Krisis Bayi Jepang Kian Parah: Kelahiran Turun di Bawah 700.000 untuk Pertama Kalinya

Berita Terkini - Diposting pada 05 June 2025 Waktu baca 5 menit

Illustrasi

Tingkat kelahiran di Jepang terus menurun sepanjang tahun lalu, mencatat penurunan untuk sembilan tahun berturut-turut dan mencapai rekor terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini menjadi sinyal peringatan serius bagi Pemerintah Jepang.

 

Dilaporkan oleh Bloomberg pada Rabu (4/6/2025), laju kelahiran, yaitu rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu di Jepang, menurun dari 1,2 pada tahun 2023 menjadi 1,15. Menurut data yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan Jepang, angka ini merupakan yang terendah sejak 1947.

 

Penurunan yang paling signifikan terjadi di Tokyo, di mana angka kelahiran berada di bawah 1 selama dua tahun berturut-turut. Jumlah bayi yang lahir menurun hingga sekitar 686.000, pertama kalinya jumlah kelahiran jatuh di bawah 700.000 per tahun. Sementara jumlah kematian mencapai sekitar 1,61 juta jiwa, menyebabkan penurunan populasi bersih Jepang sebesar kira-kira 919.000 jiwa dan memperpanjang periode penurunan populasi negara tersebut menjadi 18 tahun berturut-turut.

 

Data ini belum memperhitungkan migrasi. Kondisi tersebut menegaskan betapa mendesaknya upaya pemerintah untuk menaikkan angka kelahiran. Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, telah memperkenalkan berbagai kebijakan yang bertujuan meringankan beban finansial keluarga, termasuk memperluas subsidi untuk anak-anak dan pendidikan menengah yang bebas biaya.

 

Selain itu, pemerintah juga memberikan jaminan kompensasi penuh atas upah bagi pasangan yang keduanya mengambil cuti orang tua, serta memperbaiki kondisi kerja para pengasuh anak dan perawat. Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari program yang digagas oleh pendahulu Ishiba, Fumio Kishida, yang berjanji meningkatkan alokasi dana pemerintah untuk tunjangan keluarga hingga sejajar dengan Swedia, yang mengalokasikan 3,4% dari PDB untuk keperluan tersebut.

 

Pada saat itu, Kishida memperingatkan bahwa Jepang bisa kehilangan kapasitasnya sebagai masyarakat yang berfungsi jika tidak ada tindakan tegas yang diambil. "Krisis penurunan angka kelahiran yang cepat ini masih belum terselesaikan," ujar juru bicara Kementerian Kesehatan Jepang. Kementerian juga mengidentifikasi penyusutan populasi perempuan muda dan kecenderungan menikah serta memiliki anak yang semakin terlambat sebagai faktor utama penyebabnya. Penurunan angka kelahiran yang terus berlangsung menimbulkan kekhawatiran akan masa depan sistem jaminan sosial Jepang.

 

Program pensiun publik negara tersebut menghadapi tekanan besar karena jumlah peserta yang membayar iuran berkurang sementara penerima manfaat meningkat. Dalam dua dekade terakhir, jumlah pembayar iuran turun sekitar 3 juta, sementara penerima manfaat naik hampir 40%, menurut laporan terpisah dari kementerian. Biaya jaminan sosial yang terus membengkak memberi tekanan besar pada keuangan negara, di mana rasio utang terhadap PDB tercatat sebagai yang tertinggi di antara negara maju.

 

Untuk tahun fiskal 2025, pengeluaran untuk kesejahteraan sosial mencapai 38,3 triliun yen atau sekitar 266,3 miliar dolar AS, yang menyumbang sepertiga dari keseluruhan anggaran nasional. Pasar tenaga kerja pun diprediksi tetap mengalami tekanan. Jika tren ini berlanjut, Jepang berpotensi kekurangan 6,3 juta pekerja pada tahun 2030, menurut perkiraan dari Persol Research and Consulting.

 

Masalah demografi ini juga menjadi tantangan global. Di Korea Selatan, tingkat kesuburan naik sedikit tahun lalu untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, meskipun hanya mencapai 0,75. Di Amerika Serikat, angka kelahiran menurun pada 2023 ke tingkat terendah dalam lebih dari empat dekade, yang mungkin mendorong pemerintahan Donald Trump mempertimbangkan kebijakan baru terkait perawatan anak.

 

Namun, terdapat harapan kecil dari peningkatan jumlah pasangan pengantin baru di Jepang yang naik lebih dari 10.000 pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Karena angka pernikahan dan kelahiran sangat berkaitan erat, kenaikan ini bisa memberikan dorongan positif terhadap fertilitas di masa depan.

 

Pemerintah daerah, termasuk di Tokyo, baru-baru ini meluncurkan berbagai program untuk mendorong pernikahan, seperti mengembangkan aplikasi kencan dan mengadakan acara perjodohan guna meningkatkan kesempatan warga bertemu calon pasangan hidup.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.