Bitcoin Sempat Tembus US$87.200, ETF AS Masuk US$1,59 Miliar, Apa Pemicunya?

Crypto News - Diposting pada 23 September 2026 Waktu baca 5 menit

Bitcoin Sempat Tembus US$87.200, ETF AS Masuk US$1,59 Miliar—Apa Pemicunya?

Bitcoin kembali mencuri perhatian pasar setelah sempat menembus US$87.200 pada perdagangan awal pekan.

Kenaikan tersebut membawa aset kripto terbesar dunia ke level tertingginya dalam sekitar delapan bulan sebelum harga kembali bergerak di area US$85.000–US$86.000.

Reli kali ini tidak datang dari satu katalis.

Arus dana besar ke ETF Bitcoin spot Amerika Serikat, pembelian korporasi oleh Strategy, likuidasi posisi short, kebijakan baru regulator AS, dan membaiknya selera terhadap aset berisiko sama-sama menjadi bagian dari cerita.

 

Bitcoin Melonjak Lebih dari 6%

Pada Senin, 21 September 2026, Bitcoin naik lebih dari 6% dalam sehari.

Reuters mencatat reli Bitcoin ikut terjadi ketika pasar saham AS, khususnya sektor teknologi, juga menguat dan yield Treasury menurun.

Harga minyak pada saat yang sama terus melemah, sehingga sebagian tekanan inflasi yang sebelumnya mengganggu pasar mulai mereda.

Data yang dikutip INDODAX menunjukkan Bitcoin sempat mencapai sekitar US$87.200 sebelum kembali bergerak ke area US$85.000–US$86.000 pada Selasa.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa meski momentum naik kuat, volatilitas Bitcoin tetap tinggi.

 

ETF Bitcoin Spot Jadi Salah Satu Mesin Utama

Faktor paling konkret datang dari produk investasi institusional.

ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih sekitar US$1,59 miliar dalam tiga sesi perdagangan.

Data pasar yang dikutip Wall Street Journal menunjukkan hampir US$1 miliar bahkan masuk dalam satu sesi, sementara total tiga sesi mencapai sekitar US$1,59 miliar.

Arus dana ETF penting karena memungkinkan investor mendapatkan eksposur terhadap Bitcoin melalui instrumen pasar modal yang lebih familiar tanpa harus menyimpan BTC secara langsung.

Ketika dana masuk ke ETF spot, penerbit pada akhirnya membutuhkan eksposur terhadap Bitcoin yang mendukung permintaan terhadap aset dasarnya.

Namun, inflow ETF bukan jaminan harga terus naik.

Jika arus berbalik menjadi outflow, dukungan tersebut juga dapat melemah.

 

Strategy Tambah 950 BTC

Katalis lain datang dari Strategy Inc., perusahaan yang dikenal memiliki salah satu cadangan Bitcoin korporasi terbesar di dunia.

Dalam laporan resminya, Strategy mengumumkan pembelian 950 BTC pada periode 14–20 September 2026 dengan nilai sekitar US$75,7 juta.

Harga pembelian rata-ratanya sekitar US$79.670 per BTC.

Setelah transaksi tersebut, total kepemilikan perusahaan menjadi 846.000 BTC.

Data perusahaan menunjukkan total 846.000 BTC itu diperoleh dengan biaya kumulatif sekitar US$63,8 miliar, atau rata-rata sekitar US$75.416 per BTC.

Angka US$63,8 miliar tersebut penting dibaca dengan benar.

Itu merupakan aggregate acquisition cost, bukan valuasi pasar terkini.

Nilai pasarnya berubah setiap saat mengikuti harga Bitcoin.

 

Pembelian Strategy Punya Efek Psikologis

Secara volume, pembelian 950 BTC tidak sendirian menentukan harga pasar global Bitcoin.

Namun, transaksi Strategy tetap mempunyai pengaruh terhadap sentimen.

Perusahaan tersebut secara konsisten menggunakan Bitcoin sebagai bagian sentral dari strategi treasury korporasinya.

Ketika Strategy kembali membeli setelah harga bergerak naik, sebagian pelaku pasar membacanya sebagai tanda bahwa permintaan institusional belum hilang.

Tetapi keputusan satu perusahaan tidak dapat dianggap mewakili seluruh investor institusional.

 

Short Squeeze Ikut Mempercepat Reli

Ada faktor teknis lain yang membuat kenaikan Bitcoin menjadi lebih cepat: short squeeze.

Investor's Business Daily mencatat sekitar US$919 juta posisi short di pasar kripto dilikuidasi, dengan lebih dari US$557 juta berasal dari posisi terkait Bitcoin.

Mekanismenya sederhana.

Trader yang membuka posisi short berharap harga turun.

Ketika harga justru naik tajam, posisi dengan leverage dapat dipaksa ditutup.

Penutupan tersebut sering kali membutuhkan pembelian kembali aset, sehingga menambah tekanan beli dan mempercepat kenaikan harga.

Karena itu, sebagian reli Bitcoin bukan hanya akibat investor baru yang masuk, tetapi juga akibat posisi bearish yang dipaksa keluar.

 

Ini Penting karena Banyak Trader Sebelumnya Masih Bearish

Wall Street Journal mencatat sebagian trader native crypto masih mempertahankan posisi net short ketika reli terjadi.

Hal tersebut membuat kenaikan menjadi lebih sensitif terhadap short covering.

Ketika pasar memiliki terlalu banyak posisi yang bertaruh pada penurunan, sedikit kejutan positif dapat menghasilkan gerakan harga yang jauh lebih besar.

Namun, efek yang sama juga dapat bekerja ke arah sebaliknya.

Leverage tinggi dapat memperbesar koreksi ketika pasar berbalik turun.

 

SEC Buka Jalan untuk Saham Tokenisasi

Sentimen aset digital juga mendapat dukungan dari regulator Amerika Serikat.

Pada 17 September, Securities and Exchange Commission menerbitkan Innovation Exemption yang memberikan keringanan bersyarat dan sementara bagi platform tertentu untuk memperdagangkan saham National Market System dalam bentuk token melalui infrastruktur on-chain.

Kebijakan tersebut tidak mengatur Bitcoin secara langsung.

Yang diperdagangkan adalah saham yang ditokenisasi.

Namun, langkah ini dianggap relevan bagi ekosistem kripto karena memperlihatkan bahwa regulator AS mulai menyediakan ruang eksperimental bagi teknologi blockchain di pasar modal tradisional.

 

Bukan Berarti Semua Saham Bisa Langsung Diperdagangkan Bebas di Blockchain

Detail regulasinya perlu diperhatikan.

Keringanan SEC bersifat bersyarat dan berlaku bagi Tokenized Securities Venues tertentu.

Token saham yang diperdagangkan juga harus memenuhi berbagai persyaratan dan tetap merepresentasikan hak ekonomi seperti saham tradisional.

SEC menyebut kebijakan tersebut sebagai jembatan menuju proses penyusunan aturan yang lebih permanen.

Jadi, ini bukan deregulasi total pasar modal AS.

Lebih tepat menyebutnya sebagai eksperimen regulasi yang membuka penggunaan infrastruktur blockchain dalam ruang yang dibatasi.

 

Kenapa Ini Positif bagi Bitcoin?

Hubungannya tidak langsung.

Bitcoin bukan saham tokenisasi dan tidak memperoleh manfaat regulasi otomatis dari kebijakan SEC.

Namun, semakin banyak penggunaan blockchain masuk ke sistem keuangan arus utama, semakin besar persepsi bahwa teknologi aset digital memperoleh legitimasi institusional.

Chief Marketing Officer INDODAX Aloysia Dian menilai perkembangan regulasi tersebut turut memperbaiki sentimen terhadap ekosistem aset digital secara lebih luas.

Ini harus dibaca sebagai interpretasi sentimen, bukan hubungan sebab-akibat yang pasti.

 

Harga Minyak Turun, Risk Appetite Membaik

Faktor makro juga ikut membantu.

Harga minyak melemah tajam pada awal pekan di tengah harapan munculnya kemajuan diplomatik terkait konflik Iran dan pulihnya sebagian jalur ekspor Saudi.

Pada 21 September, Brent sempat jatuh di bawah US$100 per barel sebelum ditutup sekitar US$100,34.

Pada 22 September, Brent kembali berada di sekitar atau di bawah US$100 di tengah prospek pasokan yang membaik.

Harga energi yang lebih rendah dapat mengurangi sebagian kekhawatiran inflasi.

Jika tekanan inflasi mereda, investor dapat menjadi lebih nyaman mengambil risiko.

Bitcoin sering ikut mendapat manfaat ketika selera risiko global membaik, meskipun korelasi tersebut tidak selalu stabil.

 

Nasdaq Juga Menguat

Kondisi risk-on terlihat dari Wall Street.

Nasdaq mencapai rekor baru pada Senin setelah reli saham teknologi dan AI.

S&P 500 naik sekitar 1,49% dan Dow Jones sekitar 0,71%.

Bitcoin melonjak pada sesi yang sama.

Korelasi tersebut tidak membuktikan saham teknologi menyebabkan harga Bitcoin naik.

Namun, keduanya menunjukkan bahwa investor pada hari tersebut lebih berani mengambil eksposur terhadap aset yang dianggap berisiko tinggi.

 

The Fed Tetap Jadi Risiko

Meskipun sentimen membaik, lingkungan makro belum sepenuhnya mendukung.

Federal Reserve baru saja menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan sejumlah pejabat bank sentral masih memberikan sinyal bahwa kenaikan tambahan dapat diperlukan apabila inflasi tetap tinggi.

Pada 22 September, pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga berikutnya masih cukup besar.

Suku bunga tinggi biasanya menjadi tantangan bagi aset tanpa arus kas seperti Bitcoin karena instrumen berpendapatan tetap menawarkan imbal hasil yang lebih menarik.

Karena itu, reli Bitcoin saat ini justru terjadi di tengah kebijakan moneter yang masih ketat.

 

Yield Treasury Juga Belum Rendah

Yield obligasi AS tenor 10 tahun masih berada mendekati 5%.

Pada 22 September, yield berada sekitar 4,93% setelah sempat menyentuh lebih dari 5% pada pekan sebelumnya.

Apabila yield kembali naik tajam, biaya peluang memegang aset berisiko juga meningkat.

Wall Street Journal bahkan menyebut kenaikan yield sebagai salah satu risiko yang dapat mengganggu reli Bitcoin apabila arus ETF ikut melemah.

 

Resistance US$90.000 Mulai Diperhatikan

Setelah Bitcoin mendekati US$87.000, perhatian pasar mulai bergeser ke area US$90.000.

Market commentary yang dihimpun Wall Street Journal menempatkan US$90.000 sebagai salah satu area resistance yang sedang diperhatikan trader.

Resistance bukan berarti Bitcoin pasti gagal menembus angka tersebut.

Istilah tersebut hanya menggambarkan area harga yang secara teknikal berpotensi menghadapi tekanan jual lebih besar.

Jika harga menembusnya dengan volume kuat, struktur pasar dapat berubah.

Jika gagal, profit taking dapat muncul.

 

Investor Jangan Hanya Melihat Candle Hijau

Aloysia Dian mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan semata karena harga sedang naik.

Momentum kuat memang dapat menarik perhatian.

Namun Bitcoin tetap merupakan aset dengan volatilitas tinggi.

Reli yang dipercepat short squeeze juga berarti sebagian pergerakannya ditopang faktor teknis yang dapat berubah cepat.

Investor perlu memahami ukuran posisi, toleransi kerugian dan risiko leverage, bukan hanya target kenaikan.

 

FOMO Menjadi Risiko Saat Harga Melonjak

Fear of Missing Out atau FOMO biasanya meningkat setelah aset bergerak naik secara cepat.

Masalahnya, investor yang masuk hanya karena takut tertinggal sering membeli setelah sebagian besar kenaikan sudah terjadi.

Ketika harga kemudian melakukan koreksi normal, keputusan berbasis emosi dapat berubah menjadi kerugian.

Karena itu, DYOR atau Do Your Own Research tetap penting.

Riset tidak berhenti pada pertanyaan “Bitcoin naik karena apa?”, tetapi juga perlu melihat faktor apa yang dapat membalikkan reli.

 

Apa yang Bisa Membalikkan Bitcoin?

Setidaknya ada beberapa risiko utama.

Arus ETF dapat berubah menjadi outflow.

Yield Treasury dapat kembali menanjak.

The Fed dapat mempertahankan kebijakan lebih hawkish.

Harga minyak bisa kembali melonjak jika ketegangan Timur Tengah memburuk.

Leverage yang tinggi juga dapat menciptakan gelombang likuidasi ke arah sebaliknya.

Dan tentu saja, pasar kripto dapat bergerak tajam meskipun tidak ada satu katalis fundamental yang jelas.

 

Kesimpulan

Bitcoin sempat mencapai sekitar US$87.200 pada awal pekan sebelum kembali ke area US$85.000–US$86.000.

Penguatan tersebut ditopang kombinasi sejumlah katalis.

ETF Bitcoin spot AS mencatat sekitar US$1,59 miliar net inflow dalam tiga sesi.

Strategy menambah 950 BTC senilai US$75,7 juta dan kini memegang 846.000 BTC.

Short squeeze mempercepat kenaikan.

SEC memberikan ruang sementara bagi perdagangan saham tokenisasi.

Dan penurunan harga minyak turut memperbaiki selera risiko pasar.

Namun, tidak satu pun faktor tersebut menjamin Bitcoin akan terus naik.

ETF dapat mengalami outflow, likuidasi leverage dapat berbalik arah, dan kebijakan suku bunga AS tetap menjadi risiko.

Karena itu, cerita di balik US$87.000 bukan hanya soal reli harga.

Ini adalah kombinasi antara uang institusional, positioning trader, perubahan regulasi dan sentimen makro yang bergerak pada waktu yang hampir bersamaan.

 

 

 

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi personal untuk membeli, menjual atau mempertahankan Bitcoin maupun aset kripto lainnya.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.