Kenapa Ekonomi Vietnam Ngebut, RI Masih 5%? Ini Penjelasan Airlangga

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 07 October 2026 Waktu baca 5 menit

Vietnam Tumbuh 9,95%, RI Masih 5%-an: Airlangga Ungkap Kuncinya

Vietnam kembali mencuri perhatian di Asia Tenggara setelah ekonominya tumbuh 9,95% secara tahunan pada kuartal III-2026.

Indonesia masih bergerak lebih lambat. Data terbaru BPS menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% yoy pada kuartal II-2026, sedangkan pertumbuhan semester I mencapai 5,45%.

Perbedaan itu kembali memunculkan pertanyaan: kenapa Vietnam bisa melaju lebih cepat?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai salah satu jawabannya terletak pada kemampuan Vietnam bergerak lebih cepat menuju digitalisasi, semikonduktor, kecerdasan buatan, kawasan industri, dan akses perdagangan global.

Namun gambarnya lebih kompleks daripada sekadar “Vietnam sudah AI, Indonesia belum”.

 

Vietnam 9,95%, tapi Ini Angka Kuartalan

Pertama, angka pertumbuhan harus dibandingkan secara hati-hati.

Pertumbuhan 9,95% Vietnam merupakan angka kuartal III-2026 dibanding kuartal III-2025.

Reuters mencatat pertumbuhan tersebut merupakan yang tercepat dalam beberapa tahun terakhir, didukung ekspor yang kuat dan investasi infrastruktur. Produksi industri Vietnam pada September juga tumbuh 16,7% yoy, sementara realisasi investasi asing meningkat 12,1% menjadi sekitar US$21,1 miliar.

Namun Vietnam belum berarti tumbuh 9,95% sepanjang 2026.

Asian Development Bank masih memperkirakan pertumbuhan tahun penuh Vietnam sekitar 7,8%.

Untuk perbandingan tahunan yang lebih seimbang, Vietnam tumbuh sekitar 8% pada 2025, sedangkan Indonesia tumbuh 5,11%.

Jadi kesenjangan pertumbuhan memang nyata, tetapi periode datanya harus konsisten.

 

Airlangga: Indonesia Perlu Naik “Eskalator” Berikutnya

Airlangga menggunakan analogi eskalator untuk menjelaskan struktur ekonomi.

Indonesia dinilai sudah berhasil bergerak dari pertanian menuju industri, tetapi masih perlu naik ke tahapan berikutnya: jasa modern, digitalisasi, semikonduktor, dan AI.

Vietnam dinilai bergerak lebih cepat pada tahapan tersebut.

Pandangan ini menekankan pentingnya peningkatan produktivitas.

Hilirisasi mineral dapat menambah nilai bahan mentah, tetapi pertumbuhan tinggi dalam jangka panjang juga membutuhkan industri yang menghasilkan teknologi, jasa bernilai tinggi, perangkat elektronik, perangkat lunak, hingga ekosistem digital.

Namun digitalisasi dan AI bukan satu-satunya penjelasan terhadap pertumbuhan Vietnam saat ini.

Data kuartal III menunjukkan ekspor, manufaktur, investasi asing dan pembangunan infrastruktur tetap menjadi pendorong langsung yang sangat besar.

 

Vietnam Lebih Dalam Masuk Rantai Pasok Manufaktur Global

Vietnam telah berkembang menjadi basis produksi barang elektronik, mesin, tekstil, alas kaki, dan produk manufaktur untuk pasar global.

Struktur ekonominya jauh lebih berorientasi ekspor dibanding Indonesia.

Data Bank Dunia menunjukkan nilai ekspor barang dan jasa Vietnam pada 2025 setara sekitar 98,2% dari PDB, sementara Indonesia sekitar 22,8%.

Rasio ini tidak berarti ekspor memberi kontribusi bersih sebesar 98,2% terhadap ekonomi—sebagian produksi Vietnam juga menggunakan input impor.

Namun angka tersebut menggambarkan betapa terintegrasinya Vietnam dengan perdagangan dan rantai pasok global.

Ketika permintaan ekspor meningkat, manufaktur Vietnam dapat memperoleh dorongan yang sangat besar.

Sebaliknya, ekonomi Indonesia lebih ditopang pasar domestik.

 

Indonesia Punya Pasar Domestik Jauh Lebih Besar

Airlangga menyebut investor di Vietnam lebih terdorong menuju ekspor karena pasar domestiknya tidak sebesar Indonesia.

Pernyataan itu tidak berarti Vietnam “tidak punya pasar domestik”.

Vietnam memiliki lebih dari 101 juta penduduk berdasarkan sensus antara 2024. Indonesia memiliki proyeksi sekitar 287,2 juta penduduk pada 2026.

Jadi perbedaannya lebih tepat dipahami sebagai model ekonomi.

Indonesia memiliki basis konsumen domestik jauh lebih besar sehingga perusahaan bisa tumbuh dengan menjual di dalam negeri.

Vietnam lebih bergantung pada investasi manufaktur berorientasi ekspor.

Bank Dunia bahkan mencatat rasio perdagangan terhadap PDB Vietnam mendekati 190% pada 2025, menunjukkan tingkat keterbukaan ekonominya yang sangat tinggi.

Model tersebut memberikan keuntungan ketika perdagangan global berkembang, tetapi juga membuat Vietnam lebih sensitif terhadap pelemahan ekonomi dunia dan perubahan tarif.

 

Faktor Kedua: Kawasan Industri dan Ekonomi

Airlangga juga membandingkan skala kawasan ekonomi kedua negara.

Indonesia saat ini memiliki 25 Kawasan Ekonomi Khusus dengan total luas hampir 24.000 hektare.

Ia membandingkannya dengan Vietnam yang disebut memiliki kawasan mencapai sekitar 2 juta hektare.

Namun angka ini membutuhkan catatan penting.

Data resmi Vietnam menunjukkan kawasan industri saja jauh lebih kecil. Pada akhir 2025, Vietnam memiliki sekitar 484 industrial parks dengan luas alamiah sekitar 148.350 hektare.

Angka mendekati 2 juta hektare baru muncul apabila kategori yang lebih luas ikut dihitung.

Data pemerintah Vietnam sebelumnya mencatat sekitar 766.000 hektare kawasan ekonomi perbatasan dan hampir 871.523 hektare kawasan ekonomi pesisir—yang juga memasukkan sebagian area perairan—selain kawasan industri.

Karena itu, membandingkan “24.000 hektare KEK Indonesia” dengan “2 juta hektare Vietnam” bukan perbandingan yang benar-benar identik.

Definisi kawasannya berbeda.

 

Yang Penting Bukan Cuma Luas Lahan

Meski demikian, pesan kebijakannya tetap relevan.

Vietnam memiliki jaringan kawasan industri yang sangat besar dan telah lama digunakan untuk menarik perusahaan manufaktur global.

Pada Juli 2024 saja, pemerintah Vietnam mencatat 431 kawasan industri dan kawasan pemrosesan ekspor dengan luas sekitar 132.300 hektare.

Investor tidak hanya mencari tanah.

Mereka membutuhkan pelabuhan, listrik, jalan, tenaga kerja, proses perizinan, fasilitas logistik, dan kedekatan dengan pemasok.

Karena itu, jumlah hektare sendiri tidak cukup menjelaskan daya tarik investasi.

Kualitas ekosistem industri menjadi faktor yang lebih penting.

 

Vietnam Lebih Dulu Mendapat Akses Pasar Eropa

Faktor perdagangan juga mendukung argumen Airlangga.

Vietnam lebih dulu mengamankan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa.

EU-Vietnam Free Trade Agreement atau EVFTA mulai berlaku pada 1 Agustus 2020. Perjanjian tersebut secara bertahap menghapus hampir seluruh tarif dan mengurangi sejumlah hambatan perdagangan.

Indonesia bergerak lebih lambat.

Perundingan Indonesia-EU CEPA baru dinyatakan selesai pada September 2025. Hingga 2026, Uni Eropa masih menjalankan proses menuju penandatanganan dan penyelesaian prosedur internal sehingga perjanjiannya belum berada pada tahap implementasi penuh seperti EVFTA.

Artinya, eksportir Vietnam telah menikmati keunggulan waktu beberapa tahun untuk membangun rantai pasok dan akses pasar Eropa.

 

Tapi untuk AS, Vietnam Tidak Selalu Mendapat Tarif Lebih Baik

Bagian ini perlu dikoreksi dari narasi awal.

Airlangga menyebut Vietnam memperoleh perlakuan tarif dan nontarif yang lebih baik dari Indonesia di Amerika Serikat.

Namun tarif headline terbaru justru tidak mendukung kesimpulan sederhana tersebut.

Kerangka perdagangan AS-Vietnam mempertahankan tarif resiprokal 20% untuk barang Vietnam, dengan kemungkinan tarif 0% untuk sejumlah produk tertentu.

Indonesia telah menandatangani perjanjian perdagangan resiprokal dengan AS pada Februari 2026 yang mempertahankan tarif 19% untuk produk Indonesia, juga dengan pengecualian 0% untuk produk tertentu.

Jadi untuk tarif headline saat ini, Indonesia justru satu poin lebih rendah.

Keunggulan Vietnam lebih jelas terlihat pada jaringan FTA yang lebih dulu berkembang—terutama dengan Uni Eropa—bukan pada klaim bahwa seluruh perlakuan tarif AS sekarang lebih baik daripada Indonesia.

 

Teknologi Tinggi Tetap Menjadi Tantangan Besar Indonesia

Meski beberapa detail perlu diluruskan, pesan Airlangga tentang transformasi industri tetap penting.

Pertumbuhan 8% akan sulit dicapai hanya dengan menambah volume produksi komoditas.

Ekonomi perlu menciptakan lebih banyak nilai dari teknologi, produktivitas, dan industri bernilai tambah.

Semikonduktor menjadi salah satu contoh.

Industri ini membutuhkan bukan hanya pabrik, tetapi juga teknisi, insinyur, desain chip, supplier material, energi yang stabil, logistik, perlindungan kekayaan intelektual, dan hubungan dengan pasar ekspor.

Hal serupa berlaku untuk AI.

Nilai ekonomi AI tidak hanya berasal dari data center, tetapi juga dari software, layanan digital, otomatisasi industri, pendidikan, keuangan, kesehatan, dan peningkatan produktivitas bisnis.

 

Vietnam Juga Punya Risiko

Pertumbuhan hampir 10% bukan tanpa konsekuensi.

Reuters mencatat inflasi Vietnam mencapai 5,08% pada September, sementara analis mengingatkan adanya risiko overheating dan tekanan pasokan listrik.

Ekonomi yang sangat berorientasi ekspor juga lebih rentan terhadap perang dagang dan penurunan permintaan global.

Karena itu, pertumbuhan Vietnam tidak serta-merta menjadi model yang dapat disalin mentah-mentah Indonesia.

Indonesia memiliki struktur ekonomi, pasar domestik, sumber daya alam, dan tantangan geografis yang berbeda.

 

Jadi, Kenapa Vietnam Lebih Ngebut?

Setidaknya ada empat faktor yang dapat ditarik dari data dan pernyataan Airlangga.

Pertama, Vietnam lebih terintegrasi dengan rantai pasok manufaktur global dan sangat berorientasi ekspor.

Kedua, jaringan kawasan industri dan ekosistem manufakturnya sudah berkembang lebih luas.

Ketiga, Vietnam memperoleh first-mover advantage dari sejumlah perjanjian dagang, termasuk EVFTA yang sudah berlaku sejak 2020.

Keempat, Vietnam lebih cepat menarik investasi pada elektronik dan industri teknologi tinggi, meskipun lonjakan pertumbuhan 2026 juga sangat dipengaruhi ekspor, infrastruktur, manufaktur, dan FDI.

Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan berbeda: pasar domestik hampir tiga kali lebih besar, basis sumber daya yang luas, serta peluang hilirisasi.

Tantangannya adalah mengubah kekuatan tersebut menjadi produktivitas yang lebih tinggi.

 

Kesimpulan

Vietnam memang sedang tumbuh lebih cepat dari Indonesia.

Ekonomi Vietnam melonjak 9,95% yoy pada kuartal III-2026, sedangkan ekonomi Indonesia terakhir tumbuh 5,29% yoy pada kuartal II.

Namun angka tersebut bukan perbandingan tahunan yang identik. Untuk 2025, Vietnam tumbuh sekitar 8%, sedangkan Indonesia 5,11%.

Airlangga menilai Indonesia perlu mempercepat lompatan menuju digitalisasi, semikonduktor, AI, jasa modern, kawasan industri yang kompetitif, dan akses pasar global.

Sebagian argumen tersebut didukung oleh data, terutama dominasi ekspor Vietnam dan keunggulan waktu dalam perjanjian perdagangan dengan Eropa.

Namun dua klaim perlu diberi konteks: perbandingan 2 juta hektare kawasan Vietnam dengan 24.000 hektare KEK Indonesia menggunakan definisi yang berbeda, dan tarif AS saat ini justru 19% untuk Indonesia versus 20% untuk Vietnam.

Jadi, pelajaran terbesar dari Vietnam bukan sekadar “buat lebih banyak kawasan” atau “masuk AI”.

Yang lebih penting adalah membangun ekosistem produksi yang terhubung dengan teknologi, investasi, infrastruktur, tenaga kerja, dan pasar ekspor secara bersamaan.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.