Edukasi
Fear & Greed Index Global Tertekan Geopolitik: Sinyal Ketakutan atau Peluang di Pasar?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 27 October 2023 Waktu baca 5 menit
Beberapa pengusaha mulai merasa khawatir melihat terus-menerusnya terjadinya pelemahan kurs Rupiah akhir-akhir ini. Kondisi Rupiah saat ini sulit diterima dalam konteks bisnis. Mengacu pada laporan dari Bloomberg, pada Kamis (26/10), Rupiah melemah sebesar 0,31% menjadi Rp 15.920 per dolar AS. Mata uang Garuda ini semakin berisiko jatuh ke level Rp 16.000 per dolar AS.
Ketua Umum BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), Subandi, mengungkapkan bahwa pelemahan Rupiah sangat mempengaruhi pelaku bisnis impor. Selain harga barang dari luar negeri yang terpengaruh oleh transaksi dalam dolar AS, biaya logistik di dalam negeri juga mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa transaksi di pelabuhan peti kemas yang masih menggunakan dolar AS.
"Penguatan dolar AS juga diikuti oleh mata uang asing lain seperti yuan dan yen, sehingga semua komoditas impor terdampak, termasuk bahan pangan," kata Subandi pada Kamis (26/10).
Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, para importir akan mengurangi volume impor dan produksi, menyesuaikan ukuran produk, menunda sementara kegiatan impor hingga Rupiah kembali ke level yang wajar, atau bahkan menaikkan harga jual kepada konsumen akhir. Namun, kebijakan penyesuaian harga juga tidak mudah diterapkan karena daya beli masyarakat saat ini sedang lesu.
GINSI berpendapat bahwa kurs Rupiah yang ideal bagi para importir berada dalam kisaran Rp 14.500-Rp 14.700 per dolar AS. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Toto Dirgantoro, menyatakan bahwa dalam teori, pelemahan Rupiah bisa menjadi berkah bagi eksportir yang menggunakan bahan baku dalam negeri, seperti industri furnitur. Namun, dalam kenyataannya, permintaan dari pasar global, terutama dari negara-negara maju, menurun karena ketidakpastian ekonomi. Di sisi lain, koreksi Rupiah juga merugikan bagi perusahaan ekspor yang mengimpor bahan baku, terutama jika permintaan ekspor juga melemah.
Toto menegaskan, "Pelemahan Rupiah tidak secara otomatis mengakibatkan peningkatan ekspor." Saat ini, para eksportir sedang berjuang untuk menemukan pasar ekspor baru yang memiliki kondisi ekonomi yang lebih stabil. Hal ini tidak mudah, karena eksportir Indonesia harus bersaing dengan eksportir dari beberapa negara lain untuk merebut pasar.
GPEI berpendapat bahwa kurs Rupiah saat ini sudah dianggap tinggi bagi pelaku usaha, tidak peduli jenis bisnis yang dijalani. Kondisi saat ini sangat sulit, karena pelemahan Rupiah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor global. Tidak dapat dipastikan sejauh mana pemerintah dan Bank Indonesia dapat melakukan intervensi dalam pasar melalui berbagai kebijakan moneter untuk mencegah Rupiah terus melemah.
"Menurut kami, kurs Rupiah sekitar Rp 15.000 per dolar AS sudah cukup aman, selama tidak mengalami fluktuasi yang signifikan," ungkap Toto.
Sumber: kontan.co.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.