Edukasi
Fear & Greed Index Global Tertekan Geopolitik: Sinyal Ketakutan atau Peluang di Pasar?
/index.php
Edukasi - Diposting pada 06 May 2025 Waktu baca 5 menit
Strategi Investasi Berdasarkan Usia: Hindari Kesalahan yang Sama di Setiap Generasi
Investasi kini semakin digemari oleh berbagai lapisan usia, mulai dari generasi muda hingga dewasa menjelang pensiun. Namun, di balik tren positif ini, pola kesalahan yang sama kerap berulang pada tiap kelompok usia. Dari sikap terlalu agresif saat muda hingga terlalu berhati-hati menjelang masa pensiun, kesalahan tersebut dapat berdampak serius terhadap rencana keuangan jangka panjang.
Mengutip laporan CNBC Indonesia, banyak investor—baik pemula maupun yang sudah berpengalaman—tidak menyesuaikan portofolio investasinya dengan tahapan usia dan profil risiko masing-masing.
Usia 20-an: Terlalu Agresif, Abaikan Dana Darurat
Generasi muda umumnya terjun langsung ke pasar saham atau aset kripto dengan harapan mendapatkan keuntungan instan. Sayangnya, banyak yang belum memiliki dana darurat sebagai fondasi keuangan. Padahal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merekomendasikan agar dana darurat sebesar 3 hingga 6 kali pengeluaran bulanan disiapkan terlebih dahulu sebelum mulai berinvestasi.
Usia 30-an: Minim Diversifikasi Aset
Di usia produktif, banyak profesional hanya mengandalkan satu jenis aset, seperti saham atau properti, tanpa mempertimbangkan diversifikasi. Padahal, diversifikasi merupakan strategi penting untuk mengurangi risiko. Mengutip Bareksa, disarankan untuk menyebar investasi ke beberapa instrumen seperti reksa dana, emas, dan obligasi demi keamanan dan pertumbuhan optimal.
Usia 40–50-an: Terlambat Mulai, Terlalu Konservatif
Sebagian besar orang baru mulai berinvestasi menjelang pensiun dan cenderung memilih instrumen konservatif seperti deposito atau obligasi dengan risiko rendah. Akibatnya, imbal hasil yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pensiun. Idealnya, investasi dimulai sejak usia muda untuk memaksimalkan efek compounding atau bunga berbunga dalam jangka panjang.
Agar kesalahan serupa tidak terulang, berikut panduan strategi investasi yang disesuaikan dengan tahapan usia:
Usia 20-an: Fokus membangun dana darurat terlebih dahulu, kemudian mulai berinvestasi dengan nominal kecil melalui reksa dana pasar uang dan saham berkapitalisasi besar (blue chip).
Usia 30-an: Diversifikasi portofolio ke berbagai sektor. Gunakan layanan robo-advisor untuk membantu menentukan alokasi dana yang optimal sesuai profil risiko.
Usia 40–50-an: Kombinasikan aset konservatif seperti obligasi dan emas dengan sebagian kecil aset pertumbuhan seperti saham dividen. Perkuat juga tabungan pensiun untuk menjaga stabilitas keuangan di masa tua.
Berikut simulasi alokasi investasi dengan asumsi penghasilan bulanan Rp7.000.000 dan return tahunan rata-rata 10% dalam jangka waktu 5 tahun:
| Usia | Dana Investasi/Bulan | Alokasi Rekomendasi | Estimasi Return 5 Tahun |
|---|---|---|---|
| 20-an | Rp1.000.000 | 50% saham, 50% reksa dana pasar uang | ±Rp80 juta |
| 30-an | Rp2.000.000 | 40% saham, 30% emas, 30% reksa dana campuran | ±Rp160 juta |
| 40-an | Rp3.000.000 | 60% obligasi, 30% emas, 10% saham dividen | ±Rp190 juta |
Catatan: Estimasi berdasarkan asumsi return tahunan rata-rata 10%.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.