Saham News
Rekomendasi Saham Hari Ini: ADMR, ITMG dan Deretan Saham Pilihan Berpotensi Cuan
/index.php
Saham News - Diposting pada 19 May 2026 Waktu baca 5 menit
DOID berencana melaksanakan pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal sebesar US$6 juta, setara sekitar Rp104,25 miliar. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya perseroan dalam meningkatkan nilai bagi pemegang saham sekaligus memperkuat program retensi karyawan berbasis kepemilikan saham.
Mengacu pada keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (19/5/2026), aksi korporasi tersebut masih menunggu persetujuan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Juni 2026. Perseroan menjelaskan bahwa buyback akan dilakukan melalui pembelian saham di Bursa Efek Indonesia dalam jangka waktu maksimal 12 bulan setelah memperoleh persetujuan RUPS atau paling lambat hingga 24 Juni 2027.
DOID telah menyiapkan dana maksimal sebesar US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar yang bersumber dari kas internal, termasuk untuk biaya transaksi dan jasa perantara perdagangan efek. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025, perseroan memastikan pelaksanaan buyback tidak akan menyebabkan nilai kekayaan bersih turun di bawah modal ditempatkan dan cadangan wajib.
Jumlah saham yang akan dibeli kembali diperkirakan maksimal mencapai 320,77 juta saham atau setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pengalihan saham tresuri. Perseroan menegaskan bahwa jumlah tersebut masih berada di bawah batas maksimum 10 persen sebagaimana diatur dalam POJK 29/2023.
DOID menyampaikan bahwa aksi buyback dilakukan untuk memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham selain melalui pembagian dividen. Selain itu, saham hasil buyback juga direncanakan digunakan untuk program kepemilikan saham bagi manajemen dan karyawan sebagai bagian dari strategi mempertahankan tenaga kerja.
Per 31 Desember 2025, pemegang saham terbesar perseroan adalah Northstar Tambang Persada Ltd. dengan kepemilikan sebesar 38,217 persen, sedangkan porsi kepemilikan masyarakat tercatat sebesar 39,292 persen. Perseroan juga masih memiliki saham tresuri sebanyak 293,84 juta saham atau setara 3,841 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
DOID berencana mengalihkan saham tresuri yang dimiliki saat ini dalam agenda pengurangan modal yang juga akan dibahas pada RUPSLB tanggal 24 Juni 2026. Setelah pengalihan saham tresuri dilakukan, kepemilikan publik diproyeksikan meningkat menjadi 40,861 persen.
Dalam simulasi manajemen, apabila seluruh dana buyback digunakan, total aset dan ekuitas perseroan masing-masing diperkirakan turun sebesar US$6 juta. Total aset diproyeksikan menurun dari US$1,53 miliar menjadi US$1,52 miliar, sementara total ekuitas diperkirakan menyusut dari US$48,87 juta menjadi US$42,87 juta.
Perseroan mencatat rugi periode berjalan sebesar US$127,61 juta untuk periode 12 bulan yang berakhir pada 31 Desember 2025. Dalam simulasi proforma setelah buyback, laba bersih per saham diperkirakan berubah dari minus US$0,01734 menjadi minus US$0,01814.
Meskipun demikian, manajemen menilai dampak buyback terhadap operasional maupun aktivitas usaha perseroan tidak bersifat material. Perseroan juga menegaskan masih memiliki modal dan arus kas yang memadai untuk mendukung kegiatan operasional sekaligus pelaksanaan buyback.
Berdasarkan catatan Bisnis.com pada Senin (30/3/2026), Direktur DOID Iwan Fuad Salim menyampaikan bahwa kinerja perseroan sepanjang 2025 terdampak cukup besar oleh gangguan operasional dan kondisi cuaca buruk. Selain itu, proses ramp-down dan penyelesaian kontrak di Indonesia maupun Australia turut memberikan tekanan terhadap kinerja keuangan DOID.
“Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi Grup. Gangguan yang terjadi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area yang masih perlu diperkuat dalam pendekatan kami,” ujar Iwan dalam keterangan resminya.
Ia menambahkan bahwa perseroan telah merespons kondisi tersebut dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta penerapan berbagai langkah strategis untuk menjaga likuiditas dan memperkuat struktur neraca keuangan.
Disclaimer: Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli ataupun menjual saham tertentu. Seluruh keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala keuntungan maupun kerugian yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.