Saham News
IHSG Naik 1,21%, Asing Net Sell Rp630 Miliar tapi Borong 10 Saham Ini
/index.php
Saham News - Diposting pada 07 October 2026 Waktu baca 5 menit
Jakarta, 7 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan kembali melanjutkan pemulihan setelah tekanan tajam pada akhir September.
Pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, IHSG ditutup naik 1,21% atau 74,07 poin ke level 6.192,93.
Penguatan tersebut memperpanjang rebound indeks menjadi tiga sesi perdagangan berturut-turut setelah IHSG sebelumnya sempat turun ke bawah area psikologis 6.000.
Namun ada satu sinyal yang belum ikut membaik: investor asing masih mencatat penjualan bersih.
Karena itu, kenaikan tiga hari ini belum otomatis berarti tren pasar sudah berubah menjadi bullish.
Kenaikan pada 6 Oktober berlangsung cukup luas.
Seluruh 11 sektor IDX-IC berakhir di zona hijau.
Transportasi dan logistik menjadi sektor dengan kenaikan paling tinggi sebesar 3,16%, disusul teknologi 3,09% dan energi 2,67%.
Nilai transaksi seluruh pasar mencapai sekitar Rp12,35 triliun, dengan 48,23 miliar saham berpindah tangan melalui sekitar 1,88 juta transaksi berdasarkan data RTI Business.
Kondisi ini memperlihatkan rebound tidak hanya ditopang oleh satu sektor.
Namun komposisi saham yang mengangkat indeks tetap perlu diperhatikan.
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi kontributor terbesar terhadap penguatan indeks.
Harga BYAN melonjak 9,80% dan menyumbang sekitar 19,67 poin terhadap kenaikan IHSG.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berada di posisi berikutnya. Saham tersebut naik 6,89% dan memberi sekitar 11,05 poin.
MORA juga melonjak 7,82% dan menyumbang sekitar 6,45 poin.
Artinya, kenaikan beberapa saham berkapitalisasi besar mempunyai pengaruh cukup besar terhadap headline IHSG.
Di sisi lain, BBCA, BBRI, dan BREN justru melemah pada sesi tersebut.
Penguatan BYAN terjadi bersamaan dengan perkembangan pada transaksi saham perseroan.
Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low bersama PT Jhonlin Baratama menandatangani perubahan atas perjanjian jual beli saham bersyarat.
Jumlah saham BYAN yang direncanakan dialihkan ke Jhonlin meningkat dari 10.000.000.500 saham menjadi 10.084.088.370 saham.
Dengan demikian, jumlah yang akan dialihkan bertambah sekitar 84,09 juta saham.
Namun transaksi tersebut belum selesai.
Penyelesaiannya masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan.
Karena itu, perkembangan transaksi memang menjadi salah satu informasi penting bagi pasar, tetapi tidak tepat menyimpulkan kenaikan BYAN 9,80% semata-mata disebabkan satu faktor tersebut.
Meskipun seluruh sektor menguat, investor asing masih berada di sisi jual.
Foreign net sell di pasar reguler mencapai sekitar Rp597,49 miliar.
Jika dihitung seluruh pasar, net sell mencapai Rp629,87 miliar.
Ini menjadi salah satu alasan rebound IHSG belum dapat langsung dianggap sebagai awal tren bullish yang sudah terkonfirmasi.
BRI Danareksa Sekuritas menilai perbaikan indeks masih membutuhkan dukungan foreign flow yang lebih baik.
Secara teknikal, perusahaan sekuritas tersebut melihat IHSG telah menembus resistance 6.140. Selama level itu dapat dipertahankan, technical rebound berpeluang berlanjut menuju sekitar 6.240. Namun momentum MACD belum sepenuhnya berbalik bullish.
Kiwoom Sekuritas juga melihat area berikutnya di sekitar 6.263 dan kemudian 6.328–6.334, sementara support berada di sekitar 6.173, 6.120, dan 6.095.
Level tersebut merupakan analisis teknikal, bukan kepastian pergerakan indeks.
Bursa Amerika Serikat juga ditutup positif pada perdagangan 6 Oktober.
Dow Jones naik 0,49% ke 51.521,28, S&P 500 menguat 0,58% ke 7.818,93, sedangkan Nasdaq Composite bertambah 0,45% menjadi 27.599,79.
S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor penutupan, didukung saham teknologi dan AI serta penurunan imbal hasil Treasury AS.
Sentimen Wall Street dapat menjadi konteks positif bagi aset berisiko, meskipun pasar Indonesia juga tetap sensitif terhadap rupiah, yield obligasi AS, dan arus dana asing.
Selain pergerakan IHSG, investor juga mencermati sejumlah aksi korporasi.
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) tengah memperbesar bisnis pusat datanya melalui PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC).
BNI menyediakan fasilitas kredit maksimal sekitar Rp4,13 triliun untuk NAC serta Rp6,63 triliun untuk NGC.
Secara total, fasilitas tersebut sekitar Rp10,75 triliun jika menggunakan nilai kontraktual sebelum pembulatan. MGLV juga memberikan corporate guarantee untuk mendukung fasilitas tersebut.
Dana NAC digunakan antara lain untuk pembiayaan pengambilalihan fasilitas data center di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, serta penambahan kapasitas sekitar 36 MW.
Jika proyek selesai, JababekaDC ditargetkan memiliki total kapasitas 42 MW, dari kapasitas yang sebelumnya 6 MW.
NGC kemudian merencanakan pembangunan BatangDC di kawasan industri Batang dengan kapasitas hingga 60 MW.
Secara aritmetika, kedua proyek tersebut dapat membawa kapasitas yang ditargetkan menjadi sekitar 102 MW.
Namun angka 102 MW merupakan kapasitas rencana setelah pembangunan selesai, bukan kapasitas operasional MGLV pada saat ini.
Pinjaman dari BNI tersebut juga sangat besar jika dibandingkan dengan ekuitas MGLV sebesar sekitar Rp114,23 miliar per Juni 2026. Sumber keterbukaan yang dirangkum IDNFinancials menyebut nilainya sekitar 94 kali ekuitas sebelum rights issue perseroan.
Selain fasilitas bank tersebut, MGLV mengumumkan fasilitas pinjaman pemegang saham hingga Rp4 triliun untuk kedua anak usahanya.
NAC memperoleh plafon maksimal Rp1,5 triliun, sementara NGC hingga Rp2,5 triliun.
Fasilitas tersebut memiliki bunga 7% per tahun dan diarahkan untuk mendukung pembangunan bisnis pusat data di Cikarang dan Batang.
Artinya, ekspansi MGLV merupakan proyek yang sangat capital intensive.
Peluang pertumbuhan kapasitas harus dibaca bersamaan dengan struktur pembiayaan dan risiko leverage.
PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI) juga melakukan ekspansi melalui program peremajaan armada.
Perseroan menambah dua tugboat dan empat barge yang dibangun di dua galangan kapal di Batam.
Setiap tongkang mempunyai kapasitas angkut lebih dari 10.000 ton.
Ada koreksi penting terhadap sebagian pemberitaan yang beredar.
Per 30 September 2026, PSSI dan entitas anak telah mengoperasikan 47 unit armada di luar enam kapal baru tersebut.
Jadi, angka 47 bukan total armada setelah keenam kapal baru dimasukkan.
Jika seluruh kapal baru tersebut nantinya masuk operasi tanpa ada pengurangan armada lain, jumlah secara sederhana dapat menjadi 53 unit. Namun realisasi jumlah operasional aktual tetap harus mengikuti keterbukaan terbaru perseroan.
PSSI juga menyatakan ekspansi diarahkan untuk menjaga keandalan layanan pengangkutan dry bulk.
Perseroan sedang mengeksplorasi peluang di segmen liquid bulk sebagai bagian diversifikasi sumber pendapatan.
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) telah memperoleh pernyataan efektif untuk melaksanakan PMHMETD II pada 5 Oktober 2026.
Perseroan akan menerbitkan sebanyak 6.154.263.660 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Rasionya adalah 4 saham lama memperoleh 1 HMETD, sehingga dana maksimal yang dapat dihimpun sekitar Rp1,54 triliun.
Pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD berpotensi terdilusi hingga sekitar 20%.
Sebagian dana rights issue BUVA direncanakan untuk sejumlah proyek dan kebutuhan neraca.
Sekitar Rp426,34 miliar dialokasikan terkait pengembangan West Resort Uluwatu.
Sekitar Rp417,8 miliar digunakan untuk pembayaran dipercepat utang kepada Bank Mandiri.
Perseroan juga menyiapkan sekitar Rp390,33 miliar untuk Uluwatu Estate, Rp150 miliar untuk renovasi Alila Ubud, dan Rp150 miliar untuk pengembangan Bintan Land.
Jadwal pentingnya meliputi cum-right pasar reguler dan negosiasi pada 13 Oktober 2026, recording date 15 Oktober, serta periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD pada 19–30 Oktober 2026.
Dalam materi analisis pasar yang menjadi basis pembahasan ini, terdapat lima saham dengan level trading sebagai berikut:
| Saham | Area pantauan | Target harga | Stop loss |
|---|---|---|---|
| ENRG | Rp1.060–1.075 | Rp1.095–1.110 | Rp1.010 |
| AMMN | Rp4.470–4.490 | Rp4.610–4.740 | Rp4.250 |
| BYAN | Rp13.300–13.400 | Rp13.600–13.825 | Rp12.575 |
| IATA | Rp112–114 | Rp117–119 | Rp107 |
| MEDC | Rp1.425–1.435 | Rp1.460–1.485 | Rp1.360 |
Level tersebut tercantum dalam publikasi pasar pada 7 Oktober 2026.
Namun angka tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai watchlist teknikal dari sumber, bukan rekomendasi personal.
Bahkan antar-sekuritas, level yang digunakan dapat berbeda. Sebagai contoh, MNC Sekuritas pada hari yang sama menempatkan area trading buy AMMN di Rp4.380–4.470 dengan target Rp4.670–4.810 dan stop loss di bawah Rp4.280.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa rekomendasi teknikal bergantung pada metode, horizon waktu, dan waktu pengambilan data.
Kenaikan tiga sesi dan penguatan seluruh sektor merupakan perkembangan positif.
IHSG juga sudah kembali menembus area 6.100.
Namun foreign outflow masih berjalan dan saham yang menyumbang kenaikan indeks cukup terkonsentrasi pada beberapa emiten besar.
Investor karena itu perlu membedakan antara:
technical rebound, ketika harga memantul setelah penurunan;
dan bullish trend yang lebih kuat, yang biasanya membutuhkan konfirmasi lanjutan dari volume, breadth, saham-saham likuid, dan arus modal.
Saat ini, sejumlah analis masih menempatkan pergerakan IHSG pada kategori rebound yang membutuhkan konfirmasi tambahan.
IHSG melanjutkan rebound pada perdagangan 6 Oktober 2026 dengan kenaikan 1,21% ke 6.192,93.
BYAN menjadi kontributor terbesar dengan kenaikan 9,80% dan sumbangan sekitar 19,67 poin terhadap indeks, disusul AMMN dan MORA.
Seluruh sektor menguat, tetapi investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp629,87 miliar di seluruh pasar.
Karena itu, rebound pasar belum sepenuhnya didukung oleh foreign flow.
Di sisi korporasi, BYAN menghadapi perubahan transaksi saham dengan Jhonlin, MGLV mengembangkan proyek data center berskala besar, PSSI menambah enam kapal baru, dan BUVA bersiap menggelar rights issue Rp1,54 triliun.
Sementara itu, ENRG, AMMN, BYAN, IATA, dan MEDC masuk dalam watchlist teknikal dari materi sumber untuk perdagangan 7 Oktober.
Namun level entry, target harga, dan stop loss tersebut adalah analisis teknikal jangka pendek yang dapat berubah sewaktu-waktu, bukan jaminan keuntungan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal. Watchlist, area beli, target harga, dan stop loss yang dicantumkan merupakan analisis dari sumber pasar dan bukan rekomendasi personal atau ajakan untuk membeli maupun menjual saham tertentu.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.