Saham News
IHSG Anjlok 14,91%, Nilai Bursa Susut Rp1.544 Triliun
/index.php
Saham News - Diposting pada 17 October 2026 Waktu baca 5 menit
Jakarta, 17 Oktober 2026 — Rencana Danantara membawa sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2027 kembali menghidupkan perhatian terhadap sejarah penawaran saham perdana perusahaan pelat merah.
Dalam daftar sepuluh emiten BUMN dan anak usahanya yang dihimpun dari data penawaran perdana, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) mencatat nilai IPO paling besar, mencapai sekitar Rp18,34 triliun pada 2021.
Posisi berikutnya ditempati PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), perusahaan energi panas bumi dalam kelompok Pertamina, dengan nilai penawaran sekitar Rp9,06 triliun pada 2023.
Kedua IPO tersebut menunjukkan bahwa pasar modal telah menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi pengembangan perusahaan yang berada dalam ekosistem usaha milik negara.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, pada Rabu (7/10/2026) mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan sedang diidentifikasi untuk berpotensi melantai di bursa tahun depan.
Kajian mencakup perusahaan dari sektor finansial, infrastruktur, hingga pertambangan.
Menurut Rosan, Danantara mempertimbangkan kesiapan perusahaan, prospek usaha, serta penerimaan investor terhadap rencana penawaran saham perdana tersebut.
Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah kandidat diharapkan dapat dikonfirmasi sebelum akhir 2026.
Meski demikian, sampai 17 Oktober 2026 belum terdapat daftar final yang diumumkan secara resmi mengenai BUMN yang akan IPO pada 2027.
Rencana tersebut masih bergantung pada proses evaluasi dan persiapan masing-masing perusahaan.
Bagi Danantara, pembukaan akses kepemilikan kepada investor publik tidak hanya berkaitan dengan pencarian pendanaan. Status sebagai perusahaan terbuka juga dapat memperluas pengawasan, meningkatkan keterbukaan informasi, dan memperkuat akuntabilitas manajemen.
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel menjadi pemimpin dalam daftar IPO BUMN dan anak usahanya yang dibandingkan.
Perusahaan berkode saham MTEL tersebut resmi melantai di BEI pada 22 November 2021.
Ketika IPO, Mitratel menawarkan 22.920.512.000 saham dengan harga Rp800 per saham. Perkalian jumlah saham dan harga penawaran menghasilkan nilai sekitar Rp18,34 triliun.
Mitratel bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi, khususnya menara dan fasilitas pendukung jaringan.
Perusahaan ini merupakan anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Nilai IPO Mitratel memperlihatkan besarnya kapasitas penghimpunan dana di pasar modal untuk perusahaan infrastruktur digital.
Namun, nilai penawaran yang besar bukan ukuran langsung keberhasilan investasi saham setelah pencatatan. Kinerja harga tetap bergantung pada kondisi pasar, perkembangan bisnis, dan penilaian investor.
Di posisi kedua terdapat PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), yang resmi tercatat pada 24 Februari 2023.
Perusahaan menawarkan 10,35 miliar saham pada harga Rp875 per saham, sehingga nilai bruto IPO mencapai sekitar Rp9,06 triliun.
PGEO berfokus pada pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi untuk mendukung produksi energi.
Sebagai perusahaan dalam kelompok usaha Pertamina, PGEO menjadi salah satu contoh bagaimana bisnis energi milik negara memperoleh akses pendanaan melalui pasar modal.
Pencatatan PGEO juga menjadi IPO terbaru di antara sepuluh perusahaan dalam daftar ini.
Hingga Oktober 2026, rencana IPO BUMN pada 2027 masih belum memiliki daftar final emiten berikutnya.
PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) berada pada urutan ketiga dengan nilai IPO sekitar Rp5,17 triliun.
Anak usaha Waskita Karya tersebut mencatatkan saham pada 20 September 2016.
Dalam IPO-nya, WSBP menawarkan sekitar 10,54 miliar saham pada harga Rp490 per saham.
Perusahaan bergerak di bidang beton pracetak dan produk pendukung proyek konstruksi.
Di urutan keempat, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan nilai penawaran sekitar Rp4,75 triliun.
Maskapai nasional tersebut melantai pada 11 Februari 2011 dengan menawarkan sekitar 6,34 miliar saham seharga Rp750 per saham.
Kedua perusahaan memiliki bidang usaha berbeda, tetapi sama-sama menggunakan pasar modal sebagai bagian dari struktur pendanaan dan kepemilikan perusahaan.
Perlu dicatat, nilai IPO historis tidak menggambarkan kondisi keuangan terbaru kedua emiten.
Posisi kelima ditempati PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) dengan nilai IPO Rp3,47 triliun.
Operator jalan tol tersebut mencatatkan sahamnya di bursa pada 12 November 2007 dengan menawarkan 2,04 miliar saham pada harga Rp1.700 per saham.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyusul dengan nilai penawaran sekitar Rp3,33 triliun menurut laporan historis perusahaan.
Pada IPO 2003, BRI menawarkan sekitar 3,81 miliar saham dengan harga Rp875 per saham.
Penawaran BRI mencakup saham baru dan saham yang dilepas oleh pemegang saham lama. Karena itu, nilai total transaksi penawaran tidak identik dengan seluruh dana baru yang masuk ke perusahaan.
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) berada pada urutan berikutnya.
Perusahaan baja tersebut mencatatkan saham pada 10 November 2010 dengan menawarkan sekitar 3,155 miliar saham seharga Rp850 per saham.
Nilai bruto penawarannya mencapai Rp2,68 triliun.
Kehadiran ketiga emiten tersebut memperlihatkan bahwa IPO BUMN telah berlangsung di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur transportasi dan perbankan hingga industri baja.
Tiga perusahaan berikutnya adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Menurut data historis IPO yang ditelusuri, Bank Mandiri menawarkan sekitar 2,9 miliar saham pada harga Rp675 per saham ketika mencatatkan sahamnya pada 14 Juli 2003.
Dengan dasar tersebut, nilai IPO Bank Mandiri mencapai sekitar Rp1,96 triliun.
PGAS, yang kini berada dalam kelompok usaha Pertamina, mencatatkan saham pada 15 Desember 2003.
Perusahaan gas bumi tersebut menawarkan sekitar 1,296 miliar saham pada harga Rp1.500 per saham, sehingga nilai penawarannya mencapai Rp1,94 triliun.
Sementara itu, Telkom Indonesia menjadi emiten dengan tahun IPO paling awal dalam daftar, yakni 14 November 1995.
Perusahaan telekomunikasi tersebut menawarkan sekitar 933,33 juta saham dengan harga Rp2.050 per saham, setara nilai penawaran sekitar Rp1,91 triliun.
Berikut sepuluh emiten BUMN dan anak usahanya berdasarkan nilai bruto IPO historis yang diperbandingkan.
| Peringkat | Emiten | Tahun | Nilai IPO |
|---|---|---|---|
| 1 | MTEL | 2021 | Rp18,34 triliun |
| 2 | PGEO | 2023 | Rp9,06 triliun |
| 3 | WSBP | 2016 | Rp5,17 triliun |
| 4 | GIAA | 2011 | Rp4,75 triliun |
| 5 | JSMR | 2007 | Rp3,47 triliun |
| 6 | BBRI | 2003 | Rp3,33 triliun |
| 7 | KRAS | 2010 | Rp2,68 triliun |
| 8 | BMRI | 2003 | Rp1,96 triliun |
| 9 | PGAS | 2003 | Rp1,94 triliun |
| 10 | TLKM | 1995 | Rp1,91 triliun |
Peringkat ini merupakan perbandingan sepuluh emiten yang ditelusuri, bukan klaim bahwa seluruh IPO BUMN dalam sejarah BEI telah diaudit secara menyeluruh.
Terdapat perbedaan pencatatan jumlah saham historis BBRI pada basis data sekunder. Angka yang digunakan di sini mengikuti jumlah saham IPO yang dinyatakan dalam laporan tahunan perusahaan.
Meski sering disebut dalam satu kelompok, tidak semua perusahaan dalam daftar merupakan BUMN yang sahamnya dimiliki langsung oleh negara.
BBRI, BMRI, JSMR, GIAA, KRAS, dan TLKM tercatat sebagai emiten BUMN secara langsung dalam konteks sejarah IPO mereka.
Sementara itu, MTEL merupakan anak usaha Telkom, WSBP berasal dari kelompok usaha Waskita Karya, serta PGEO dan PGAS berada dalam ekosistem Pertamina.
Perbedaan tersebut penting karena struktur kepemilikan menentukan hubungan perusahaan dengan induk usaha serta pemegang saham lainnya.
Investor perlu memahami struktur grup, bukan hanya label BUMN yang melekat pada suatu saham.
Nilai IPO sebuah perusahaan terutama bergantung pada jumlah saham yang ditawarkan dan harga penawaran akhirnya.
Karena itu, belum ada dasar yang cukup untuk memastikan besaran dana yang akan dihimpun dari rencana IPO BUMN pada 2027.
Angka historis MTEL dan PGEO dapat memberikan gambaran mengenai skala penawaran yang pernah dilakukan, tetapi bukan proyeksi untuk perusahaan berikutnya.
Selain itu, perusahaan yang akan IPO perlu memenuhi persyaratan pasar modal, menyiapkan laporan keuangan, menyampaikan prospektus, dan mengikuti proses penawaran sesuai ketentuan.
Bagi investor, skala penawaran hanya salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Prospek bisnis, kondisi keuangan, valuasi, penggunaan dana hasil IPO, dan risiko usaha tetap menjadi bagian penting dalam penilaian.
Rencana Danantara memperluas pencatatan perusahaan pada 2027 dapat membuka babak baru bagi pasar modal Indonesia apabila benar-benar terlaksana.
Pengalaman Mitratel, Pertamina Geothermal Energy, dan perusahaan BUMN lainnya menunjukkan bahwa pasar saham dapat menjadi jalur pembiayaan dalam skala triliunan rupiah.
Namun, keberhasilan IPO tidak dapat dinilai dari besarnya dana penawaran saja.
Kualitas perusahaan setelah melantai, keterbukaan manajemen, pengelolaan dana, dan penciptaan nilai jangka panjang tetap menjadi faktor yang menentukan manfaatnya bagi perusahaan maupun pemegang saham publik.
Menurut kamu, sektor BUMN mana yang paling menarik untuk dikaji apabila Danantara benar-benar menghadirkan IPO baru pada 2027: perbankan, infrastruktur, atau pertambangan?
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi dan edukasi mengenai IPO dan pasar modal. Nilai IPO merupakan data historis, bukan indikator potensi keuntungan investasi. Konten ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.