektor pertambangan dan pertumbuhan 4,4% pada sektor utilitas.
Meski demikian, margin keuntungan perusahaan industri masih tertekan akibat persaingan harga yang ketat dan ancaman deflasi. Menurut data NBS, pertumbuhan laba bulanan tetap lebih rendah dibandingkan laju kenaikan output industri.
Selain itu, peningkatan laba operasional selama Januari hingga April tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya operasional perusahaan. Peningkatan profit menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha, yang dapat mendorong minat investasi dan perekrutan tenaga kerja. Bloomberg Economics sebelumnya memperkirakan laba industri pada April akan turun 1,5% secara tahunan.
Kondisi keuangan perusahaan yang semakin solid dapat mengurangi kebutuhan akan stimulus tambahan dari pemerintah pusat guna mencapai target pertumbuhan ekonomi tahunan sekitar 5%.
Pendekatan kebijakan yang lebih hati-hati kini semakin memungkinkan, setelah adanya kesepakatan gencatan senjata antara China dan AS dalam perang dagang pada awal bulan ini, serta tanda-tanda bahwa perekonomian terbesar kedua di dunia ini mulai menunjukkan ketahanan.
Perusahaan industri di China memperoleh keuntungan dari kebijakan subsidi pemerintah yang mendorong sektor bisnis dan rumah tangga untuk mengganti atau meningkatkan peralatan serta barang konsumsi mereka.
Dampak dari kebijakan ini terlihat pada lonjakan pertumbuhan investasi dalam pembelian alat dan instrumen pada empat bulan pertama 2025, yang menjadi yang tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir, dan kemungkinan besar turut mendorong permintaan terhadap produk-produk industri.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.