Edukasi
Fear & Greed Index Global Tertekan Geopolitik: Sinyal Ketakutan atau Peluang di Pasar?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 14 February 2025 Waktu baca 5 menit
Pada penutupan perdagangan Rabu (12/2), sebagian besar harga komoditas mengalami penurunan. Namun, harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan timah justru menguat masing-masing sebesar 0,6 persen dan 1,3 persen, didorong oleh ketidakpastian pasokan.
Berikut adalah rangkuman pergerakan harga komoditas dari berbagai sumber:
Harga minyak mentah turun lebih dari 2 persen setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengambil langkah awal dalam upaya diplomasi untuk mengakhiri perang di Ukraina. Konflik ini sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap pasokan global dan mendongkrak harga minyak.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent melemah 2,36 persen ke level USD 75,18 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 2,66 persen menjadi USD 71,37 per barel.
Harga batu bara juga mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Rabu. Berdasarkan data TradingEconomics, harga batu bara turun 0,24 persen menjadi USD 104,50 per ton.
Harga batu bara Newcastle terus merosot hingga di bawah USD 105 per ton, level terendah dalam lebih dari empat tahun, di tengah melimpahnya pasokan di pasar global. China mengumumkan peningkatan produksi sebesar 1,5 persen menjadi 4,82 miliar ton pada 2025, setelah mencetak rekor produksi pada 2024.
Sementara itu, Indonesia juga mencatatkan lonjakan produksi batu bara hingga 836 juta ton pada 2024, melampaui target sebesar 18 persen. Di sisi lain, meningkatnya investasi di energi alternatif seperti tenaga surya dan biofuel berpotensi menghambat permintaan batu bara domestik.
Minyak kelapa sawit mentah (CPO) mencatat kenaikan pada perdagangan Rabu. Berdasarkan TradingEconomics, harga CPO naik 0,63 persen menjadi MYR 4.624 per ton.
Lonjakan harga ini dipengaruhi oleh laporan Dewan Minyak Sawit Malaysia yang mencatat stok minyak sawit turun ke 1,58 juta metrik ton pada akhir Januari, level terendah sejak Mei 2023. Produksi juga mengalami penurunan 16,8 persen menjadi 1,24 juta ton.
Selain itu, permintaan minyak sawit dari India mengalami pemulihan setelah sebelumnya mencapai titik terendah dalam 14 tahun pada Januari. Namun, ketidakpastian pasar meningkat setelah Presiden Trump mengumumkan kebijakan tarif baru. Sementara itu, impor minyak sawit di Eropa untuk musim 2024/25 tercatat turun 21 persen secara tahunan hingga awal Februari, dengan total 1,73 juta ton.
Harga nikel juga mengalami penurunan pada perdagangan Rabu. Berdasarkan data TradingEconomics, harga nikel turun 0,58 persen menjadi USD 15.430 per ton.
Meskipun sempat mengalami sedikit rebound akibat ekspektasi pembatasan produksi, pasar tetap memperkirakan nikel akan mengalami kelebihan pasokan. Laporan menunjukkan bahwa Indonesia tengah mempertimbangkan pengurangan kuota penambangan nikel dari 270 juta ton pada 2024 menjadi 150 juta ton pada 2025, yang berpotensi mengurangi pasokan global hingga 35 persen.
Namun, lonjakan proyek peleburan nikel oleh China di Indonesia setelah larangan ekspor bijih nikel sejak 2020 menambah tekanan pada pasar. Selain itu, inovasi teknologi di sektor baterai yang mulai mengurangi ketergantungan terhadap nikel turut memperburuk prospek logam ini.
Berbeda dengan komoditas lainnya, harga timah justru mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Rabu. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga timah naik 1,33 persen menjadi USD 31.581 per ton.
Menurut TradingEconomics, harga timah berjangka saat ini berada di atas USD 31.000 per ton, level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, didorong oleh ketidakpastian pasokan global. Laporan dari Asosiasi Timah Internasional menunjukkan bahwa izin ekspor timah dari Indonesia diperkirakan akan mengalami keterlambatan akibat hambatan birokrasi terkait perayaan Tahun Baru Imlek, melanjutkan tren dari tahun sebelumnya.
Selain itu, tambang Man Maw di Myanmar belum kembali beroperasi akibat ketegangan politik, sehingga memperburuk pasokan global. Produksi yang lebih rendah dari wilayah Wa Myanmar dalam beberapa tahun terakhir juga menghambat ketersediaan bijih timah untuk peleburan di China, yang terus mengalami keterbatasan pasokan bahan baku. Di sisi lain, permintaan sektor manufaktur China masih menunjukkan tren yang beragam.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: kumparan.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.