Edukasi
7 Profesi Baru Bergaji Fantastis! Penghasilan Bisa Tembus Rp2 Miliar, Banyak Diburu Perusahaan
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 19 May 2026 Waktu baca 5 menit
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara tiba-tiba mengumumkan pembatalan rencana serangan terhadap Iran yang semula dijadwalkan berlangsung pada Selasa. Keputusan penting tersebut diambil setelah tiga pemimpin kawasan Timur Tengah meminta dirinya untuk menahan langkah militer itu.
Mengutip laporan CNBC International, Trump menyampaikan keputusan tersebut melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social. Ia mengaku telah memberikan instruksi langsung kepada petinggi militer AS untuk membatalkan operasi udara ofensif itu setelah menerima permintaan diplomatik dari para sekutu dekat Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Trump menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap permintaan para pemimpin Arab, yakni Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
“Saya telah memberi tahu pimpinan militer AS bahwa kita TIDAK akan melaksanakan serangan yang telah dijadwalkan terhadap Iran besok, mengingat adanya permintaan dari Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan,” tulis Donald Trump melalui akun Truth Social miliknya, dikutip Selasa (19/5/2026).
Sebelum unggahan tersebut muncul, sebenarnya belum ada tanda-tanda jelas bahwa AS tengah mempersiapkan serangan terhadap Iran pada Selasa yang berpotensi menghancurkan sisa kesepakatan gencatan senjata kedua negara. Namun, dalam wawancara terpisah dengan New York Post pada Senin pagi, Trump sempat memberikan sinyal ancaman dengan menyebut Teheran mengetahui apa yang akan terjadi, meski ia tidak mengungkap detail lebih lanjut.
Sebelumnya, Trump memang mempertimbangkan untuk melanjutkan operasi militer aktif setelah respons terbaru Iran dalam negosiasi perdamaian dianggap belum memuaskan. Dalam acara di Gedung Putih pada Senin sore, Trump mengonfirmasi bahwa militer AS sebenarnya telah berada dalam kondisi siap tempur untuk menyerang Iran.
Trump mengatakan bahwa penundaan serangan ini bersifat sementara sambil menunggu perkembangan negosiasi.
“Kami sebenarnya sudah bersiap melakukan serangan besar besok. Saya menundanya untuk sementara, semoga bisa selamanya, tetapi kemungkinan besar hanya sementara karena kami sedang menjalani pembicaraan besar dengan Iran dan kami akan melihat bagaimana hasil akhirnya,” ujar Donald Trump di Gedung Putih.
Ia juga menegaskan bahwa penundaan operasi militer tersebut hanya diberikan dalam waktu yang sangat terbatas. Trump menekankan bahwa Iran harus memenuhi syarat utama agar eskalasi konflik dapat dihentikan sepenuhnya.
“Saya diminta oleh banyak negara untuk menunda serangan besar terhadap Iran selama dua atau tiga hari saja karena mereka yakin kesepakatan sudah sangat dekat tercapai,” kata Trump.
“Jika Iran bersedia menerima kesepakatan tanpa kepemilikan senjata nuklir, maka kami kemungkinan juga akan merasa puas,” tambahnya.
Dalam unggahan media sosialnya pada Senin, Trump mengklaim ketiga pemimpin kawasan tersebut meminta penundaan karena melihat adanya peluang tercapainya kesepakatan dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung. Para pemimpin Arab menilai kesepakatan damai nantinya akan menguntungkan seluruh pihak yang terlibat dalam konflik geopolitik tersebut.
Trump juga mengungkapkan optimisme terhadap rancangan kesepakatan baru yang sedang dibahas.
“Negosiasi serius kini sedang berlangsung dan menurut pandangan mereka sebagai Pemimpin Besar dan Sekutu, sebuah Kesepakatan akan tercapai yang dapat diterima oleh Amerika Serikat, seluruh negara di Timur Tengah, dan kawasan sekitarnya. Yang paling penting, kesepakatan itu akan memastikan IRAN TIDAK MEMILIKI SENJATA NUKLIR!” tulis Trump.
Meski membatalkan serangan untuk Selasa, Presiden AS itu tetap memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine untuk tetap berada dalam status siaga penuh. Trump menginstruksikan pasukan AS agar segera melancarkan serangan besar tanpa penundaan apabila rancangan perjanjian damai tersebut gagal mencapai kesepakatan.
Di tengah situasi Washington yang memanas, Hegseth dilaporkan melakukan perjalanan ke Kentucky pada Senin untuk menghadiri agenda politik bersama kandidat DPR dari Partai Republik guna menantang Thomas Massie yang ingin disingkirkan Trump dari Kongres. Sementara itu di kawasan konflik, AS dan Iran masih terjebak dalam kebuntuan militer dan ekonomi yang berpusat di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia yang terus diblokade selama perang sehingga menghambat sebagian besar kapal melintas.
Persaingan memperebutkan kendali atas selat strategis tersebut semakin memperburuk kondisi gencatan senjata yang sudah rapuh. Walaupun gencatan senjata yang dimulai hampir enam minggu lalu secara resmi masih berlaku, situasi di lapangan terus diwarnai bentrokan. Bahkan pekan lalu Trump sempat menyindir bahwa kondisi gencatan senjata itu berada dalam keadaan kritis.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.