Saham News
IHSG Jatuh ke 6.298, Asing Net Sell Rp1,49 Triliun: 10 Saham Ini Paling Banyak Dilepas
/index.php
Saham News - Diposting pada 25 September 2026 Waktu baca 5 menit
Tekanan besar kembali menghantam Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Kamis, 24 September 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan ditutup turun 76,31 poin atau 1,20% ke level 6.298,61, meninggalkan area 6.300 yang sebelumnya menjadi salah satu level psikologis pasar.
Tekanan juga terjadi secara luas.
Sebanyak 462 saham melemah, sementara 188 saham masih mampu menguat dan 144 saham ditutup stagnan. Seluruh 11 sektor IDX-IC berakhir di zona merah.
Namun di tengah koreksi tersebut, investor asing ternyata masih melakukan pembelian bersih pada sejumlah saham.
Secara keseluruhan, arus dana asing pada hari tersebut tetap negatif.
Investor asing membukukan net sell sekitar Rp1,49 triliun di seluruh pasar.
Di pasar reguler, nilai jual bersih mencapai sekitar Rp1,42 triliun, dengan pembelian asing sekitar Rp2,48 triliun dan penjualan Rp3,90 triliun.
Pasar negosiasi dan tunai juga mencatat net sell sekitar Rp71,85 miliar.
Angka tersebut penting dibedakan karena daftar saham yang paling banyak dibeli asing dalam artikel ini menggunakan data pasar reguler, bukan seluruh pasar.
Di tengah foreign outflow besar, sepuluh saham berikut justru mencatat pembelian bersih investor asing paling tinggi di pasar reguler:
| Peringkat | Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|---|
| 1 | ASII | Rp24,42 miliar |
| 2 | MEDC | Rp20,44 miliar |
| 3 | COIN | Rp20,12 miliar |
| 4 | ASLI | Rp17,10 miliar |
| 5 | TINS | Rp10,36 miliar |
| 6 | BBCA | Rp6,92 miliar |
| 7 | INDF | Rp6,39 miliar |
| 8 | CMNT | Rp6,31 miliar |
| 9 | INET | Rp6,06 miliar |
| 10 | ERAA | Rp4,72 miliar |
Data tersebut terverifikasi dalam rekap foreign flow pasar reguler 24 September.
PT Astra International Tbk (ASII) menempati posisi pertama dengan net foreign buy sekitar Rp24,42 miliar.
Data Indo Premier juga menempatkan ASII sebagai penerima foreign inflow terbesar hari itu.
Besarnya pembelian tersebut memang relatif kecil jika dibandingkan dengan net sell pasar secara keseluruhan Rp1,49 triliun.
Namun angka itu menunjukkan investor asing tidak sepenuhnya meninggalkan pasar Indonesia.
Ada pergeseran dana antar-saham di tengah aksi pengurangan risiko secara agregat.
Posisi kedua ditempati PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dengan pembelian bersih asing sekitar Rp20,44 miliar.
COIN berada tipis di belakangnya dengan sekitar Rp20,12 miliar.
Keduanya menjadi bagian dari sedikit saham yang tetap menarik aliran dana asing ketika seluruh sektor IHSG secara agregat mengalami tekanan.
Namun foreign net buy satu hari belum dapat disimpulkan sebagai pola akumulasi jangka panjang.
Untuk menilai apakah investor asing benar-benar membangun posisi, pola tersebut perlu diamati selama beberapa sesi.
ASLI menjadi salah satu nama paling menarik dalam daftar.
Saham PT Asri Karya Lestari Tbk membukukan net foreign buy sekitar Rp17,10 miliar pada 24 September.
Pada hari yang sama, ASLI ditutup melonjak 17,39% ke Rp486.
Namun ada perkembangan penting setelah penutupan.
BEI menghentikan sementara perdagangan ASLI mulai sesi I 25 September 2026 karena peningkatan harga kumulatif yang signifikan.
Suspensi diterapkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai sebagai langkah cooling down.
Artinya, net buy asing yang besar sehari sebelumnya tidak dapat dibaca sebagai jaminan saham akan terus dapat diperdagangkan atau terus naik.
TINS membukukan net buy asing sekitar Rp10,36 miliar.
BBCA menyusul dengan Rp6,92 miliar.
Hal ini menarik karena di tengah aksi jual besar terhadap sebagian saham perbankan, BBCA masih menerima net buy asing dalam rekap pasar reguler yang digunakan untuk daftar ini.
Namun kondisi tiap saham bank berbeda.
Saham bank lain justru menjadi sasaran utama foreign selling.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, mencapai sekitar Rp531,94 miliar.
BBRI menyusul dengan sekitar Rp141,17 miliar.
TLKM tercatat sekitar Rp84,61 miliar, BUMI Rp74,90 miliar, dan ANTM Rp51,65 miliar.
Besarnya tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar membantu menjelaskan mengapa IHSG tetap jatuh meskipun ASII, MEDC, COIN dan saham lainnya menerima dana asing.
Pelemahan IHSG tidak hanya ditopang oleh beberapa saham besar.
Seluruh 11 sektor IDX-IC terkoreksi.
Sektor barang baku turun paling dalam sekitar 2,17%.
Industri melemah sekitar 2,09%, sedangkan properti turun sekitar 1,66%.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan pasar bersifat cukup luas.
Jadi koreksi 1,20% bukan hanya fenomena satu sektor.
Nilai transaksi sepanjang hari mencapai sekitar Rp11,23 triliun.
Sebanyak 29,31 miliar saham berpindah tangan melalui sekitar 1,66 juta transaksi.
Dari jumlah itu, transaksi reguler bernilai sekitar Rp9,78 triliun.
Pasar negosiasi menyumbang sekitar Rp1,45 triliun.
Daripada menyebut transaksi “sepi” tanpa pembanding, lebih aman menyampaikan angka aktual karena penilaian tinggi atau rendah seharusnya dibandingkan dengan rata-rata periode tertentu.
Sejumlah laporan pasar mengaitkan pelemahan tersebut dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik.
Harga minyak global kembali meningkat, rupiah melemah, dan yield obligasi pemerintah AS kembali naik.
Kondisi tersebut dapat mengurangi selera risiko investor terhadap aset emerging market.
Namun tidak ada satu faktor yang dapat secara pasti menjelaskan seluruh perubahan IHSG dalam satu hari.
Komposisi perdagangan investor lokal, foreign flow, harga komoditas, dan pergerakan saham big cap juga ikut memengaruhi indeks.
Data aliran investor asing memang banyak digunakan untuk membaca perilaku institusi.
Tetapi saham yang masuk daftar net foreign buy tidak otomatis berarti “direkomendasikan asing”.
Net foreign buy hanya menunjukkan nilai pembelian investor asing lebih besar daripada penjualannya dalam periode tersebut.
Besok, aliran tersebut dapat berubah.
ASLI bahkan memberikan contoh nyata: saham mencatat net buy asing dan melonjak pada 24 September, tetapi perdagangan kemudian dihentikan sementara BEI pada sesi berikutnya.
Untuk membaca potensi akumulasi, investor dapat membandingkan foreign flow setidaknya selama beberapa hari.
Ada tiga hal yang dapat diperhatikan:
Konsistensi aliran dana. Apakah asing terus membeli saham yang sama?
Arah harga. Apakah harga mampu bertahan ketika net buy terjadi?
Likuiditas dan volume. Apakah pembelian terjadi dalam transaksi yang cukup dalam, atau hanya berasal dari periode tertentu?
Semakin konsisten ketiga faktor tersebut, semakin berguna foreign flow sebagai data pendukung analisis.
Tetapi data itu tetap tidak menggantikan pemeriksaan fundamental perusahaan dan valuasi.
IHSG turun 1,20% ke 6.298,61 pada 24 September 2026, dengan 462 saham melemah dan seluruh sektor IDX-IC berada di zona negatif.
Investor asing membukukan net sell Rp1,49 triliun di seluruh pasar, termasuk Rp1,42 triliun di pasar reguler.
Meski demikian, beberapa saham tetap menerima pembelian asing.
ASII menjadi top foreign net buy sebesar Rp24,42 miliar, disusul MEDC Rp20,44 miliar, COIN Rp20,12 miliar, ASLI Rp17,10 miliar, serta TINS Rp10,36 miliar.
BBCA, INDF, CMNT, INET dan ERAA melengkapi 10 besar.
Namun foreign flow tersebut harus dibaca sebagai snapshot satu sesi perdagangan, bukan prediksi bahwa harga saham akan naik.
Hal itu semakin relevan untuk ASLI, yang sehari setelah masuk daftar net foreign buy justru disuspensi BEI karena peningkatan harga kumulatif signifikan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal, bukan rekomendasi personal untuk membeli, menjual, atau mempertahankan saham tertentu.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.