Michael Saylor Beri Sinyal Strategy Siap Borong Bitcoin ke-100, Harga BTC Bakal Melejit?

Crypto News - Diposting pada 25 February 2026 Waktu baca 5 menit

Michael Saylor mengisyaratkan bahwa perusahaannya, Strategy (yang sebelumnya bernama MicroStrategy), tengah bersiap melakukan pembelian Bitcoin ke-100 sejak pertama kali mulai mengoleksi aset kripto tersebut pada 2020.

 

Isyarat tersebut muncul melalui unggahan Saylor di platform X pada Minggu (23/2/2026), ketika ia membagikan tangkapan layar grafik dari StrategyTracker disertai keterangan “The Orange Century”. Ungkapan ini kerap digunakannya sebagai kode bahwa perusahaan akan kembali melakukan pembelian Bitcoin.

 

Mengacu pada data di situs resmi perusahaan, hingga kini Strategy telah mencatat 99 kali transaksi pembelian Bitcoin sejak Agustus 2020. Dengan demikian, transaksi selanjutnya akan menjadi pembelian ke-100 dalam sejarah investasi Bitcoin perusahaan tersebut.

 

Saat ini Strategy memiliki 717.131 BTC dengan harga rata-rata akumulasi sekitar US$76.027 per koin. Pembelian terbaru berlangsung pada periode 9–16 Februari 2026, ketika perusahaan mengakuisisi 2.486 BTC senilai kurang lebih US$168,4 juta atau sekitar Rp2,8 triliun, dengan harga rata-rata US$67.710 per Bitcoin.

 

Namun, dengan harga Bitcoin yang berada di kisaran US$64.800 atau sekitar Rp1,04 miliar saat artikel ini ditulis, nilai kepemilikan tersebut berada di bawah rata-rata harga perolehan. Secara sederhana, kondisi ini menunjukkan bahwa posisi rata-rata pembelian perusahaan sedang tertekan karena harga pasar lebih rendah dibandingkan harga akumulasi.

 

Akumulasi Tetap Berlanjut di Tengah Tekanan Pasar

Walaupun pasar kripto sepanjang 2026 menghadapi tekanan, Strategy tidak memperlihatkan tanda memperlambat langkahnya. Perusahaan tercatat telah membeli Bitcoin selama 12 pekan berturut-turut. Jika kembali melakukan pembelian pada pekan ini, maka rangkaian tersebut akan bertambah menjadi 13 minggu beruntun.

 

Keputusan Strategy untuk masuk ke Bitcoin dipelopori langsung oleh Saylor pada Agustus 2020, ketika perusahaan mengalokasikan sekitar US$250 juta atau setara Rp4 triliun untuk pembelian perdana. Pada saat itu, Bitcoin dipilih sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi sekaligus sebagai penyimpan nilai guna melindungi kas perusahaan. Strategi tersebut juga dirancang untuk menjaga serta meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dalam jangka panjang.

 

Hampir enam tahun sejak transaksi pertama, Strategy kini tercatat sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia. Pendekatan ini kemudian mendorong banyak perusahaan lain untuk meniru strategi serupa dengan memasukkan Bitcoin ke dalam cadangan aset perusahaan mereka.

Sumber: coinvestasi.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.