Rupiah Melemah, Investor Terancam Kabur hingga Risiko PHK Mengintai

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 19 May 2026 Waktu baca 5 menit

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pelaku bisnis dan investor.

 

Situasi ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi di sektor industri, tetapi juga berisiko memicu arus keluar modal asing, menghambat perluasan usaha, hingga membuka peluang terjadinya PHK.

 

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menyatakan bahwa pelemahan rupiah menjadi pertanda bahwa kondisi makroekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan berat.

 

“Kemerosotan rupiah memberikan sinyal bahwa situasi makroekonomi tengah berada dalam tekanan yang besar. Semakin rendah nilai tukar rupiah, pelaku usaha makin cemas terhadap kenaikan biaya impor bahan baku, mesin industri, hingga ongkos logistik,” kata Bhima kepada Kompas.com pada Senin (18/5/2026).

 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor menjadi lebih waspada untuk menanamkan modal di Indonesia, terutama pada investasi jangka panjang seperti pembangunan pabrik maupun ekspansi industri.

 

Bhima menjelaskan bahwa pelemahan kurs menyebabkan biaya investasi meningkat akibat adanya tambahan risiko atau risk premium yang harus ditanggung investor.

 

“Investor mulai mempertimbangkan kembali masuk ke Indonesia karena biaya investasi semakin mahal. Risiko nilai tukar meningkat, imbal hasil obligasi naik, dan biaya pinjaman bank juga berpotensi bertambah,” ujarnya.

 

Bhima menilai fluktuasi kurs yang terus terjadi membuat investor kehilangan kepastian dalam menyusun strategi bisnis jangka panjang.

 

Menurutnya, investor yang sebelumnya memiliki rencana investasi lima hingga sepuluh tahun kini lebih memilih strategi jangka pendek karena khawatir terhadap ketidakstabilan ekonomi.

 

“Jika kondisi kurs terus bergejolak seperti saat ini, maka perencanaan bisnis investor juga akan berubah. Dampaknya, ada kemungkinan terjadi capital flight, investor yang semula ingin masuk akhirnya membatalkan rencana, sedangkan industri yang sudah berjalan dapat menunda ekspansi bahkan mempertimbangkan relokasi,” kata Bhima.

 

Ia menambahkan bahwa pelemahan rupiah juga akan memengaruhi daya beli masyarakat karena berpotensi memicu inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

 

“Pelaku usaha tentu melihat bahwa pelemahan kurs akan berdampak pada daya beli dan inflasi, sehingga mereka mulai menyesuaikan strategi bisnis di Indonesia,” katanya.

 

Bhima mengingatkan pemerintah agar segera mengambil langkah mitigasi supaya tekanan terhadap rupiah tidak semakin berat. Bahkan, ia memperkirakan rupiah bisa menembus Rp20.000 per dolar AS apabila pelemahan terus terjadi tanpa intervensi yang efektif.

 

“Jika saat ini kurs berada di sekitar Rp17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah berpotensi melampaui Rp20.000 per dolar AS,” ujarnya.

 

Menurut Bhima, tekanan global eksternal memang menjadi salah satu penyebab utama melemahnya rupiah. Namun, ia menilai kondisi fundamental ekonomi domestik dan komunikasi pemerintah juga ikut memengaruhi pandangan investor.

 

“Siapa yang ingin berinvestasi di tengah kondisi ekonomi yang dianggap rapuh atau sangat tidak stabil seperti sekarang?” kata Bhima.

 

Selain menghambat masuknya investasi baru, Bhima menyebut pelemahan rupiah juga membuat akses pembiayaan perusahaan menjadi lebih sulit dan mahal.

 

Ia mencontohkan perusahaan yang hendak menerbitkan saham di pasar modal kini menghadapi tantangan akibat kondisi bursa saham yang sedang melemah.

 

“Dampak yang paling terasa ada pada sisi pembiayaan. Semuanya menjadi lebih mahal dan lebih sulit. Kalaupun perusahaan tetap melakukan ekspansi, mereka harus menanggung biaya yang jauh lebih besar,” tuturnya.

 

Menurut Bhima, kondisi tersebut harus segera diantisipasi agar tidak semakin menekan aktivitas industri nasional dan memperbesar risiko gelombang PHK di berbagai sektor usaha.

 

“Sebenarnya dampak yang paling nyata ada pada pembiayaan yang menjadi lebih mahal dan lebih sulit, sehingga ketika perusahaan tetap berekspansi, biaya yang harus dibayar menjadi jauh lebih tinggi,” tegas Bhima.

 

Pelemahan rupiah yang mencapai level Rp17.667 per dolar AS pada Senin (18/5/2026) mulai memunculkan kecemasan di kalangan pengusaha dan investor.

 

Kondisi itu dinilai bukan hanya menekan biaya produksi industri, tetapi juga berpotensi mendorong keluarnya modal asing dan meningkatkan risiko PHK, khususnya di sektor padat karya.

 

Industri manufaktur paling terdampak

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Bob Azam, mengatakan bahwa pelemahan rupiah paling besar menekan sektor manufaktur karena sebagian besar bahan bakunya masih berasal dari impor.

 

“Sekitar 70 persen bahan baku industri manufaktur masih impor. Dalam setahun terakhir rupiah juga telah terdepresiasi lebih dari 7 persen dan hal itu langsung meningkatkan biaya produksi,” ujar Bob pada Senin (18/5/2026).

 

Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap dunia usaha tidak hanya berasal dari pelemahan kurs rupiah, tetapi juga gangguan rantai pasok global, lonjakan biaya logistik, serta konflik geopolitik internasional.

 

Menurut Bob, kondisi tersebut membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit karena kenaikan biaya produksi tidak sebanding dengan kemampuan menaikkan harga jual di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

 

“Dunia usaha saat ini dipaksa melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas semaksimal mungkin karena kenaikan biaya sudah mencapai dua digit, sementara harga jual tidak dapat dinaikkan sembarangan,” ujarnya.

 

Ancaman PHK semakin nyata

Bob mengakui bahwa sektor manufaktur menjadi sektor yang paling rentan terdampak karena bersifat padat karya dan menyerap banyak tenaga kerja.

 

Meskipun demikian, ia menilai dunia usaha sebenarnya telah melakukan mitigasi risiko PHK sejak beberapa tahun terakhir ketika perlambatan ekonomi global mulai terasa.

 

“Situasi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak dua atau tiga tahun lalu. Karena itu, perusahaan-perusahaan telah mulai menyiapkan langkah efisiensi sejak lama,” katanya.

 

Menurut Bob, PHK tidak seharusnya dipandang semata sebagai ancaman, melainkan bagian dari upaya perusahaan untuk bertahan agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar.

 

“Yang paling penting adalah bagaimana pekerja yang terkena PHK dapat segera memperoleh pekerjaan baru. Itu merupakan bentuk perlindungan terbaik,” ujarnya.

 

Ia juga menilai pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap sektor manufaktur karena memiliki dampak berganda yang signifikan terhadap perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja.

 

Efisiensi menjadi kunci bertahan

Bob mengatakan masih terdapat banyak ruang efisiensi yang dapat dilakukan industri nasional tanpa harus selalu berujung pada pengurangan tenaga kerja.

 

Ia mencontohkan biaya logistik Indonesia yang mencapai sekitar 26 persen dari total biaya produksi, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata negara ASEAN yang hanya sekitar 10 persen.

 

Selain itu, masih banyak perusahaan yang memiliki tingkat cacat produksi tinggi sehingga biaya operasional menjadi membengkak.

 

“Peningkatan produktivitas, efisiensi logistik, penguatan arus kas, hingga penurunan biaya energi menjadi faktor penting agar dunia usaha tetap mampu bertahan,” katanya.

 

Menurutnya, pengusaha dan pekerja juga perlu membangun komunikasi yang lebih baik agar langkah efisiensi tidak menimbulkan konflik industrial.

 

“Jika pengusaha dan buruh dapat duduk bersama mencari solusi, situasi sulit seperti sekarang akan lebih mudah diatasi,” tutur Bob.

 

Ia berharap pelemahan rupiah saat ini menjadi titik terendah sebelum kondisi ekonomi global mulai membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik dunia.

 

“Kita berharap kondisi ini sudah menjadi titik dasar. Jika situasi global mulai pulih dan arus modal kembali masuk, Indonesia harus siap dengan kebijakan yang mendukung investasi dan penciptaan lapangan kerja,” tegas Bob.

 

Ketahanan ekonomi

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan pasar spot Senin (18/5/2026), rupiah ditutup melemah di level Rp17.668 per dolar AS.

 

Sementara itu, IHSG sempat melemah hampir 5 persen pada sesi pertama perdagangan sebelum perlahan pulih di sesi kedua. IHSG akhirnya ditutup turun 124,08 poin ke level 6.599,24.

 

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan.

 

Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar dan menjadi capaian tertinggi dalam 13 kuartal terakhir.

 

Peningkatan ini didorong oleh kuatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Lebaran serta kenaikan signifikan pada belanja pemerintah.

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik, bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan negara mitra dagang utama seperti China, Singapura, dan Malaysia di tengah ketidakpastian global.

 

Hal itu juga ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

 

Ia mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut menjadi yang tertinggi di antara negara-negara G-20.

 

“Tadi pengumuman BPS pada kuartal pertama cukup baik, pertumbuhan kita mencapai 5,61 persen. Dan pertumbuhan ini termasuk yang tertinggi di antara negara G-20. Jadi kita berada di atas China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, bahkan Amerika Serikat,” kata Airlangga di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Sumber: kompas.id

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.