Ramalan Krisis Global 2025: Negara-Negara Ini Terancam, Termasuk Indonesia?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 14 June 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Beberapa negara diperkirakan akan mengalami kontraksi atau pertumbuhan ekonomi negatif pada tahun 2025, menurut laporan terbaru Bank Dunia yang tertuang dalam edisi Juni 2025 dari Global Economic Prospects (GEP).

 

Kepala Ekonom Grup Bank Dunia, Indermit Gill, menjelaskan bahwa pelemahan ekonomi yang terjadi di sejumlah negara merupakan akibat dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang telah berlangsung selama tiga dekade terakhir. Faktor-faktor kompleks seperti konflik geopolitik, perang dagang, menurunnya produktivitas, penuaan populasi, serta tingginya utang global turut memperparah tekanan ekonomi.

 

Pertumbuhan di negara-negara berkembang telah merosot selama tiga puluh tahun, dari rata-rata 6% pada era 2000-an, turun menjadi 5% pada dekade 2010-an, dan kini berada di bawah 4% pada era 2020-an. Penurunan ini sejalan dengan melambatnya pertumbuhan perdagangan global yang menyusut dari 5% pada 2000-an, menjadi sekitar 4,5% pada 2010-an, dan kini turun di bawah 3% pada 2020-an.

 

“Di luar wilayah Asia, dunia berkembang kini berubah menjadi zona tanpa pertumbuhan,” ujar Indermit Gill, dikutip dari siaran pers pada Kamis (12/6/2025).

 

Negara-Negara yang Diprediksi Mengalami Kontraksi Ekonomi

Negara-negara yang diprediksi mencatat pertumbuhan ekonomi negatif pada 2025 tersebar di empat kawasan utama: Asia Timur dan Pasifik, Amerika Latin dan Karibia, Timur Tengah dan Afrika Utara, serta Sub-Sahara Afrika.

 

Asia Timur dan Pasifik

Di kawasan Asia Timur dan Pasifik, Bank Dunia memperkirakan Myanmar akan mengalami kontraksi ekonomi sebesar -2,5% pada 2025. Ini adalah penurunan tajam dibandingkan proyeksi Januari 2025 yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 2%. Namun, ekonomi Myanmar diproyeksikan mulai pulih pada 2026 dengan pertumbuhan sekitar 3%.

 

Menurut Bank Dunia, tekanan ekonomi Myanmar disebabkan oleh konflik bersenjata yang terus berlangsung dan bencana alam seperti gempa berkekuatan 7,7 yang terjadi pada Maret 2025.

 

“Konflik berkepanjangan dapat memperburuk aktivitas ekonomi di Myanmar, menimbulkan lonjakan inflasi, melemahkan iklim usaha, dan mendorong perpindahan penduduk,” terang Bank Dunia.

 

Negara lain di kawasan ini yang juga diproyeksikan mengalami penurunan ekonomi adalah Vanuatu, dengan kontraksi sebesar -1,8%, berbanding proyeksi Januari yang memperkirakan pertumbuhan 1,5%. Ekonomi Vanuatu diperkirakan mulai membaik menjadi 2,3% pada 2026, lebih tinggi dari perkiraan Januari sebesar 2,1%.

 

Bank Dunia menjelaskan bahwa tekanan ekonomi Vanuatu terutama disebabkan oleh tingginya kerentanan negara tersebut terhadap bencana alam.

 

“Kerentanan terhadap bencana alam menjadi risiko negatif yang signifikan, seperti yang terlihat dari kerusakan besar akibat gempa di Myanmar dan Thailand pada akhir Maret, serta di Vanuatu pada akhir tahun lalu,” tulis Bank Dunia.

 

Amerika Latin dan Karibia

Di kawasan Amerika Latin dan Karibia, Bank Dunia memproyeksikan Haiti akan mengalami kontraksi ekonomi sebesar -2,2% pada 2025. Sebelumnya, proyeksi Januari menyebutkan Haiti masih akan tumbuh 0,5%. Namun, pada 2026, ekonomi Haiti diperkirakan tumbuh 2%, naik dari proyeksi awal 1,5%.

 

“Outlook ekonomi Haiti masih sangat rapuh dan penuh ketidakpastian, mengingat ketidakstabilan politik serta persoalan keamanan yang belum terselesaikan,” jelas Bank Dunia.

 

Timur Tengah dan Afrika Utara

Untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara, tiga negara yang diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi pada 2025 adalah Iran, Tepi Barat dan Gaza, serta Yaman.

 

Iran diperkirakan mengalami pertumbuhan negatif sebesar -0,5% dan pulih menjadi 0,3% pada 2026. Bank Dunia menyebutkan bahwa pelemahan ekonomi ini disebabkan oleh melemahnya permintaan minyak dari China, krisis energi, serta meningkatnya ketidakpastian yang menghambat sektor non-migas.

 

Tepi Barat dan Gaza akan mengalami kontraksi sebesar -1,6% akibat dampak konflik dengan Israel. Namun, pertumbuhan diproyeksikan akan melonjak menjadi 4% pada 2026, dan 16% pada 2027, dengan asumsi proses rekonstruksi dimulai pada 2026.

 

Untuk Yaman, ekonomi diperkirakan menyusut -1,5% pada 2025, dengan sedikit pemulihan menjadi 0,5% di 2026. “Mengacu pada kondisi keamanan saat ini, PDB Yaman diperkirakan kembali mengalami kontraksi,” kata Bank Dunia.

 

Sub-Sahara Afrika

Di kawasan Sub-Sahara Afrika, satu-satunya negara yang diperkirakan mencatat pertumbuhan negatif pada 2025 adalah Guinea Khatulistiwa (Equatorial Guinea), dengan kontraksi sebesar -3,1%. Pada 2026, pertumbuhan diprediksi pulih menjadi 0,6%, meskipun diperkirakan akan kembali mengalami kontraksi -1,1% pada 2027.

 

Indonesia

Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,7% pada 2025 dan naik sedikit menjadi 4,8% pada 2026. Angka ini menurun dari proyeksi sebelumnya dalam edisi Januari 2025 yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,1% untuk kedua tahun tersebut.

 

Ekonomi Indonesia diprediksi baru bisa kembali mencapai tingkat pertumbuhan 5% pada tahun 2027. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2022 yang mencapai 5,3%.

 

Bank Dunia juga mencatat bahwa ketegangan perdagangan akibat tarif tinggi dan ketidakpastian kebijakan global telah memicu penurunan proyeksi ekonomi di hampir 70% negara di semua kawasan dan kelompok pendapatan.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.