Purbaya Yudhi Sadewa Tolak Pinjaman Rp514 Triliun dari IMF & Bank Dunia-Ini Alasan di Baliknya

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 April 2026 Waktu baca 5 menit

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa / Foto: Anisa Indraini

Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak menerima tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia sebesar 25 miliar hingga 30 miliar dollar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.

 

Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 428,5 triliun hingga Rp 514,2 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini masih cukup solid, sehingga belum membutuhkan tambahan utang dari lembaga internasional tersebut.

 

“Pinjaman sebesar 25 sampai 30 miliar dollar AS memang tersedia jika ingin digunakan, biasanya untuk negara yang membutuhkan. Namun saya menyampaikan bahwa saat ini Indonesia belum memerlukannya karena masih memiliki cadangan sendiri,” ujar Purbaya kepada media di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

 

Ia menjelaskan bahwa pemerintah masih memiliki cadangan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai sekitar Rp 420 triliun atau hampir setara 25 miliar dollar AS.

 

Cadangan tersebut dinilai memadai untuk menjaga stabilitas keuangan negara tanpa harus menambah utang baru.

 

Menurut Purbaya, keputusan ini merupakan bagian dari upaya menjaga kemandirian fiskal sekaligus memastikan pengelolaan utang tetap berada dalam batas aman di tengah tekanan global.

 

“Kita masih memiliki ruang, sehingga memanfaatkan sumber yang ada terlebih dahulu. Jika nanti kurang, barulah mencari tambahan, tetapi saat ini masih mencukupi,” katanya.

 

Ia menegaskan bahwa setiap kebijakan fiskal disusun secara terencana dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang, bukan hanya sebagai respons sesaat terhadap kondisi global.

 

“Intinya, kebijakan dirancang dengan matang dan dihitung dampaknya secara jelas, bukan sekadar perkiraan,” ujarnya.

Purbaya juga mengungkapkan bahwa pihak IMF dan Bank Dunia memberikan respons yang unik ketika Indonesia menolak tawaran pinjaman tersebut.

 

Menurutnya, penolakan tersebut membuat pihak pemberi pinjaman kehilangan potensi pendapatan dari bunga.

 

“Ekspresi mereka tampak kurang senang karena pinjaman tidak jadi diberikan sehingga tidak memperoleh bunga,” ucapnya.

 

Tawaran pinjaman tersebut diterima saat Purbaya melakukan kunjungan ke Washington DC, Amerika Serikat, pada 13 hingga 17 April 2026.

 

Dalam pertemuan tersebut, IMF dan Bank Dunia menawarkan fasilitas pembiayaan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak konflik global, termasuk konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

 

Namun demikian, pemerintah memilih untuk terlebih dahulu mengandalkan kekuatan domestik, mengingat kondisi fiskal yang dinilai masih terjaga.

Langkah ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal di tengah ketidakpastian global, tanpa bergantung pada pembiayaan eksternal yang berpotensi menambah beban bunga di masa depan.

Sumber: kompas.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.