Saham News
JCI Closes 1.56% Higher Despite Weak Asian Markets-What Drove the Rally?
/index.php
Teknologi Terkini - Posted on 30 July 2026 Reading time 5 minutes
Perkembangan kecerdasan buatan dinilai Elon Musk telah memasuki fase yang sulit dihentikan. Pendiri xAI tersebut memperkirakan kemampuan gabungan seluruh sistem AI dapat melampaui total kecerdasan manusia dalam waktu sekitar lima tahun.
Dalam satu dekade, kesenjangan kemampuan itu menurut Musk bisa menjadi begitu lebar sehingga manusia tidak lagi menjadi pihak yang menentukan arah teknologi. Ia menggambarkan situasinya melalui perbandingan antara manusia dan simpanse: ketika perbedaan kecerdasannya terlalu besar, pihak yang lebih lemah hampir tidak mungkin menjadi pengendali.
Prediksi tersebut menjadi salah satu bagian paling mencolok dalam wawancara panjang Musk bersama Zanny Minton Beddoes. Di satu sisi, ia kembali mengangkat risiko hilangnya kendali manusia. Di sisi lain, ia justru menyampaikan pandangan yang lebih optimistis daripada peringatan-peringatannya beberapa tahun lalu.
Musk tidak membayangkan perubahan hanya terjadi melalui chatbot atau perangkat lunak.
Menurutnya, AI akan menjadi bentuk kecerdasan digital yang kemudian memperoleh kemampuan bertindak di dunia fisik melalui robot humanoid. Ketika sistem yang sangat cerdas dapat mengoperasikan jutaan mesin, produksi barang dan penyediaan jasa berpotensi meningkat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia memperkirakan kombinasi AI dan robotika dapat menciptakan ekonomi yang hampir tidak memiliki batas produksi. Dalam skenario tersebut, makanan, tempat tinggal, transportasi, hiburan, dan layanan lain dapat tersedia dalam jumlah jauh lebih besar daripada kebutuhan manusia.
Musk menyebut hasil yang paling mungkin sebagai era kelimpahan luar biasa. Ia bahkan memprediksi uang dapat kehilangan banyak fungsi ekonominya pada 2036 apabila barang dan jasa menjadi sangat mudah diproduksi.
Namun, gambaran itu bergantung pada sejumlah asumsi besar: robot harus dapat beroperasi dengan biaya rendah, energi dan cip tersedia dalam jumlah memadai, sistem distribusi berjalan efektif, serta kepemilikan teknologinya tidak terkonsentrasi pada segelintir perusahaan atau negara.
Musk sebelumnya dikenal sebagai salah satu tokoh teknologi yang paling sering memperingatkan ancaman eksistensial AI.
Ia pernah mendukung seruan penghentian sementara pelatihan sistem AI paling kuat dan menerima kemungkinan bahwa teknologi ini dapat menyebabkan kehancuran manusia. Dalam wawancara terbaru, Musk tidak mencabut kekhawatiran tersebut, tetapi mengakui bahwa ia tidak lagi melihat cara realistis untuk menghentikan perlombaan global.
Kesimpulannya kini lebih pragmatis: risiko tetap ada, tetapi momentum pengembangan AI dan robotika sudah terlalu besar. Bahkan apabila tersedia “tombol berhenti”, ia belum tentu memilih untuk menekannya karena potensi manfaat akhirnya juga sangat besar.
Perubahan tersebut bukan berarti Musk menganggap AI aman. Ia lebih terlihat menerima bahwa perlombaan akan berlanjut, sehingga fokus perlu dialihkan dari upaya menghentikan teknologi menuju cara mengurangi peluang terjadinya hasil yang berbahaya.
Untuk menekan risiko, Musk mengusulkan mekanisme pengawasan awal yang dijalankan oleh perusahaan-perusahaan AI terdepan.
Laboratorium seperti xAI, OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, serta pengembang terkemuka dari China dapat mengadakan pertemuan rutin mengenai keamanan. Sebelum model frontier diluncurkan, pesaing diberi akses terbatas selama satu atau dua pekan untuk melakukan pengujian melalui antarmuka yang terkendali.
Tujuannya bukan menyerahkan kode sumber atau rahasia dagang. Para penguji cukup memperoleh akses yang memungkinkan mereka mencari kemampuan berbahaya, seperti serangan siber tingkat lanjut, manipulasi, penipuan, penghindaran pengawasan, atau kemampuan bertindak secara otonom.
Jika penguji menemukan risiko besar, mereka dapat merekomendasikan penundaan peluncuran. Pemerintah baru turun tangan apabila pengembang mengabaikan temuan tersebut dan tetap berniat merilis model berbahaya.
Usulan itu sejalan dengan berkembangnya penelitian mengenai evaluasi eksternal model frontier. Peneliti menilai akses yang terlalu terbatas, informasi yang tidak memadai, dan waktu pengujian yang sempit dapat membuat evaluator gagal menemukan kemampuan berbahaya sebelum peluncuran.
Meski demikian, pengawasan antarpesaing juga menghadapi persoalan konflik kepentingan. Sebuah perusahaan dapat memiliki alasan keamanan yang sah untuk meminta penundaan, tetapi juga mempunyai keuntungan komersial apabila produk pesaing terlambat memasuki pasar.
Seruan kolaborasi tidak mengakhiri ketegangan Musk dengan CEO OpenAI Sam Altman.
Musk kembali menuduh OpenAI meninggalkan tujuan awalnya sebagai organisasi nirlaba yang mengembangkan AI untuk kepentingan luas. Dalam wawancara tersebut, ia menggambarkan OpenAI sebagai perusahaan tertutup bernilai US$800 miliar. Angka itu merupakan pernyataan Musk dalam wawancara dan tidak sebaiknya diperlakukan sebagai valuasi independen yang telah dikonfirmasi.
Perselisihan keduanya telah dibawa ke pengadilan. Musk menuntut sekitar US$150 miliar dan meminta perubahan besar pada kepemimpinan OpenAI. Juri California menolak klaimnya pada Mei 2026 setelah menyimpulkan bahwa ia menunggu terlalu lama untuk mengajukan perkara tersebut.
OpenAI sendiri menyatakan gugatan dan serangan publik Musk tidak berdasar serta dipengaruhi persaingan bisnis. Pernyataan tersebut merupakan posisi resmi OpenAI dan berbeda dari penjelasan yang disampaikan Musk.
Berbeda dengan sikapnya terhadap Altman, Musk memberikan penilaian lebih positif kepada CEO Anthropic Dario Amodei.
Ia menyebut Amodei sebagai sosok yang berprinsip dan peduli terhadap masa depan manusia. Musk juga mengklaim tim pendiri Anthropic meninggalkan OpenAI karena tidak lagi mempercayai kepemimpinan Altman. Namun, penjelasan mengenai motif pendirian Anthropic tersebut merupakan interpretasi Musk, bukan temuan independen yang dibuktikan dalam wawancara.
Musk tetap mengkritik cara Anthropic mengomunikasikan bahaya modelnya. Ia menilai perusahaan dapat menimbulkan kepanikan apabila terlebih dahulu menggambarkan sebuah model sebagai sangat berbahaya, kemudian tetap merilisnya.
Kritik serupa sebelumnya datang dari Altman. Ia menuduh Anthropic menggunakan pemasaran berbasis ketakutan ketika mempromosikan kemampuan keamanan siber Claude Mythos. Anthropic membatasi akses model tersebut karena menilai kemampuannya dapat dimanfaatkan untuk serangan maupun pertahanan siber.
Perkiraan bahwa AI melampaui seluruh kecerdasan manusia pada 2031 belum dapat dipastikan.
Tidak ada satu ukuran universal yang dapat menjumlahkan seluruh kecerdasan manusia dan membandingkannya dengan mesin. Kemampuan AI juga tidak berkembang secara merata: suatu model dapat sangat unggul dalam pemrograman atau analisis data, tetapi tetap gagal memahami konteks dunia nyata, beradaptasi dengan kejadian baru, atau bertindak dengan aman dalam lingkungan fisik.
Hambatan energi, pasokan cip, kualitas data, biaya pusat data, regulasi, dan keterbatasan algoritma juga dapat memperlambat perkembangan.
Namun, prediksi Musk tetap penting karena menunjukkan cara salah satu pemimpin laboratorium AI frontier memandang arah teknologi. Ia tidak lagi berbicara tentang kecerdasan super sebagai kemungkinan yang sangat jauh, melainkan sebagai persoalan tata kelola yang menurutnya harus dihadapi dalam hitungan tahun.
Pertanyaan terbesarnya bukan hanya kapan AI menjadi lebih pintar daripada manusia. Hal yang lebih menentukan adalah siapa yang mengembangkannya, bagaimana sistem tersebut diuji, siapa yang memperoleh manfaat ekonomi, dan mekanisme apa yang tersedia ketika model menunjukkan kemampuan yang tidak dapat dikendalikan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif. Prediksi mengenai perkembangan AI mengandung ketidakpastian tinggi dan tidak boleh diperlakukan sebagai fakta mengenai masa depan.
Source: cnbcindonesia.com
What do you think about this topic? Tell us what you think. Don't forget to follow Digivestasi's Instagram, TikTok, Youtube accounts to keep you updated with the latest information about economics, finance, digital technology and digital asset investment.
DISCLAIMER
All information contained on our website is summarized from reliable sources and published in good faith and for the purpose of providing general information only. Any action taken by readers on information from this site is their own responsibility.