Saham News
Haji Isam Disebut Mau Caplok BCA, OJK: Jadi Pengendali Tak Semudah Itu
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 05 October 2026 Waktu baca 5 menit
Lebih dari 1.100 gerai Starbucks di Asia akan berada di bawah kendali operasional baru.
DFI Retail Group mengumumkan kesepakatan untuk mengambil alih kepentingan Maxim’s Caterers dalam bisnis Starbucks berlisensi yang beroperasi di tujuh pasar Asia.
Wilayah tersebut mencakup Hong Kong, Makau, Singapura, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Laos.
Indonesia tidak termasuk dalam transaksi.
Kesepakatan ini menarik bukan hanya karena skala jaringan tokonya. Struktur transaksinya juga tidak seperti pembelian perusahaan pada umumnya.
DFI akan memperoleh bisnis Starbucks tersebut sekaligus menerima pembayaran tunai sekitar US$340 juta dari Maxim’s, sebelum penyesuaian saat transaksi selesai.
Hal pertama yang perlu diluruskan adalah objek transaksinya.
DFI tidak membeli Starbucks Corporation dan tidak mengambil alih merek Starbucks secara global.
Yang berpindah adalah kepentingan Maxim’s dalam Starbucks licensed business, yang dijalankan melalui Coffee Concepts dan mencakup lebih dari 1.100 kedai di tujuh pasar Asia.
Dalam model lisensi seperti ini, merek Starbucks tetap berada di bawah Starbucks, sementara operator berlisensi mengelola jaringan di pasar tertentu berdasarkan perjanjian dengan pemilik merek.
Karena itu, lebih tepat menyebut kesepakatan ini sebagai pengalihan pengelolaan dan kepentingan dalam bisnis Starbucks berlisensi di kawasan tertentu.
Saat ini DFI secara tidak langsung mempunyai 50% saham Maxim’s Caterers.
Dalam transaksi yang diumumkan 30 September 2026, Maxim’s akan membeli kembali seluruh saham Maxim’s yang dimiliki DFI.
Sebagai imbalannya, DFI akan menerima dua hal.
Pertama, seluruh kepentingan Maxim’s dalam bisnis Starbucks berlisensi yang menjadi objek transaksi.
Kedua, pembayaran tunai sekitar US$340 juta, sebelum penyesuaian berdasarkan kondisi keuangan pada saat penyelesaian transaksi.
DFI menjelaskan bahwa kas tersebut mencerminkan perbedaan valuasi antara kepemilikan 50% DFI di Maxim’s dengan nilai kepentingan Maxim’s dalam bisnis Starbucks berlisensi yang dialihkan.
Jadi, US$340 juta bukan “harga pembelian Starbucks” yang dibayar DFI.
Justru DFI merupakan pihak yang dijadwalkan menerima uang tersebut.
Jaringan Starbucks yang akan berpindah ke bawah DFI mencakup lebih dari 1.100 coffeehouse.
Tujuh pasarnya adalah:
Hong Kong
Makau
Singapura
Thailand
Vietnam
Kamboja
Laos
Indonesia tidak termasuk.
Hal tersebut penting karena DFI sendiri mempunyai bisnis di Indonesia, termasuk melalui kategori kesehatan dan kecantikan serta home furnishing.
Namun keberadaan DFI di Indonesia tidak otomatis berarti Starbucks Indonesia masuk ke transaksi ini.
Kesepakatan hanya mencakup jaringan Starbucks yang secara spesifik saat ini berada dalam bisnis lisensi Maxim’s yang dialihkan.
DFI bukan pemain baru dalam dunia ritel Asia.
Akar perusahaan bermula pada 1886 ketika The Dairy Farm Company Limited didirikan di Hong Kong oleh dokter asal Skotlandia Sir Patrick Manson bersama lima pengusaha Hong Kong.
Tujuan awalnya sangat berbeda dari bisnis DFI sekarang: menyediakan susu sapi yang bersih, tidak terkontaminasi, dan terjangkau untuk masyarakat Hong Kong.
Perusahaan tersebut kemudian berkembang dari peternakan susu menjadi kelompok ritel multiformat.
Pada 2021, identitas korporasi Dairy Farm diperbarui menjadi DFI Retail Group.
Kini DFI merupakan bagian dari Jardine Matheson Group.
Portofolio DFI tersebar di berbagai kategori ritel.
Pada bisnis kesehatan dan kecantikan, kelompok ini menjalankan merek seperti Guardian dan Mannings.
Di convenience store, DFI mengoperasikan 7-Eleven di sejumlah pasar Asia.
Untuk bisnis food retail, jaringannya mencakup Wellcome, Market Place, San Miu, dan Lucky.
DFI juga mengoperasikan bisnis IKEA di Hong Kong, Makau, Taiwan, dan Indonesia.
Penting untuk membedakan pengoperasian bisnis berdasarkan lisensi atau hak pasar dengan kepemilikan merek secara global. DFI bukan pemilik global IKEA, 7-Eleven, ataupun Starbucks.
Per 30 Juni 2026, DFI bersama perusahaan asosiasinya mengoperasikan 7.659 gerai di 12 pasar Asia dan mempekerjakan lebih dari 81.000 orang.
Pendapatan yang dilaporkan dari anak perusahaan mencapai US$8,9 miliar pada 2025.
Induknya, DFI Retail Group Holdings Limited, berbadan hukum Bermuda.
Saham perusahaan mempunyai pencatatan utama di London Stock Exchange dengan secondary listing di Bermuda dan Singapura. Aktivitas bisnis kelompok dikelola dari Hong Kong.
Skala itu memberikan DFI infrastruktur yang sudah luas dalam pengadaan barang, jaringan toko, real estat, digital, program loyalitas, serta supply chain.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu alasan strategis di balik rencana memasukkan Starbucks lebih langsung ke dalam operasi grup.
Bisnis Starbucks berlisensi yang akan dialihkan juga bukan bisnis kecil.
Menurut pengumuman resmi DFI, jaringan tersebut menghasilkan pendapatan mendekati US$750 juta pada 2025, dengan underlying operating margin sekitar 7,0%.
Pendapatan bisnis itu tumbuh dengan tingkat tahunan majemuk sekitar 3,5% selama 2023–2025.
Setelah transaksi selesai, DFI berharap bisnis Starbucks tersebut langsung memberikan tambahan terhadap pendapatan dan operating margin bisnis ritel intinya.
Namun angka-angka ke depan masih berupa proyeksi perusahaan.
Jika transaksi selesai sesuai rencana, DFI memperkirakan Starbucks akan menyumbang pendapatan sekitar US$600 juta–US$650 juta selama April hingga Desember 2027.
Untuk setahun penuh 2028, kontribusi pendapatannya diproyeksikan mencapai sekitar US$900 juta.
DFI juga menargetkan pertumbuhan pendapatan tahunan majemuk sebesar 6%–7% pada 2026–2029.
Pertumbuhan tersebut diharapkan ditopang oleh kenaikan produktivitas toko dan ekspansi jaringan.
DFI menargetkan jaringan Starbucks di tujuh pasar tersebut berkembang menjadi setidaknya 1.350 lokasi.
Artinya, jika basis awalnya sedikit di atas 1.100 toko, DFI membayangkan ekspansi ratusan lokasi dalam beberapa tahun mendatang.
Perusahaan juga menargetkan operating margin jangka menengah sekitar 8%–9%, lebih tinggi dari underlying operating margin bisnis tersebut sebesar 7,0% pada 2025.
Selain pertumbuhan organik, DFI memperkirakan sekitar US$10 juta operating synergies dapat direalisasikan pada tahun penuh pertama setelah konsolidasi.
Sinergi tersebut diharapkan datang dari area seperti procurement, overhead, dan optimalisasi real estat.
Seluruh angka tersebut tetap merupakan target internal perusahaan, bukan hasil yang sudah tercapai.
Transaksi ini merupakan bagian dari perubahan strategi DFI.
Manajemen menyebutnya sebagai tonggak akhir pergeseran dari portfolio company menuju focused operating company.
Sebelumnya DFI memiliki kepentingan 50% di Maxim’s, yang mengoperasikan beragam bisnis restoran, bakery, katering, dan merek berlisensi.
Setelah reorganisasi, Hongkong Caterers akan menjadi pemegang saham tunggal Maxim’s.
DFI keluar dari kepemilikan tersebut dan sebagai gantinya memperoleh kontrol langsung atas bisnis Starbucks berlisensi.
Dengan begitu, DFI dapat lebih langsung mengintegrasikan Starbucks dengan platform operasinya.
Tidak seluruh bisnis Maxim’s pindah ke DFI.
Hongkong Caterers akan tetap memiliki Maxim’s dan menjalankan portofolio restoran serta bakery-nya.
Maxim’s juga memiliki hubungan lisensi dengan sejumlah merek internasional seperti Genki Sushi, Shake Shack, The Cheesecake Factory, dan COVA.
Namun transaksi yang diumumkan ini secara spesifik memindahkan kepentingan pada bisnis Starbucks.
Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa DFI mengambil alih seluruh Maxim’s atau seluruh portofolio restorannya.
DFI dan Hongkong Caterers menyatakan bahwa operasi sehari-hari Starbucks maupun bisnis Maxim’s tidak berubah hanya karena pengumuman transaksi.
Pengalihan masih membutuhkan proses penyelesaian.
Termasuk di dalamnya persetujuan pihak ketiga, persetujuan otoritas persaingan usaha yang relevan, serta proses pemisahan internal bisnis Starbucks dari kegiatan Maxim’s lainnya.
Target penyelesaian saat ini adalah akhir Maret 2027.
Dalam dokumen transaksi, terdapat mekanisme perpanjangan apabila sejumlah persyaratan belum selesai pada tenggat tertentu.
Jadi jaringan tersebut belum dapat dianggap telah sepenuhnya menjadi anak usaha DFI pada saat pengumuman 30 September 2026.
Bagi pembaca Indonesia, ini menjadi salah satu poin yang paling penting.
DFI memang memiliki jejak bisnis di Indonesia.
Namun transaksi Starbucks ini hanya menyebut tujuh pasar: Thailand, Hong Kong, Singapura, Vietnam, Kamboja, Makau, dan Laos.
Karena itu, perubahan struktur Maxim’s–DFI tersebut tidak boleh ditulis seolah-olah 1.100 gerai yang dimaksud termasuk jaringan Starbucks Indonesia.
DFI Retail Group akan mengambil alih kepentingan Maxim’s dalam bisnis Starbucks berlisensi yang mencakup lebih dari 1.100 kedai di tujuh pasar Asia.
Sebagai bagian dari reorganisasi, Maxim’s akan membeli kembali kepemilikan 50% DFI di Maxim’s. DFI kemudian menerima bisnis Starbucks tersebut sekaligus sekitar US$340 juta tunai sebelum penyesuaian.
Jadi transaksi ini bukan pembelian Starbucks Corporation dan bukan pula akuisisi seluruh bisnis Maxim’s.
Bagi DFI, langkah tersebut merupakan pergeseran dari investasi melalui kepemilikan Maxim’s menuju pengelolaan Starbucks secara lebih langsung.
Perusahaan menargetkan jaringan berkembang menjadi sedikitnya 1.350 kedai, pendapatan sekitar US$900 juta pada 2028, serta pertumbuhan 6%–7% per tahun hingga 2029.
Namun target tersebut tetap bergantung pada penyelesaian transaksi dan performa bisnis setelah integrasi.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.