Dolar Tembus Rp17.100! Benarkah RI Terancam Krisis 1998? Ini Penjelasan Lengkapnya

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 14 April 2026 Waktu baca 5 menit

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan dan kini cenderung bertahan di kisaran di atas Rp17.000 per dolar AS, yang tampak menjadi titik keseimbangan baru. Pada hari ini, rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar AS di awal perdagangan. Mengacu pada data Refinitiv pada Selasa (14/4/2026), rupiah memulai hari di zona negatif dengan penurunan sebesar 0,09% ke posisi Rp17.110 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Senin (13/4/2026), rupiah juga ditutup melemah tipis sebesar 0,06% di level Rp17.095 per dolar AS.

 

Posisi rupiah di atas Rp17.000 sebenarnya sudah berlangsung sejak 1 April 2026. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, pada tanggal tersebut rupiah diperdagangkan rata-rata di level Rp17.002 per dolar AS. Sejak saat itu, nilai tukar rupiah belum kembali turun di bawah Rp17.000 dan bahkan sempat mencapai Rp17.122 per dolar AS pada 13 April 2026.

 

Level ini bahkan telah melampaui posisi tertinggi saat krisis moneter 1998. Saat itu, rupiah yang sebelumnya stabil di kisaran Rp2.500 per dolar AS anjlok tajam hingga menembus Rp15.000 pada awal 1998, bahkan sempat melemah hingga Rp16.800 per dolar AS.

 

Meskipun tekanan terhadap rupiah saat ini cukup kuat hingga melampaui level krisis tersebut, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis 1998.

 

Perbedaan utama terletak pada kekuatan sektor riil. Pada 1998, sektor riil sangat rapuh sehingga tidak mampu menopang pertumbuhan ekonomi, yang kemudian memicu sentimen negatif investor dan menyebabkan depresiasi rupiah yang dalam.

 

Ia menjelaskan bahwa faktor pembeda mencakup sektor riil, kondisi fiskal, serta sektor keuangan. Dibandingkan dengan 1998 maupun 2020 saat pandemi, sektor riil saat ini dinilai lebih kuat, meskipun pada 1997 pertumbuhan ekonomi sempat tinggi namun tidak berkelanjutan.

 

Menurutnya, penguatan sektor riil sangat penting karena menjadi fondasi utama perekonomian dan berkontribusi langsung terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB). Jika sektor ini tetap terjaga, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja, maka ketahanan ekonomi Indonesia akan tetap kuat di tengah tekanan global.

 

Ia juga mencatat adanya indikasi perbaikan, di mana penjualan ritel meningkat dalam lima bulan terakhir tahun 2025 hingga tiga bulan pertama 2026. Namun, setelah pandemi COVID-19, sektor riil sempat melemah signifikan sehingga perlu kembali diperkuat.

 

Selain itu, aspek fiskal juga menjadi perhatian. Tingkat utang Indonesia dan negara lain masih tinggi pasca pandemi, sehingga pemerintah diharapkan mampu mengelola defisit fiskal agar tetap di bawah 3% guna menjaga kepercayaan pasar.

 

Ia menambahkan bahwa dari sisi kelembagaan dan sektor keuangan, kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan masa lalu, sehingga daya tahan dan kemampuan antisipasi terhadap krisis juga meningkat.

 

Di sisi lain, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa bank sentral telah banyak belajar dari krisis 1998 dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan.

 

Menurutnya, dalam kondisi ketidakpastian saat ini, Bank Indonesia lebih memilih mendorong mekanisme pasar berjalan efektif daripada melakukan kontrol devisa. Tujuannya adalah agar aliran modal asing masuk sesuai fundamental ekonomi, sementara BI hanya menjaga stabilitas pasar dan menyerap likuiditas berlebih tanpa mengganggu mekanisme tersebut.

 

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan, BI juga mengandalkan berbagai lapisan perlindungan (layer of defense), termasuk cadangan devisa dan perjanjian swap dengan bank sentral negara lain.

 

Indonesia sendiri telah memiliki kerja sama bilateral swap dengan negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan melalui Chiang Mai Initiative, serta skema multilateral dengan negara ASEAN.

 

Erwin menegaskan bahwa pengalaman krisis 1998 membuat bank sentral memperkuat jaringan pengaman (safety net) baik di tingkat regional maupun global, sehingga saat ini Indonesia memiliki perlindungan yang memadai.

 

Meski demikian, BI tetap mendorong pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai (hedging) guna mengurangi risiko nilai tukar. Instrumen ini berfungsi seperti asuransi untuk mengunci eksposur terhadap fluktuasi rupiah.

 

Dengan adanya hedging, pelaku usaha tidak perlu langsung membeli dolar di pasar spot, melainkan dapat memanfaatkan instrumen yang disediakan perbankan sehingga distribusi permintaan dolar menjadi lebih merata.

 

Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual menambahkan bahwa industri jasa keuangan telah memperkuat sistem perlindungan untuk mencegah krisis serupa terulang, salah satunya dengan meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) perbankan yang kini mencapai sekitar 25,83%, jauh di atas ketentuan minimum 8%.

 

Tingginya CAR ini mencerminkan kehati-hatian perbankan yang masih dipengaruhi pengalaman krisis sebelumnya.

 

Kondisi tersebut membuat pergerakan nilai tukar rupiah saat ini tidak mengalami gejolak ekstrem seperti pada 1998, meskipun secara nominal sudah berada di atas Rp17.000 per dolar AS.

 

Menurut David, bagi pelaku usaha, yang lebih penting bukanlah level nilai tukar tertentu, melainkan tingkat volatilitasnya. Fluktuasi yang terlalu tinggi justru dapat menurunkan kepercayaan dalam pengambilan keputusan bisnis.

 

Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi DJSEF Kementerian Keuangan Noor Faisal Achmad juga menyatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang negara lain dengan kapasitas ekonomi serupa.

 

Ia menilai stabilitas ini didukung oleh fundamental ekonomi makro Indonesia yang kuat, terlihat dari PMI manufaktur yang masih berada di zona ekspansi sebesar 50,1 pada Maret 2026 serta pertumbuhan kredit sekitar 9,37% secara tahunan.

 

Faisal menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih tergolong moderat dibandingkan negara lain, sehingga depresiasinya masih terkendali.

 

Data Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa volatilitas rupiah merupakan yang terendah dibandingkan tujuh mata uang negara lain, dengan tingkat sebesar 4,75. Angka ini lebih rendah dibandingkan India, Filipina, Thailand, Meksiko, Brasil, Argentina, dan Afrika Selatan.

 

Dari sisi depresiasi, rupiah juga masih relatif stabil. Sejak awal tahun hingga pekan ini, pelemahan rupiah tercatat sebesar 2,91%, yang masih sebanding dengan Korea Selatan, India, dan Turki.

 

Faisal menutup dengan menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tetap kuat dibandingkan negara lain, dengan inflasi yang terjaga, kebijakan fiskal yang hati-hati, serta rasio utang yang masih di bawah batas aman 60%.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.