Trump Beri Iran 2 Pilihan di PBB: Kesepakatan atau “Dihancurkan”

Berita Terkini - Diposting pada 23 September 2026 Waktu baca 5 menit

Speaking to reporters on Thursday, Donald Trump appeared to signal that there was still time for diplomacy. Photograph: Andrew Leyden/NurPhoto/Shutterstock

Trump Ancam “Hancurkan Republik Islam” di PBB, Militer Iran Balas Peringatan

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat di panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB ke-81 di New York pada Selasa, 22 September 2026, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya menghadapi “keputusan besar” mengenai masa depan konflik dengan Iran.

Trump menggambarkan pilihannya secara tajam: mencapai kesepakatan yang memungkinkan Iran membangun kembali negaranya, atau menggunakan kekuatan untuk “menghancurkan Republik Islam” dengan cepat.

Pernyataan tersebut segera mendapat respons keras dari institusi militer Iran.

Namun di balik pertukaran ancaman itu, jalur diplomasi ternyata belum sepenuhnya tertutup.

 

Apa Sebenarnya yang Dikatakan Trump?

Dalam pidato tersebut, Trump bertanya apakah akan tercapai sebuah kesepakatan yang memungkinkan Iran bangkit kembali dan menjadi negara yang lebih kuat.

Alternatif yang ia sampaikan adalah apakah dirinya harus “annihilate the Islamic Republic” dan melakukannya dengan cepat. Trump kemudian menggunakan retorika lain mengenai membawa Iran ke kondisi tanpa peluang untuk bertahan.

Reuters melaporkan Trump juga menyampaikan keyakinannya bahwa kesepakatan dengan Iran mungkin tercapai setelah pemilu paruh waktu AS, meskipun pernyataan itu merupakan prediksi Trump sendiri dan bukan hasil kesepakatan yang sudah diumumkan kedua pihak.

Karena itu, ucapan tersebut menggabungkan dua pesan sekaligus: ancaman penggunaan kekuatan dan kemungkinan diplomasi.

 

“Hancurkan Republik Islam”, Bukan Secara Literal “Musnahkan Rakyat Iran”

Ada nuansa bahasa yang penting dalam pemberitaan.

Kutipan langsung Trump merujuk pada “the Islamic Republic”, istilah untuk sistem pemerintahan Iran.

Reuters menggunakan kata “annihilate Iran” dalam headline pemberitaannya, tetapi kutipan langsung Trump sendiri menyebut “Islamic Republic”.

Untuk menghindari interpretasi yang lebih luas daripada ucapan aslinya, formulasi paling presisi adalah bahwa Trump mengancam akan menghancurkan Republik Islam apabila tidak ada kesepakatan.

Ini tidak mengurangi kerasnya retorika tersebut, tetapi menjaga kutipan tetap sesuai konteks.

 

Iran Balas dengan Peringatan Militer

Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran bersama Khatam al-Anbiya Central Headquarters kemudian merespons pidato tersebut.

Dalam pernyataan yang dibawa media pemerintah Iran, mereka menyebut komentar Trump sebagai propaganda dan menyatakan kesiapan untuk memberikan serangan yang “lebih keras, menghancurkan, dan tak terduga” apabila terjadi serangan baru.

Pernyataan tersebut merupakan posisi resmi institusi militer Iran dan bukan verifikasi independen atas klaim-klaim kedua pihak mengenai kemampuan atau hasil perang.

 

IRGC Juga Sudah Beri Peringatan

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC sebelumnya juga memperingatkan Washington agar tidak meningkatkan serangan.

Juru bicara IRGC Hossein Mohebi mengatakan kepada AFP bahwa jika AS kembali melakukan serangan, Iran akan meningkatkan respons berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama konflik.

Ia mengatakan Iran tidak hanya akan membalas tetapi dapat mengadopsi postur yang lebih ofensif.

Dalam pernyataan lain yang dilaporkan menjelang pidato PBB Trump, IRGC juga mengatakan bahwa eskalasi baru dapat membuat Iran mengubah senjata yang digunakan, strategi militer, dan “geografi perang”.

IRGC tidak menjelaskan secara rinci seluruh sasaran atau sistem senjata yang dimaksud.

 

Urutan Waktunya Perlu Dibedakan

Materi awal memberi kesan seluruh peringatan IRGC dikeluarkan setelah pidato Trump.

Kronologinya lebih kompleks.

Sebagian peringatan IRGC terhadap serangan baru AS sudah disampaikan sebelum atau pada periode menjelang pidato Trump di PBB, sebagai respons terhadap ancaman dan eskalasi sebelumnya.

Sementara respons yang secara eksplisit menyebut pidato Trump di PBB datang dari Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dan Khatam al-Anbiya Central Headquarters setelah pidato tersebut.

Pembedaan kronologi ini penting agar berita tidak menghubungkan dua peristiwa secara sebab-akibat lebih kuat daripada yang didukung sumber.

 

Ketua Parlemen Iran: Kami Tidak Akan Menyerah

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga mengeluarkan pernyataan keras pada 22 September.

Menurut kantor berita Tasnim, Ghalibaf mengatakan Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan ekonomi, militer, maupun diplomatik.

Ia juga menyatakan Iran akan merespons dengan kekuatan dan mengklaim kemampuan misil negaranya telah berkembang.

Pernyataan Ghalibaf mencerminkan posisi pemerintah Iran dalam menghadapi tekanan AS, tetapi klaim mengenai kemampuan militernya tetap merupakan klaim pihak Iran.

 

Konflik Sudah Berjalan Berbulan-bulan

Retorika di PBB muncul di tengah konflik AS-Iran yang telah berlangsung hampir tujuh bulan.

Reuters melaporkan konflik bermula dari serangan gabungan AS-Israel pada awal 2026 dan kemudian berkembang menjadi pertempuran yang memengaruhi keamanan regional serta arus energi melalui kawasan Teluk.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif karena jalur tersebut sebelumnya membawa sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global.

Gangguan terhadap jalur tersebut ikut menempatkan konflik Iran sebagai salah satu risiko utama bagi pasar energi dunia.

 

Trump Tetap Membuka Pintu Kesepakatan

Meski pidatonya menggunakan ancaman sangat keras, Trump tidak mengatakan diplomasi telah berakhir.

Ia justru mengatakan percaya kesepakatan dapat tercapai setelah pemilu AS, dan beberapa jam kemudian menyatakan ada momentum menuju kesepakatan.

Karena itu, headline yang hanya menyebut ancaman militer tanpa menyampaikan keberadaan jalur diplomatik akan kehilangan konteks penting.

 

Negosiasi Melalui Mediator Tetap Berjalan

Di luar pidato publik yang keras, perundingan tetap berlangsung.

Reuters melaporkan utusan AS Steve Witkoff mengatakan AS dan Iran menjalani pembicaraan panjang melalui mediator di sela-sela Sidang Umum PBB.

Para mediator berpindah antara kedua pihak karena pertemuan langsung formal belum menjadi format utama pembicaraan.

Trump kemudian mengatakan pertemuan tersebut produktif dan menurutnya terdapat momentum menuju kesepakatan. Itu tetap merupakan penilaian Trump, bukan konfirmasi bahwa kesepakatan final telah dicapai.

 

Rubio Sebelumnya Juga Membuka Opsi Dialog

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sehari sebelumnya mengatakan Washington terbuka untuk bertemu perwakilan Iran di PBB apabila pertemuan tersebut memiliki peluang menghasilkan sesuatu yang konstruktif.

Pada saat pernyataan itu disampaikan, belum ada pertemuan langsung yang dijadwalkan.

Washington tetap menempatkan program nuklir Iran sebagai salah satu isu utama.

Trump dalam pidatonya kembali mengatakan bahwa ia tidak akan mengizinkan Iran memperoleh senjata nuklir.

 

Iran Juga Memberi Sinyal Diplomatik

Iran pada saat yang sama tidak hanya mengeluarkan ancaman militer.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran bersedia membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sekitar satu minggu apabila AS mengurangi tekanan militernya dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.

Delegasi Iran di New York juga diberikan kewenangan untuk menjalankan diplomasi melalui mediator.

Namun Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada saat itu tidak memiliki agenda pertemuan langsung yang diumumkan dengan Trump.

 

Jadi Ada Dua Jalur Berjalan Bersamaan

Situasi tersebut terlihat kontradiktif, tetapi umum terjadi dalam konflik internasional.

Di satu sisi terdapat deterrence: kedua pihak berusaha menunjukkan kemampuan dan kemauan membalas serangan.

Di sisi lain terdapat negosiasi: masing-masing pihak mencoba mendapatkan syarat yang lebih menguntungkan sebelum mencapai kesepakatan.

Pada 22 September, kedua dinamika itu terjadi hampir bersamaan.

Trump mengeluarkan ancaman sangat keras di depan PBB.

Militer Iran memberi peringatan balasan.

Namun diplomat dan mediator tetap berusaha mencari formula untuk mengakhiri konflik.

 

Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Selat Hormuz menghubungkan Teluk dengan Laut Arab dan menjadi jalur strategis bagi ekspor energi.

Sebelum konflik, sekitar seperlima minyak dan gas dunia melewati koridor tersebut, menurut laporan Reuters.

Karena itu, setiap eskalasi yang mengancam lalu lintas Hormuz dapat segera memengaruhi ekspektasi harga minyak, biaya pengiriman, asuransi kapal, dan inflasi global.

Negara-negara Teluk yang memiliki hubungan keamanan dengan AS juga berkepentingan mencegah konflik berkembang lebih jauh.

 

Negara Teluk Dorong Deeskalasi

Trump bertemu sejumlah pemimpin negara Timur Tengah di sela Sidang Umum PBB.

Reuters mencatat negara-negara tersebut ingin jalur pelayaran Hormuz kembali normal tetapi juga berhati-hati terhadap keseimbangan kekuatan regional Iran.

Pada saat yang sama, beberapa negara kawasan tetap menekankan dialog dan diplomasi sebagai jalan keluar dari konflik.

Ini menunjukkan krisis tidak hanya melibatkan Washington dan Teheran, tetapi juga mempunyai implikasi langsung bagi negara-negara tetangga.

 

Ancaman Trump Bukan Pernyataan Serangan Sudah Diputuskan

Hal penting berikutnya adalah membedakan ancaman dengan keputusan operasional.

Trump mengatakan dirinya masih mempunyai “keputusan besar” untuk dibuat.

Ia menyebut dua kemungkinan: kesepakatan atau penggunaan kekuatan yang jauh lebih besar.

Tidak ada dalam pidato tersebut yang menunjukkan bahwa Trump mengumumkan jadwal pasti serangan baru terhadap Iran.

Karena itu, judul seperti “Trump Putuskan Hancurkan Iran” akan menyesatkan.

Yang terjadi adalah ancaman dan penyampaian opsi, bukan pengumuman operasi baru.

 

Peringatan Iran Juga Bersifat Kondisional

Hal serupa berlaku pada respons Iran.

Staf Umum Angkatan Bersenjata menyatakan kesiapan memberikan balasan lebih keras jika terjadi serangan baru.

IRGC juga menempatkan perubahan postur militernya dalam konteks apabila Washington kembali meningkatkan serangan.

Jadi, kedua belah pihak saat ini menggunakan bahasa kondisional mengenai langkah militer berikutnya.

 

Kesimpulan

Donald Trump menggunakan salah satu pernyataan paling keras mengenai Iran dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada 22 September 2026.

Ia mengatakan menghadapi pilihan antara mencapai kesepakatan dengan Iran atau “annihilate the Islamic Republic” dengan cepat.

Militer Iran kemudian menolak pernyataan tersebut dan memperingatkan bahwa serangan baru dapat mendapat balasan yang lebih keras dan tidak terduga. IRGC juga telah memperingatkan bahwa eskalasi AS dapat membuat Iran mengubah senjata, strategi, dan targetnya.

Namun, situasinya belum bisa digambarkan hanya sebagai perlombaan ancaman.

Pada hari yang sama, komunikasi diplomatik melalui mediator tetap berlangsung, dan Trump sendiri mengatakan melihat momentum menuju kesepakatan.

Karena itu, perkembangan terbaru AS-Iran memperlihatkan dua jalur berjalan secara paralel: ancaman militer yang meningkat dan diplomasi yang masih terus berlangsung.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.