Asing Net Sell Rp1,27 Triliun Saat IHSG Naik, 10 Saham Ini Justru Diborong

Saham News - Diposting pada 05 October 2026 Waktu baca 5 menit

Asing Net Sell Rp1,27 Triliun Saat IHSG Naik, 10 Saham Ini Justru Diborong

Jakarta, 2 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menutup perdagangan Jumat di zona hijau. Namun penguatan indeks ternyata tidak diikuti masuknya dana asing secara keseluruhan.

IHSG menguat 27,38 poin atau 0,46% ke level 6.036,89, sementara investor asing justru mencatat penjualan bersih atau net sell sekitar Rp1,27 triliun di seluruh pasar.

Meski arus dana asing secara agregat keluar, sejumlah saham tetap menjadi sasaran pembelian. BBCA, EMAS, PTBA, ASII hingga ULTJ termasuk dalam daftar saham yang mencatat net foreign buy berdasarkan snapshot Stockbit yang menjadi sumber materi ini.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa investor asing tidak selalu menjual seluruh pasar secara bersamaan. Di tengah pengurangan eksposur secara agregat, pembelian selektif tetap terjadi.

 

IHSG Berhasil Tutup di Zona Hijau

IHSG membuka perdagangan di level 6.018,08.

Pergerakannya cukup fluktuatif. Indeks sempat naik ke posisi tertinggi 6.053,23 sebelum berbalik turun hingga menyentuh titik terendah 5.979,98.

Menjelang penutupan, tekanan mereda dan IHSG kembali ke atas level 6.000 hingga ditutup di 6.036,89.

Sepanjang perdagangan, sebanyak 319 saham menguat, 337 saham melemah, dan 134 saham tidak bergerak.

Total volume perdagangan mencapai 121,54 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp12,26 triliun dan frekuensi sekitar 1,62 juta transaksi.

 

Teknologi dan Energi Jadi Penopang

Penguatan indeks didukung sejumlah sektor.

Sektor teknologi memimpin dengan penguatan sekitar 1,51%, disusul energi sekitar 1,12% dan barang konsumen primer sekitar 0,67%.

Sektor keuangan juga masih berada di zona positif.

Namun tidak semua sektor menguat. Industri, transportasi dan logistik, serta infrastruktur termasuk kelompok yang mengalami koreksi.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa kenaikan IHSG tidak terjadi merata di seluruh pasar.

 

Asing Net Sell Rp1,27 Triliun

Di balik penguatan indeks, investor asing masih menjadi penjual bersih.

Net foreign sell di seluruh pasar tercatat sekitar Rp1,27 triliun.

Khusus pasar reguler, penjualan bersih asing lebih besar, yakni sekitar Rp1,31 triliun.

Sementara itu, transaksi di pasar negosiasi dan tunai menghasilkan net buy asing sekitar Rp32,82 miliar.

Perbedaan tersebut penting karena angka foreign flow dapat berubah tergantung cakupan pasar yang digunakan.

Secara keseluruhan, nilai pembelian investor asing tercatat sekitar Rp4,26 triliun, sedangkan nilai penjualannya mencapai Rp5,53 triliun.

Artinya, asing tetap melakukan pembelian dalam jumlah besar. Hanya saja nilai penjualannya lebih besar sehingga menghasilkan posisi net sell.

 

Investor Domestik Menjadi Penyeimbang

Arah transaksi investor domestik justru berlawanan.

Pembelian domestik tercatat sekitar Rp8,00 triliun, sementara nilai penjualan sekitar Rp6,73 triliun.

Secara aritmetika, kondisi tersebut membantu mengimbangi arus jual investor asing.

Ini juga menjelaskan mengapa IHSG masih dapat menguat meskipun foreign flow secara keseluruhan negatif.

Arah indeks tidak ditentukan oleh transaksi asing saja. Aktivitas investor domestik, bobot masing-masing saham, likuiditas, serta pergerakan sektor juga ikut memengaruhi indeks.

 

BBCA Jadi Net Buy Terbesar

Dalam daftar yang menjadi basis artikel ini, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net foreign buy terbesar sekitar Rp44,19 miliar.

BBCA bahkan tetap menjadi tujuan pembelian asing meskipun secara keseluruhan investor asing sedang melakukan pengurangan posisi di pasar Indonesia.

Posisi berikutnya ditempati PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan net buy Rp29,57 miliar.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyusul tipis dengan Rp29,13 miliar.

PT Astra International Tbk (ASII) berada di peringkat keempat dengan Rp18,06 miliar, sementara PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencatat Rp16,14 miliar.

 

10 Saham yang Tetap Diborong Asing

Berikut daftar net foreign buy berdasarkan snapshot Stockbit yang digunakan dalam materi sumber:

Peringkat Saham Net Foreign Buy
1 BBCA Rp44,19 miliar
2 EMAS Rp29,57 miliar
3 PTBA Rp29,13 miliar
4 ASII Rp18,06 miliar
5 ULTJ Rp16,14 miliar
6 DEWA Rp14,59 miliar
7 BUMI Rp13,25 miliar
8 SMGR Rp10,38 miliar
9 TINS Rp8,84 miliar
10 AMMN Rp8,10 miliar

Daftar tersebut memperlihatkan variasi sektor yang cukup luas.

Ada saham perbankan, pertambangan emas dan batu bara, otomotif, produk konsumen, jasa pertambangan, semen, hingga komoditas logam.

Dengan kata lain, pembelian asing tidak hanya terkonsentrasi pada satu tema investasi.

 

Saham Komoditas Cukup Dominan

EMAS, PTBA, DEWA, BUMI, TINS, dan AMMN memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan sektor pertambangan atau komoditas.

Kehadiran beberapa saham tersebut dalam daftar menunjukkan adanya pembelian selektif terhadap emiten berbasis sumber daya.

Namun data satu hari tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing sedang melakukan rotasi besar menuju sektor komoditas.

Untuk menyebut adanya tren akumulasi, pola pembelian idealnya perlu muncul secara konsisten selama beberapa sesi.

 

BBCA Berbeda dengan Bank Lain

BBCA juga menarik untuk diperhatikan karena arus asing pada saham perbankan tidak seragam.

Pada hari yang sama, sejumlah saham bank lain justru mengalami penjualan bersih asing yang besar.

Artinya, menyimpulkan bahwa asing sedang “membeli sektor bank” hanya karena BBCA mencatat net buy akan terlalu luas.

Investor institusional dapat meningkatkan posisi pada satu emiten sekaligus mengurangi posisi pada emiten lain di sektor yang sama.

 

Net Buy Bukan Rekomendasi Beli

Daftar foreign flow sering digunakan investor sebagai salah satu indikator perilaku institusi.

Namun saham yang banyak dibeli asing tidak otomatis berarti harganya akan naik pada perdagangan berikutnya.

Net foreign buy hanya menunjukkan bahwa nilai transaksi beli asing lebih besar dibandingkan nilai jual asing pada periode tersebut.

Aliran tersebut dapat berbalik pada sesi berikutnya.

Karena itu, foreign flow sebaiknya dibaca bersama kinerja keuangan perusahaan, valuasi, harga, volume perdagangan, keterbukaan informasi, serta tren selama beberapa hari.

 

Kenapa Ada Perbedaan Daftar Antarprovider?

Investor mungkin menemukan daftar top foreign buy yang sedikit berbeda pada aplikasi atau media lain.

Hal tersebut dapat terjadi karena basis pasar dan waktu pengambilan data tidak sama.

Sebagai contoh, data bisa menggunakan pasar reguler saja atau seluruh pasar yang juga memasukkan transaksi negosiasi dan tunai.

Transaksi berukuran besar pada pasar tertentu juga dapat mengubah ranking.

Karena itu, saat membandingkan foreign flow, pembaca perlu memastikan bahwa data berasal dari periode dan cakupan pasar yang sama.

 

Kesimpulan

IHSG mengakhiri perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, dengan kenaikan 0,46% ke level 6.036,89.

Penguatan itu terjadi meskipun investor asing membukukan net sell sekitar Rp1,27 triliun di seluruh pasar.

Di tengah arus keluar tersebut, investor asing tetap melakukan pembelian selektif.

Berdasarkan snapshot yang digunakan dalam materi ini, BBCA mencatat net foreign buy terbesar Rp44,19 miliar, disusul EMAS Rp29,57 miliar, PTBA Rp29,13 miliar, ASII Rp18,06 miliar, dan ULTJ Rp16,14 miliar.

DEWA, BUMI, SMGR, TINS, dan AMMN melengkapi daftar.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa foreign net sell secara agregat tidak berarti investor asing menjual seluruh saham di BEI.

Mereka tetap dapat mengurangi eksposur pasar secara keseluruhan sambil menambah posisi pada emiten tertentu.

 

 

 

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal, bukan rekomendasi personal untuk membeli, menjual, atau mempertahankan saham tertentu.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.