Pencipta ChatGPT Peringatkan Bahaya Besar Kecerdasan Buatan: Ini Alasannya!

Teknologi Terkini - Diposting pada 29 July 2025 Waktu baca 5 menit

CEO OpenAI, Sam Altman, dikenal sebagai tokoh utama di balik popularitas luar biasa ChatGPT. Namun, ia juga secara rutin mengingatkan publik akan potensi ancaman dari kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI).

 

Dalam pernyataan terbarunya, pria berusia 40 tahun itu menyatakan bahwa dunia saat ini mungkin tengah berada di ambang krisis penipuan, karena AI dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menyamar sebagai individu lain.

 

“Hal yang sangat membuat saya khawatir adalah kenyataan bahwa masih ada institusi keuangan yang menggunakan verifikasi suara sebagai metode autentikasi untuk memindahkan dana dalam jumlah besar atau melakukan transaksi penting lainnya. Anda hanya perlu mengucapkan kalimat tertentu, dan mereka akan langsung menindaklanjutinya,” ungkap Altman.

 

Padahal, kemampuan AI saat ini sudah memungkinkan peniruan suara yang sangat mirip dengan suara asli. “Itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya. AI telah berhasil melewati hampir semua sistem autentikasi yang digunakan saat ini, kecuali kata sandi,” jelasnya, sebagaimana dilansir detikINET dari wawancaranya dengan CNN.

 

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam sesi wawancara mengenai pengaruh AI terhadap ekonomi dan masyarakat, yang digelar oleh Federal Reserve di Washington beberapa waktu lalu. Meskipun Altman mengingatkan akan risiko serius dari AI, OpenAI tetap mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk tidak menerapkan regulasi yang dapat menghambat perusahaan teknologi bersaing secara global dalam hal inovasi AI.

 

Altman bukan satu-satunya yang mengkhawatirkan meningkatnya potensi penipuan akibat AI. FBI juga telah mengeluarkan peringatan terkait maraknya penipuan melalui kloning suara dan video berbasis AI. Sejumlah orang tua bahkan mengaku tertipu oleh penipu yang menggunakan AI untuk menirukan suara anak-anak mereka, sehingga mereka percaya bahwa anak-anak mereka dalam bahaya.

 

Pada awal bulan ini, pejabat pemerintah AS juga melaporkan bahwa seseorang telah menggunakan teknologi AI untuk meniru suara Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan menghubungi pejabat lain, seperti menteri luar negeri, gubernur, hingga anggota Kongres.

 

“Saya benar-benar khawatir bahwa kita sedang menuju krisis besar dalam hal penipuan, dan hal itu bisa terjadi dalam waktu dekat. Saat ini ancamannya masih berupa suara, namun dalam waktu dekat bisa berkembang menjadi video atau panggilan FaceTime yang nyaris mustahil dibedakan dari yang asli,” kata Altman.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu hal yang membuatnya sulit tidur di malam hari adalah kemungkinan bahwa AI super akan disalahgunakan oleh pihak jahat sebelum dunia memiliki kapasitas untuk menghadapinya. Contohnya adalah jika musuh negara menggunakan AI untuk melumpuhkan infrastruktur listrik atau menciptakan senjata biologis.

 

Altman juga menyuarakan kekhawatirannya tentang kemungkinan manusia kehilangan kendali terhadap sistem AI superinteligensi, atau bahkan menyerahkan terlalu banyak keputusan penting kepada teknologi tersebut. Saat ini, sejumlah perusahaan teknologi, termasuk OpenAI, sedang berlomba untuk menciptakan kecerdasan buatan dengan level superinteligensi. Altman memprediksi bahwa pada dekade 2030-an, AI akan mampu melampaui kecerdasan manusia secara signifikan.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.