Rupiah Offshore Nyaris Rp17.900/US$! Kenapa Pergerakannya Jadi yang Paling 'Liar' di Asia?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 28 May 2026 Waktu baca 5 menit

Pergerakan rupiah di pasar luar negeri kian berfluktuasi dan sempat mendekati level Rp17.900 per dolar AS dalam perdagangan tadi malam waktu Indonesia, ketika pasar domestik libur karena peringatan Idul Adha.

 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh posisi Rp17.892 per dolar AS pada pukul 23.59 WIB di perdagangan offshore. Namun, mata uang Garuda akhirnya ditutup di level Rp17.886 per dolar AS atau melemah 0,25%.

 

Pada hari ini (28/5/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka cenderung datar sebelum menguat tipis 0,22% ke posisi Rp17.846 per dolar AS pada pukul 06.02 WIB.

 

Pergerakan mata uang Asia di pasar yang sudah mulai aktif terlihat bervariasi, meskipun belum menunjukkan perubahan signifikan. Yuan offshore menguat tipis 0,03%, diikuti yen Jepang yang naik 0,01%. Sebaliknya, dolar Singapura terkoreksi tipis 0,01% pada pukul 06.06 WIB.

 

Beberapa saat kemudian, arah pergerakan mata uang Asia kembali berubah pada pukul 06.50 WIB. Yen Jepang tercatat melemah 0,02%, sedangkan dolar Singapura turun 0,02%.

 

Perubahan arah mata uang Asia hari ini dipicu kembali naiknya harga minyak mentah setelah sehari sebelumnya, 27 Mei, harga minyak sempat anjlok lebih dari 5%. Kondisi tersebut terjadi karena Amerika Serikat dan Iran belum mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara laporan juga menyebut adanya serangan militer baru di Iran.

 

Pagi ini, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kembali mendekati US$90 per barel, sedangkan Brent berada di kisaran US$94 per barel. Meski demikian, tren harga minyak masih cenderung menurun karena pasar tetap optimistis bahwa AS dan Iran setidaknya dapat mencapai kesepakatan sementara meskipun proses negosiasi berlangsung sulit.

 

Rupiah dan Mata Uang Asia

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, setiap mata uang di kawasan Asia menunjukkan tingkat ketahanan dan volatilitas yang berbeda-beda. Jika dibandingkan dengan mata uang negara lain selama satu dekade terakhir, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pergerakan paling fluktuatif.

 

Dalam kurun 10 tahun terakhir, rupiah di pasar spot bergerak dari Rp13.788 per dolar AS pada akhir 2015 menjadi Rp17.783 per dolar AS pada perdagangan Selasa (26/5/2026) pukul 10.30 WIB. Dengan demikian, rupiah mengalami depresiasi sekitar 28,98% dalam satu dekade terakhir atau hampir menyentuh 30%.

 

Grafik menunjukkan pergerakan rupiah jauh lebih agresif dibandingkan mata uang Asia lainnya. Rupee India misalnya, memang turut mengalami pelemahan yang cukup besar. Dalam periode satu dekade, mata uang tersebut tercatat melemah hingga 44,13%, dari INR66.153 per dolar AS pada akhir 2015 menjadi INR95.347 per dolar AS pada 26 Mei 2026.

 

Namun demikian, volatilitas rupee dinilai lebih terkendali dibandingkan rupiah karena didukung sejumlah faktor penyangga. Bloomberg Survey memperkirakan ekonomi India tumbuh 7,1% pada kuartal I-2026 dan sekitar 6,4% pada kuartal II-2026 akibat kenaikan harga minyak global.

 

Selain itu, India memiliki kekuatan konsumsi domestik yang besar serta cadangan devisa mencapai US$728,5 miliar atau setara 11,3 bulan impor. Besarnya cadangan devisa tersebut memberikan ruang intervensi yang jauh lebih luas dibandingkan Indonesia.

 

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan India juga menerapkan langkah administratif untuk menekan permintaan dolar AS, salah satunya dengan menaikkan bea masuk emas dan perak karena impor emas menjadi salah satu sumber utama kebutuhan dolar di negara tersebut.

 

Josua juga menjelaskan bahwa struktur ekonomi masing-masing negara sangat memengaruhi karakter pergerakan mata uangnya. Hal ini tercermin pada ringgit Malaysia dan dolar Singapura yang cenderung lebih stabil.

 

Menurut Josua, stabilitas ringgit Malaysia didukung oleh tingginya ekspor minyak, gas, dan CPO sehingga kenaikan harga komoditas global memberi dukungan terhadap neraca perdagangan negara tersebut.

 

Sementara itu, Singapura memiliki kerangka kebijakan nilai tukar yang kredibel, pasar keuangan yang dalam, serta posisi strategis sebagai pusat keuangan internasional sehingga dolar Singapura relatif lebih stabil. Thailand sendiri lebih sensitif terhadap harga energi, tetapi sektor pariwisatanya menjadi sumber devisa yang cukup besar.

 

Lebih lanjut, Filipina memiliki kerentanan yang mirip dengan Indonesia akibat ketergantungan pada impor energi dan kebutuhan valuta asing, tetapi masih ditopang remitansi pekerja migran. Sementara Vietnam memiliki kekuatan dari ekspor manufaktur dan arus investasi asing langsung dengan pengelolaan nilai tukar yang lebih terkontrol.

 

Indonesia berada di posisi tengah karena memiliki pasar domestik besar dan sumber daya komoditas, namun juga menghadapi tingginya impor energi, kebutuhan dolar musiman, serta pasar keuangan yang sangat sensitif terhadap arus modal portofolio.

 

Nasib Rupiah

Dalam konteks Indonesia, persoalan utama sebenarnya bukan terletak pada lemahnya fundamental ekonomi domestik. Pertumbuhan ekonomi masih berjalan, inflasi relatif terkendali, dan cadangan devisa tetap memadai.

 

Namun menurut Josua, pasar mulai menilai ruang aman Indonesia semakin menyempit. Cadangan devisa Indonesia memang masih berada di level tinggi, yakni US$146,2 miliar atau setara 5,8 bulan impor dan 5,6 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri, meskipun nilainya lebih rendah dibandingkan posisi Maret lalu.

 

Penurunan cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri dan langkah stabilisasi rupiah.

 

“Hal ini menunjukkan BI masih memiliki amunisi, tetapi pasar juga melihat bahwa upaya menjaga rupiah membutuhkan biaya besar. Karena itu, rupiah tetap berpotensi volatil meskipun fundamental ekonomi tidak mengalami keruntuhan, sebab pasar sedang menguji konsistensi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor eksternal secara bersamaan,” ujar Josua.

 

Josua menambahkan, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan agar rupiah lebih stabil dan tidak terlalu volatil.

 

Pertama, Bank Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kenaikan suku bunga maupun intervensi valuta asing. Intervensi tetap diperlukan untuk meredam gejolak, tetapi bukan untuk mempertahankan level tertentu secara kaku.

 

Kedua, pemerintah perlu memperkuat sumber pasokan devisa melalui peningkatan devisa hasil ekspor, percepatan ekspor bernilai tambah, pengelolaan impor energi, serta perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan ASEAN.

 

Ketiga, peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara ASEAN perlu diperbesar agar ketergantungan terhadap mata uang keras dapat dikurangi sekaligus menekan dampak volatilitas mata uang asing terhadap harga barang impor. “Hal ini penting karena sebagian tekanan terhadap rupiah berasal dari kebutuhan dolar yang bersifat berulang, bukan semata-mata dipicu sentimen pasar,” kata Josua.

 

Keempat, pemerintah perlu mengurangi faktor yang membuat pasar memberikan premi risiko lebih tinggi terhadap Indonesia, antara lain dengan menjaga kredibilitas kebijakan dan APBN, memastikan subsidi energi lebih tepat sasaran, menjaga konsistensi komunikasi kebijakan, serta menghindari kebijakan ekspor komoditas maupun devisa yang terkesan mendadak atau terlalu intervensionis.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :