Pertamax Fuel Prices Rise, Government Prepares Stimulus to Support Consumer Spending

Bisnis | Ekonomi - Posted on 11 June 2026 Reading time 5 minutes

PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian tarif bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Mulai Rabu (10/6/2026), harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95) resmi mengalami kenaikan.

 

Harga Pertamax yang sebelumnya berada di level Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter. Di sisi lain, harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan, dengan Pertalite tetap dibanderol Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.

 

Penyesuaian harga tersebut ditetapkan setelah melalui koordinasi dengan pemerintah selaku regulator dan dilakukan berdasarkan mekanisme evaluasi rutin yang mempertimbangkan dinamika harga minyak dunia serta harga keekonomian di pasar.

 

Danantara Beri Penjelasan soal Kenaikan Pertamax

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, turut memberikan tanggapan mengenai kenaikan harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95).

 

Menurut Dony, penyesuaian harga tersebut dilakukan sejalan dengan perkembangan harga minyak global dan kondisi harga pasar.

 

“Memang sesuai mandatnya, harga Pertamax harus mengikuti mekanisme pasar. Jika tidak, maka beban tersebut akan terus ditanggung,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, pada Rabu (10/6/2026).

 

Ia juga menjelaskan bahwa Pertamax merupakan produk BBM yang ditujukan bagi segmen masyarakat menengah ke atas, sementara harga yang berlaku saat ini masih berada di bawah harga keekonomian sebenarnya.

 

“Karena produk ini diperuntukkan bagi kelompok menengah ke atas. Bahkan pada kondisi sekarang, harga yang dikenakan masih sekitar 50% dari harga riilnya,” kata Dony.

 

Dony menambahkan bahwa keputusan kenaikan harga Pertamax telah melalui proses pembahasan serta memperoleh persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

 

“Keputusan ini telah melalui proses bersama Menteri ESDM. Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal terkait juga telah menyetujui langkah tersebut,” jelasnya.

 

DPR Ingatkan Potensi Peralihan ke Pertalite

Di sisi lain, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengingatkan bahwa kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong masyarakat beralih menggunakan Pertalite. Jika hal itu terjadi, beban subsidi BBM berisiko meningkat.

 

“Pasti ada kemungkinan pengguna berpindah ke Pertalite. Ketika harga naik, masyarakat cenderung memilih produk dengan harga yang lebih murah,” ujar Misbakhun kepada wartawan di Gedung DPR RI pada Rabu (10/6/2026).

 

Meski demikian, ia mengaku belum dapat memastikan seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan oleh kenaikan harga tersebut karena perhitungannya masih terus dikaji.

 

“Untuk perhitungannya, kami belum melakukan simulasi secara lebih mendalam. Berbagai kalkulasi sudah mulai dilakukan dan nantinya akan dievaluasi untuk melihat dampaknya secara lebih jelas,” tuturnya.

 

Pemerintah Menyiapkan Stimulus

Untuk mengurangi dampak kenaikan harga Pertamax terhadap kondisi keuangan masyarakat, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah stimulus. Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, kepada awak media di kantornya.

 

Airlangga menjelaskan bahwa rencana stimulus tersebut terlebih dahulu akan dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum diumumkan secara resmi kepada masyarakat.

 

“Masih dalam tahap persiapan. Setelah keputusan final diambil, baru akan diumumkan. Saat ini harus dilaporkan terlebih dahulu kepada Presiden,” kata Airlangga pada Rabu (10/6/2026).

 

Pemerintah saat ini sedang mempertimbangkan berbagai alternatif kebijakan yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus meminimalkan dampak kenaikan harga BBM terhadap laju inflasi.

 

Menurut Airlangga, pengaruh kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi masih akan terus dipantau mengingat kebijakan tersebut baru mulai berlaku pada 10 Juni 2026.

 

“Kami akan melihat dampaknya dari sisi transportasi maupun perkembangan harga secara umum. Untuk saat ini, situasinya masih terus kami monitor,” ujarnya.

Source: detik.com

What do you think about this topic? Tell us what you think. Don't forget to follow Digivestasi's Instagram, TikTok, Youtube accounts to keep you updated with the latest information about economics, finance, digital technology and digital asset investment.

 

DISCLAIMER

All information contained on our website is summarized from reliable sources and published in good faith and for the purpose of providing general information only. Any action taken by readers on information from this site is their own responsibility.