Pengguna QRIS Tembus 67 Juta, Apakah Uang Tunai Mulai Ditinggalkan?

Berita Terkini - Diposting pada 25 September 2026 Waktu baca 5 menit

Pengguna QRIS Tembus 67 Juta, Apakah Uang Tunai Mulai Ditinggalkan?

Bayar kopi, makan di warung, belanja di pasar, sampai transaksi di toko kecil kini semakin sering cukup dilakukan dengan memindai QR code.

Bank Indonesia mencatat jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS telah mencapai 67 juta orang pada September 2026.

Gubernur BI Destry Damayanti menyebut angka tersebut setara dengan sekitar seperempat penduduk Indonesia dan menjadi salah satu tanda kuat bahwa preferensi pembayaran masyarakat semakin bergeser ke digital.

Namun, apakah itu berarti uang tunai benar-benar mulai ditinggalkan?

Jawabannya lebih kompleks.

Data terbaru justru menunjukkan uang kartal masih tumbuh. Yang berubah adalah kecepatannya.

 

QRIS Sudah Dipakai 67 Juta Orang

Dalam agenda FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta pada 24 September, Destry mengatakan pengguna QRIS telah mencapai sekitar 67 juta.

Sebagai pembanding, Badan Pusat Statistik mencatat proyeksi penduduk Indonesia pertengahan 2026 sekitar 287,2 juta jiwa.

Artinya, 67 juta pengguna setara sekitar 23,3% populasi.

Jadi penyebutan “sekitar seperempat penduduk” cukup masuk akal sebagai pembulatan, meskipun secara matematis belum tepat 25%.

Angka ini juga tidak berarti 23,3% seluruh transaksi masyarakat telah berpindah ke QRIS.

Satu orang dapat menggunakan QRIS berkali-kali, sekaligus tetap memakai tunai, kartu debit, transfer bank, atau metode pembayaran lainnya.

 

Transaksi QRIS Tumbuh Sangat Cepat

Pertumbuhan tidak hanya terlihat dari jumlah pengguna.

Data resmi Bank Indonesia menunjukkan transaksi QRIS pada Agustus 2026 tumbuh 67,22% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara secara keseluruhan, volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi hanya pada Agustus, tumbuh 40,36% secara tahunan.

Sebelumnya, BI juga mencatat transaksi QRIS tumbuh 82,42% yoy pada Juli 2026.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan pembayaran digital tidak lagi menjadi fitur tambahan.

Untuk semakin banyak masyarakat dan merchant, QRIS sudah menjadi bagian dari aktivitas transaksi sehari-hari.

 

Hingga Juli, Transaksi QRIS Disebut Tembus 15 Miliar

Dalam paparan BI pada awal September, Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan volume transaksi QRIS secara kumulatif telah mencapai sekitar 15 miliar transaksi hingga Juli 2026.

Jumlah merchant yang menerima QRIS juga disebut sudah mencapai sekitar 45 juta unit usaha.

Data Juni sebelumnya mencatat 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant, sekitar 96,68% di antaranya merupakan UMKM.

Ekspansi merchant menjadi salah satu faktor penting.

QRIS tidak akan tumbuh hanya karena masyarakat mempunyai aplikasi pembayaran.

Pengguna juga membutuhkan tempat untuk menggunakannya.

 

Lalu, Apakah Cash Benar-Benar Turun?

Di sinilah konteksnya perlu diperjelas.

Destry mengatakan penggunaan uang kartal masih tumbuh, tetapi laju pertumbuhannya mulai melambat.

Data resmi BI mendukung penjelasan tersebut.

Pada Agustus 2026, Uang Kartal yang Diedarkan atau UYD mencapai sekitar Rp1.332 triliun.

Jumlah tersebut masih tumbuh 12,88% secara tahunan.

Dengan kata lain, masyarakat Indonesia belum berhenti menggunakan uang fisik.

Nominal uang tunai yang beredar bahkan masih lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Jadi istilah yang lebih tepat bukan “cash menghilang”, tetapi pembayaran digital tumbuh jauh lebih cepat dan mulai mengambil porsi lebih besar dalam preferensi transaksi masyarakat.

 

Pertumbuhan Uang Kartal Memang Berubah-ubah

Perjalanan data sepanjang tahun juga menunjukkan bahwa uang fisik belum menuju nol.

Pada kuartal I 2026, UYD tumbuh sekitar 8,59% yoy menjadi Rp1.347 triliun.

Pada kuartal II, pertumbuhannya mencapai sekitar 14,03% menjadi Rp1.315 triliun.

Juli mencatat pertumbuhan sekitar 15,10% menjadi Rp1.314 triliun, sebelum Agustus melambat menjadi 12,88%.

Karena itu, satu angka bulanan sebaiknya tidak dipakai untuk menyimpulkan uang tunai sedang “punah”.

Ada faktor musiman seperti Ramadan, Lebaran, libur panjang, pembayaran gaji, hingga kebutuhan uang tunai di berbagai daerah.

 

Kenapa QRIS Bisa Mengurangi Kebutuhan Cash?

Secara sederhana, metode pembayaran yang dulunya membutuhkan uang fisik kini dapat dilakukan dari aplikasi di ponsel.

Misalnya, seseorang sebelumnya menarik Rp500.000 dari ATM untuk belanja selama beberapa hari.

Jika sebagian besar warung, transportasi, restoran, atau toko yang ia gunakan menerima QRIS, kebutuhan untuk menarik uang fisik bisa berkurang.

Ketika perilaku tersebut terjadi pada jutaan pengguna, frekuensi penggunaan uang tunai dapat ikut melambat.

Namun ini bukan berarti saldo Rupiah hilang.

Rupiah hanya berpindah dari bentuk uang fisik menjadi nilai yang berpindah secara elektronik melalui rekening atau instrumen pembayaran digital.

 

Pasar Tradisional Pun Mulai Digital

Destry mencontohkan bahwa pergeseran tersebut sudah terlihat hingga di pasar.

Menurutnya, kini semakin banyak pedagang dan pembeli yang lebih memilih QRIS dibanding pembayaran tunai.

Ini menjadi perkembangan penting karena pembayaran digital pada awalnya lebih identik dengan pusat belanja modern, e-commerce, atau konsumen perkotaan.

QRIS membuat penerimaan pembayaran digital lebih sederhana bagi usaha kecil.

Merchant tidak perlu menyediakan perangkat kartu khusus; QR code dan perangkat yang terhubung ke sistem pembayaran dapat membuka akses transaksi digital.

 

Tapi Indonesia Tidak Bisa Sepenuhnya Cashless

Ada alasan geografis yang sangat jelas.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan tingkat konektivitas digital yang belum seragam.

Destry menyoroti bahwa uang tunai masih sangat dibutuhkan terutama di wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil atau 3T.

Di sejumlah wilayah, keterbatasan internet dan area blank spot membuat pembayaran digital belum dapat diandalkan sepenuhnya.

Jika sinyal hilang, pembayaran QRIS dapat mengalami kendala.

Uang tunai tidak membutuhkan koneksi internet, baterai ponsel, server perbankan, maupun aplikasi.

Keunggulan sederhana itu membuat cash tetap mempunyai fungsi penting sebagai alat pembayaran yang tangguh.

 

BI Masih Menjamin Ketersediaan Uang Tunai

Fakta bahwa digitalisasi meningkat tidak membuat BI menghentikan pengelolaan uang fisik.

Dalam laporan Agustus, BI menegaskan tetap menjaga ketersediaan Rupiah dalam jumlah cukup dan kondisi layak edar di seluruh Indonesia, termasuk kawasan 3T.

Ini menunjukkan strategi Indonesia bukan menghapus cash.

Arahnya lebih dekat dengan membangun sistem pembayaran yang memiliki dua jalur:

digital untuk efisiensi dan kemudahan, serta uang tunai untuk aksesibilitas dan ketahanan.

Keduanya dapat hidup berdampingan.

 

Merchant Tidak Bisa Sekadar Menolak Rupiah Tunai

Pernyataan Destry mengenai penerimaan cash juga mempunyai dasar hukum.

Undang-Undang Mata Uang melarang pihak menolak Rupiah yang diserahkan untuk pembayaran atau penyelesaian kewajiban di Indonesia, dengan pengecualian tertentu seperti adanya keraguan atas keaslian uang.

Bank Indonesia juga menegaskan kewajiban penggunaan Rupiah berlaku untuk transaksi tunai maupun nontunai di wilayah Indonesia dan mengatur larangan menolak Rupiah.

Artinya, tren cashless bukan berarti pelaku usaha bebas menganggap uang Rupiah fisik tidak berlaku.

QRIS adalah salah satu metode pembayaran.

Uang Rupiah tetap merupakan alat pembayaran yang sah.

 

Digital dan Cash Sebenarnya Sama-sama Rupiah

Hal yang sering membingungkan adalah anggapan bahwa cashless berarti “tidak memakai Rupiah”.

Padahal transaksi QRIS domestik tetap dilakukan dalam denominasi Rupiah.

Yang berubah hanyalah mediumnya.

Pada transaksi tunai, nilai berpindah melalui uang kertas atau logam.

Pada transaksi digital, perpindahan nilai dicatat melalui sistem elektronik.

Jadi fenomena QRIS bukan penggantian mata uang.

Ini merupakan perubahan cara masyarakat memindahkan Rupiah.

 

Mengapa Peralihan Digital Bisa Menguntungkan UMKM?

Bagi UMKM, pembayaran QRIS dapat mengurangi kebutuhan menyediakan uang kembalian dan membantu pencatatan transaksi.

Pembayaran masuk secara digital juga meninggalkan jejak transaksi yang lebih mudah direkap dibanding pembayaran cash murni.

Dalam skala luas, data transaksi digital dapat membantu pelaku usaha memahami arus kas.

Namun digitalisasi juga membawa kebutuhan baru.

Merchant membutuhkan akses perangkat, konektivitas internet, pengetahuan keamanan digital, dan pemahaman mengenai biaya transaksi.

Karena itu, adopsi QRIS tidak otomatis menghapus seluruh hambatan pembayaran.

 

Ada Risiko Jika Terlalu Bergantung pada Digital

Sistem digital menawarkan kecepatan, tetapi mempunyai jenis risiko yang berbeda dari cash.

Gangguan internet, aplikasi, server, perangkat atau listrik dapat menghambat pembayaran.

Ada pula risiko rekayasa sosial, QR palsu, salah transfer, dan pencurian kredensial.

Uang fisik tidak memiliki risiko siber tersebut, meskipun tetap mempunyai risiko kehilangan, pencurian dan pemalsuan.

Sistem pembayaran yang resilien karena itu biasanya membutuhkan lebih dari satu kanal.

 

“Cashless Society” Belum Sama dengan “No-Cash Society”

Indonesia semakin cashless, tetapi belum berarti menjadi masyarakat tanpa cash.

Perbedaannya penting.

Cashless berarti lebih banyak transaksi dilakukan secara digital.

No-cash berarti uang fisik hampir tidak lagi diperlukan.

Data BI saat ini lebih mendukung skenario pertama.

Transaksi QRIS tumbuh sangat tinggi, pengguna telah mencapai 67 juta, dan preferensi pembayaran berubah.

Namun pada saat yang sama, uang kartal tetap tumbuh dua digit dan BI terus memastikan ketersediaannya.

 

Apa yang Akan Menentukan Masa Depan Cash?

Setidaknya ada beberapa faktor.

Pertama, konektivitas internet.

Semakin luas jaringan yang stabil hingga wilayah 3T, semakin mudah pembayaran digital berkembang.

Kedua, jumlah merchant.

Pembayaran digital semakin berguna jika bisa digunakan hampir di mana saja.

Ketiga, kepercayaan masyarakat terhadap keamanan transaksi.

Keempat, kemudahan dan biaya.

Kelima, kebutuhan masyarakat terhadap alat pembayaran yang tetap berfungsi ketika sistem digital mengalami gangguan.

Cash kemungkinan akan kehilangan sebagian porsi transaksi, tetapi itu berbeda dengan mengatakan cash akan hilang.

 

Kesimpulan

Jumlah pengguna QRIS Indonesia telah mencapai 67 juta orang pada September 2026.

Dengan proyeksi penduduk sekitar 287,2 juta, angka itu setara kurang lebih 23,3% populasi, atau secara sederhana mendekati satu dari empat penduduk Indonesia.

Pertumbuhan transaksi QRIS juga sangat cepat. Pada Agustus, transaksi QRIS tumbuh sekitar 67,22% yoy.

Namun uang tunai belum ditinggalkan.

Uang kartal yang beredar masih mencapai Rp1.332 triliun dan tumbuh 12,88% secara tahunan pada Agustus.

Cash juga tetap menjadi infrastruktur pembayaran penting di wilayah yang belum memiliki konektivitas digital memadai.

Jadi kesimpulan yang lebih tepat bukan bahwa 67 juta pengguna QRIS membuat uang tunai segera hilang.

Yang sedang terjadi adalah perubahan preferensi:

QRIS dan pembayaran digital mengambil peran semakin besar, sementara uang tunai tetap dipertahankan sebagai alat pembayaran sah dan penting—terutama ketika akses digital belum merata.

 

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.