Edukasi
Fear & Greed Index Global Tertekan Geopolitik: Sinyal Ketakutan atau Peluang di Pasar?
/index.php
Teknologi Terkini - Diposting pada 03 May 2025 Waktu baca 5 menit
CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa China tidak tertinggal jauh dari Amerika Serikat dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi teknologi di Washington, DC, pada Rabu (30/4).
Menurut Huang, meskipun posisi China sedikit di belakang AS, jaraknya tidak signifikan. "Kami sangat dekat. Perlu diingat bahwa ini adalah perlombaan panjang dan tidak ada garis akhirnya," ujarnya, dikutip oleh Anadolu Agency pada Kamis (1/5).
Huang juga memberikan apresiasi kepada Huawei atas kemajuan pesat yang mereka capai dalam teknologi AI, khususnya di bidang komputasi dan jaringan. “Huawei luar biasa dalam teknologi jaringan dan komputasi—keduanya merupakan komponen penting untuk pengembangan AI,” kata Huang.
Ia menambahkan bahwa Huawei telah mencetak lompatan besar dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, Huang juga menekankan pentingnya AS mempercepat regulasi terkait AI agar bisa tetap unggul dalam persaingan global.
“Kita perlu berlomba dalam sektor ini,” tegasnya.
Huang juga menyatakan optimisme bahwa Nvidia mampu memproduksi perangkat keras AI di dalam negeri, khususnya melalui kemitraannya dengan Foxconn di Houston, AS. “Dengan tekad kuat dan sumber daya nasional, saya yakin kita bisa memproduksi di Amerika,” tambahnya.
Selama beberapa tahun terakhir, Nvidia memainkan peran krusial dalam ekonomi global dengan memproduksi chip yang menjadi tulang punggung berbagai aplikasi AI, didukung oleh investasi miliaran dolar.
Salah satu investasi besar terbaru diumumkan pada 14 April lalu, yaitu rencana pembangunan server AI di AS senilai hingga US$500 miliar dalam empat tahun ke depan dengan dukungan dari mitra seperti TSMC.
Namun, perusahaan chip asal AS ini juga menghadapi tantangan besar, termasuk hambatan perdagangan dan regulasi dari pemerintahan Joe Biden yang membatasi penjualan prosesor AI mutakhir ke negara lain.
Terlebih lagi, sejak 15 April, pemerintah AS di bawah Donald Trump telah melarang ekspor prosesor Nvidia H20 ke China tanpa izin khusus, yang diperkirakan menyebabkan kerugian hingga US$5,5 miliar bagi Nvidia.
Sumber: cnnindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.