Dolar AS Tembus Rp17.255! Apa Dampaknya ke Ekonomi & Harga Hari Ini?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 29 April 2026 Waktu baca 5 menit

Nilai tukar rupiah dibuka dalam kondisi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah memulai sesi pagi di zona negatif dengan penurunan sebesar 0,26% ke level Rp17.255 per dolar AS. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tekanan pada sesi sebelumnya. Pada Selasa (28/4/2026), rupiah juga ditutup turun 0,15% di posisi Rp17.210 per dolar AS.

 

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terlihat menguat tipis ke level 98,646.

 

Pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama arah pergerakan dolar AS di pasar global menjelang pengumuman suku bunga oleh bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

 

Dolar AS cenderung mengalami penguatan pada perdagangan Rabu, seiring sikap investor yang masih menanti keputusan suku bunga The Fed. Pertemuan kali ini juga menjadi sorotan karena diperkirakan termasuk salah satu kesempatan terakhir bagi Jerome Powell sebagai Ketua The Fed.

 

The Fed diprediksi tetap mempertahankan suku bunga. Namun, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada keputusan tersebut, melainkan juga pada pandangan The Fed mengenai dampak konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian AS, inflasi, serta arah kebijakan suku bunga ke depan.

 

Pelaku pasar juga memperhatikan kelanjutan posisi Powell di The Fed. Sebelumnya, Powell menyatakan akan tetap bertahan apabila ia menilai independensi The Fed terancam. Oleh karena itu, langkah Powell ke depan dinilai sangat bergantung pada pandangannya terhadap independensi bank sentral AS.

 

Selain agenda The Fed, ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor penekan pasar global. Harga minyak meningkat pada perdagangan Selasa karena investor menilai konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Informasi mengenai Uni Emirat Arab yang mengurangi hubungan dengan OPEC juga menambah perhatian terhadap arah pasokan energi dunia.

 

Kenaikan harga minyak turut memberikan tekanan pada pasar obligasi AS. Harga obligasi menurun sementara imbal hasilnya meningkat, karena investor khawatir harga energi yang tinggi dapat kembali mendorong inflasi.

 

Situasi ini membuat pergerakan rupiah tetap terbatas. Jika dolar AS kembali menguat dan investor beralih ke aset yang lebih aman, maka mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi terus berada dalam tekanan.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.