Saham News
IHSG Jatuh ke 6.298, Asing Net Sell Rp1,49 Triliun: 10 Saham Ini Paling Banyak Dilepas
/index.php
Saham News - Diposting pada 25 September 2026 Waktu baca 5 menit
Investor asing kembali melakukan penjualan bersih dalam jumlah besar di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Kamis, 24 September 2026.
Di seluruh pasar, foreign flow tercatat net sell sekitar Rp1,49 triliun. Sementara khusus di pasar reguler, nilai jual bersih asing mencapai sekitar Rp1,42 triliun.
Tekanan tersebut berlangsung bersamaan dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan.
IHSG ditutup turun 76,3 poin atau 1,20% ke level 6.298,6. Indeks bergerak di kisaran sekitar 6.287 hingga 6.368 sepanjang perdagangan.
Di balik angka tersebut, tekanan jual asing sangat terkonsentrasi pada beberapa saham berkapitalisasi besar.
BMRI menjadi target penjualan terbesar.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi saham dengan foreign net sell terbesar di pasar reguler.
Nilainya mencapai sekitar Rp531,94 miliar.
Pada hari yang sama, saham BMRI turun 2,86% ke Rp4.070 per saham.
Besarnya outflow di BMRI cukup signifikan.
Nilainya bahkan setara lebih dari sepertiga dari keseluruhan foreign net sell pasar reguler pada hari tersebut.
Namun, hubungan antara net sell dan penurunan harga tidak selalu sederhana.
Harga sebuah saham juga dipengaruhi transaksi investor domestik, likuiditas, kondisi indeks, sentimen makro, dan perubahan posisi investor institusional lain.
Setelah BMRI, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat foreign net sell sekitar Rp141,17 miliar.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berada di posisi berikutnya dengan sekitar Rp84,6 miliar.
Besarnya arus keluar dari BMRI, BBRI, dan TLKM penting karena ketiganya termasuk saham dengan kapitalisasi pasar dan likuiditas besar.
Perubahan harga saham big cap dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap IHSG dibanding pergerakan saham berkapitalisasi kecil.
Berikut daftar foreign net sell terbesar di pasar reguler pada perdagangan 24 September 2026:
| Peringkat | Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|---|
| 1 | BMRI | Rp531,94 miliar |
| 2 | BBRI | Rp141,17 miliar |
| 3 | TLKM | Rp84,60 miliar |
| 4 | BUMI | Rp74,90 miliar |
| 5 | ANTM | Rp51,65 miliar |
| 6 | DEWA | Rp39,69 miliar |
| 7 | TPIA | Rp32,59 miliar |
| 8 | AMMN | Rp32,03 miliar |
| 9 | PACK | sekitar Rp31,9 miliar |
| 10 | CUAN | Rp26,55 miliar |
Data foreign-flow pasar reguler menunjukkan urutan tersebut, dengan perbedaan pembulatan kecil pada beberapa saham antarpenyedia data.
Walaupun dua posisi teratas ditempati saham bank, tekanan asing sebenarnya menyebar ke beberapa sektor.
BUMI dan DEWA berasal dari sektor energi.
ANTM dan AMMN mempunyai eksposur pada pertambangan dan logam.
TPIA bergerak di industri petrokimia, sementara PACK dan CUAN juga mempunyai karakter berbeda dari saham perbankan.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa foreign selling tidak terbatas pada satu industri.
Namun nilai outflow terbesar tetap sangat terkonsentrasi di saham perbankan besar.
BUMI membukukan net foreign sell sekitar Rp74,90 miliar.
Berdasarkan data transaksi yang sama, saham BUMI juga melemah sekitar 4,15% pada perdagangan tersebut.
Tekanan tersebut menempatkan BUMI sebagai saham nonbank dengan foreign outflow terbesar dalam daftar.
Namun satu hari net sell belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing telah meninggalkan saham atau sektor tertentu secara permanen.
Pola beberapa hari atau beberapa pekan akan memberikan informasi yang lebih kuat.
ANTM berada di posisi kelima dengan foreign net sell sekitar Rp51,65 miliar.
Pergerakan ini menarik karena ANTM pada periode sebelumnya sempat muncul dalam daftar saham dengan pembelian asing yang cukup besar.
Perubahan seperti itu menunjukkan foreign flow dapat berbalik dengan cepat.
Investor institusional dapat melakukan rebalancing, mengambil keuntungan, mengurangi risiko, atau mengubah eksposur sesuai perkembangan pasar.
Karena itu, daftar net buy atau net sell satu hari sebaiknya tidak diperlakukan sebagai rekomendasi investasi.
DEWA mencatat net sell sekitar Rp39,69 miliar.
TPIA berada di sekitar Rp32,59 miliar, sedangkan AMMN mencatat sekitar Rp32,03 miliar.
Ketiganya menunjukkan bahwa foreign selling pada 24 September menjangkau saham dengan tema yang berbeda.
DEWA terkait jasa pertambangan.
TPIA mempunyai bisnis petrokimia dan infrastruktur.
AMMN merupakan perusahaan pertambangan tembaga dan emas.
Dengan demikian, pola jual asing hari itu lebih tepat dibaca sebagai pengurangan risiko pada beberapa saham sekaligus daripada rotasi keluar dari satu sektor tertentu saja.
PACK mencatat net foreign sell sekitar Rp31,9 miliar, sementara CUAN sekitar Rp26,55 miliar.
PACK sendiri merupakan saham yang memiliki riwayat volatilitas tinggi dan diperdagangkan melalui mekanisme khusus.
Hal ini membuat data foreign flow pada saham volatil perlu dibaca dengan hati-hati karena perubahan harga dan likuiditas dapat berlangsung cepat.
CUAN juga termasuk saham yang kerap memiliki pergerakan harga besar.
Meski total foreign flow negatif, investor asing tetap melakukan pembelian pada beberapa saham.
ASII menjadi saham dengan net foreign buy terbesar sekitar Rp24,4 miliar.
MEDC mencatat sekitar Rp20,4 miliar, COIN Rp20,1 miliar, dan ASLI sekitar Rp17,1 miliar.
Ini menunjukkan foreign net sell Rp1,49 triliun bukan berarti seluruh saham di Bursa dijual investor asing secara serempak.
Lebih tepat menyebutnya sebagai arus keluar bersih secara agregat dengan pembelian selektif pada saham tertentu.
ASII menjadi contoh kontras terhadap tekanan di saham-saham yang banyak dilepas.
Investor asing mencatat net buy sekitar Rp24,41 miliar, sementara saham Astra International naik sekitar 0,42% ke Rp4.770.
Namun sama seperti foreign net sell, net buy satu hari juga tidak menjamin saham akan terus naik pada sesi berikutnya.
Foreign flow hanyalah salah satu indikator posisi investor.
Penurunan IHSG sebesar 1,20% terjadi ketika investor asing secara agresif mengurangi posisi di beberapa saham besar.
BMRI sendiri memberikan gambaran paling jelas tentang bagaimana foreign selling dapat bertepatan dengan tekanan harga.
Tetapi tidak tepat menyimpulkan bahwa net sell asing sendirian menjadi penyebab seluruh pelemahan IHSG.
Investor domestik juga memiliki porsi perdagangan besar.
Selain itu, sentimen global, pergerakan rupiah, yield obligasi, harga komoditas, serta berita perusahaan dapat memengaruhi pasar secara bersamaan.
Total transaksi di Bursa pada 24 September mencapai sekitar Rp11,23 triliun.
Dari jumlah tersebut, transaksi pasar reguler sekitar Rp9,78 triliun dan transaksi negosiasi sekitar Rp1,45 triliun.
Dengan demikian, net sell asing Rp1,49 triliun tergolong material dibandingkan total nilai transaksi hari tersebut.
Namun angka foreign flow all market dan regular market harus selalu dibedakan.
Pasar reguler adalah tempat mayoritas transaksi saham harian berlangsung secara normal melalui sistem perdagangan Bursa.
All market juga memasukkan pasar negosiasi dan pasar tunai.
Karena itu, angka foreign net sell seluruh pasar dapat berbeda dari angka pasar reguler.
Pada 24 September, keduanya sama-sama menunjukkan outflow besar:
All market: sekitar Rp1,49 triliun net sell.
Pasar reguler: sekitar Rp1,42 triliun net sell.
Perbedaannya relatif kecil pada hari tersebut karena pasar negosiasi dan tunai juga mencatat aliran negatif.
Investor asing menjual saham karena banyak alasan.
Mereka dapat mengurangi risiko portofolio, mengambil keuntungan, melakukan rebalancing indeks, menyesuaikan alokasi negara, merespons perubahan suku bunga, atau sekadar melakukan transaksi jangka pendek.
Karena itu, net sell besar tidak otomatis berarti investor asing menilai perusahaan tersebut buruk.
Begitu pula net buy tidak berarti saham dianggap murah.
Data foreign flow hanya menunjukkan arah transaksi bersih dalam periode tertentu.
Untuk membaca pola yang lebih kuat, investor bisa membandingkan foreign flow dalam rentang beberapa sesi.
Misalnya:
apakah BMRI terus mengalami net sell selama beberapa hari;
apakah harga ikut membentuk tren turun;
apakah volume transaksi meningkat;
dan apakah outflow juga terjadi pada saham perbankan besar lainnya.
Apabila pola tersebut bertahan, informasinya lebih bermakna dibanding satu snapshot perdagangan.
Investor asing mencatat net sell sekitar Rp1,49 triliun di seluruh pasar pada perdagangan 24 September 2026, ketika IHSG turun 1,20% ke 6.298,6.
Di pasar reguler, foreign net sell mencapai sekitar Rp1,42 triliun.
BMRI menjadi saham paling banyak dilepas dengan nilai Rp531,94 miliar.
BBRI berada di posisi kedua dengan Rp141,17 miliar, diikuti TLKM Rp84,6 miliar, BUMI Rp74,9 miliar, dan ANTM Rp51,65 miliar.
DEWA, TPIA, AMMN, PACK, dan CUAN melengkapi sepuluh besar.
Meski demikian, asing masih melakukan pembelian selektif pada saham seperti ASII, MEDC dan COIN.
Jadi, gambaran pasar pada hari tersebut bukan “asing meninggalkan seluruh Bursa”, melainkan foreign de-risking besar secara agregat yang terkonsentrasi pada beberapa saham, terutama big caps.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal, bukan rekomendasi personal untuk membeli, menjual, atau mempertahankan saham tertentu.
Sumber: bloombergtechnoz.com/
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.