Crypto News
Bitcoin Surges Past Rp1.17 Billion-What Is Driving the Rally?
/index.php
Edukasi - Posted on 26 August 2022 Reading time 5 minutes
Cryptocurrency menjadi populer di Afghanistan tahun lalu ketika ekonomi negara tersebut mendapat masalah di tengah-tengah kelompok Taliban mengambil alih Afghanistan pada Mei 2021. Setelah Taliban berkuasa, AS memberlakukan sanksi yang membuat pembelian crypto menjadi sulit, dan otoritas barat menghentikan miliaran aset negara.
Setelah banyak hal berubah dan bank sentral negara itu melarang penggunaan cryptocurrency tiga bulan lalu, polisi negara bagian memulai tindakan keras terhadap platform dan bisnis layanan crypto, memaksa mereka untuk menghentikan operasi terkait crypto.
Outlet media lokal negara itu, Arian News melaporkan bahwa pasukan keamanan telah menutup 16 pertukaran crypto di provinsi Herat barat Afghanistan selama seminggu terakhir dan menangkap karyawan mereka juga. Tidak hanya itu, polisi menghentikan bisnis dan toko crypto lokal karena penggunaan aset digital telah dinyatakan ilegal.
Kepala unit kontra-kejahatan polisi Herat, Sayed Shah Sa'adat, mengatakan :
“Bank Da Afghanistan (bank sentral) menyatakan dalam sebuah surat bahwa perdagangan mata uang digital telah menyebabkan banyak masalah dan menipu orang, oleh karena itu mereka harus ditutup. Kami bertindak dan menangkap semua yang terlibat dalam bisnis dan menutup gerai mereka.”
Warga Afghanistan Meminta Pemerintah Untuk Mengatur Cryptocurrency
Menurut laporan Bloomberg pada 28 Juni 2022, Bank Sentral Afghanistan melarang perdagangan valuta asing online dengan menyebutnya “ilegal dan curang, dan tidak ada instruksi dalam hukum Islam untuk menyetujuinya.”
Meskipun minat kripto di wilayah tersebut meningkat, sanksi AS mempersulit pembelian kripto untuk warga Afghanistan. Taliban mengambil alih Afghanistan, membuat ekonomi berantakan, bank-bank seperti platform tidak dapat menayangkan iklan asing, dan orang-orang tidak memiliki uang di tangan mereka. Cryptocurrency muncul sebagai sumber bagi warga Afghanistan untuk bertahan hidup dalam situasi panik.
Sesuai laporan Global Crypto Adoption Index tahun 2021 oleh perusahaan riset blockchain Chainalysis, meningkatnya minat crypto membawa Afghanistan ke 20 negara teratas, dengan cepat mengadopsi mata uang digital tepat sebelum Taliban mengambil alih. Demikian juga, data google juga mewakili peningkatan pencarian Bitcoin dan Crypto.
Referensi :
https://bitcoinist.com/afghan-police-shut-down-16-crypto-exchange/
What do you think about this topic? Tell us what you think. Don't forget to follow Digivestasi's Instagram, TikTok, Youtube accounts to keep you updated with the latest information about economics, finance, digital technology and digital asset investment.
DISCLAIMER
All information contained on our website is summarized from reliable sources and published in good faith and for the purpose of providing general information only. Any action taken by readers on information from this site is their own responsibility.