ASII Siapkan Buyback Rp8 Triliun, MKTR Bidik Pendapatan Rp1,39 Triliun Tahun Ini

Saham News - Diposting pada 11 June 2026 Waktu baca 5 menit

Tinjauan Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (10/6) dengan kenaikan 2,71% ke posisi 5.902,38. Penguatan indeks terutama didorong oleh lonjakan saham BBCA sebesar 9,71%, TLKM sebesar 7,25%, dan BBRI sebesar 3,23%. Di sisi lain, saham SMMA menjadi pemberat utama setelah turun 10,42%, disusul EMAS yang melemah 4,05% dan AMMN yang terkoreksi 2,93%.

 

Walaupun IHSG ditutup menguat, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp2,93 triliun di pasar reguler dan Rp3,13 triliun di seluruh pasar. Dari perspektif sektoral, seluruh 11 sektor berhasil berakhir di zona positif, dengan sektor transportasi menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi sebesar 4,51%.

 

Berbeda dengan kondisi pasar domestik, bursa saham Amerika Serikat justru ditutup melemah. Indeks Dow Jones turun 1,87% ke level 49.918, S&P 500 terkoreksi 1,62% ke posisi 7.266, dan Nasdaq melemah 1,98% hingga berada di level 25.169.

 

Saat ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada upaya pemerintah dalam mempertahankan penguatan nilai tukar rupiah. Selain itu, publikasi data penjualan ritel Indonesia diperkirakan akan menjadi sentimen penting yang memengaruhi arah pasar berikutnya.

 

Di tengah masih berlangsungnya arus keluar dana asing, kedua faktor tersebut dipandang berpotensi menentukan pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Sementara itu, indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing mencatat penguatan sebesar 4,48% dan 5,04%.

 

Kabar Emiten

Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR)

MKTR menargetkan pendapatan sebesar Rp1,39 triliun pada 2026, meningkat 12,09% dibandingkan target tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,24 triliun. Sasaran tersebut didukung oleh rencana pengolahan tandan buah segar (TBS) sebanyak 336.400 ton sepanjang tahun mendatang.

 

Perseroan memperkirakan produksi crude palm oil (CPO) mencapai 73.292 ton dan palm kernel (PK) sebesar 15.031 ton hingga akhir 2026. Manajemen menggunakan asumsi harga jual rata-rata CPO sebesar Rp14.750 per kilogram. Namun hingga Mei 2026, harga jual rata-rata CPO yang dicapai perseroan masih berada di atas Rp15.000 per kilogram.

 

Dari sisi pergerakan harga saham, MKTR masih berada dalam fase konsolidasi dengan peluang menuju area Rp130.

 

Astra International Tbk (ASII)

ASII berencana melaksanakan program pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp8 triliun. Sumber dana untuk aksi tersebut berasal dari kas internal perseroan yang pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp49,05 triliun.

 

Apabila seluruh program buyback terealisasi, total aset ASII diperkirakan turun dari Rp517,80 triliun menjadi Rp509,80 triliun. Sementara itu, total ekuitas diproyeksikan berkurang dari Rp293,12 triliun menjadi Rp285,12 triliun.

 

Meskipun aset dan ekuitas diperkirakan menurun, laba per saham (earnings per share/EPS) diproyeksikan meningkat dari Rp146 menjadi Rp149 per saham karena berkurangnya jumlah saham yang beredar.

 

Perseroan membatasi jumlah saham yang dapat dibeli kembali hingga maksimal 10% dari modal ditempatkan dan disetor. Selain itu, porsi kepemilikan publik setelah buyback tetap akan dipertahankan di atas batas minimum 15%.

 

Rencana tersebut akan diajukan untuk memperoleh persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 17 Juli 2026. Jika mendapatkan persetujuan pemegang saham, pelaksanaan buyback akan berlangsung mulai 20 Juli 2026 hingga 16 Juli 2027.

 

Fortune Indonesia Tbk (FORU)

FORU berencana menerbitkan 219,48 miliar saham baru melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I). Dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham, perseroan berpotensi memperoleh dana sebesar Rp27,65 triliun apabila seluruh saham baru terserap pasar.

 

Sebanyak 76,81% dari dana hasil aksi korporasi tersebut setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk mengakuisisi 49% saham Borneo Prima milik IMR Asia Holding Pte Ltd senilai Rp21,24 triliun melalui mekanisme inbreng. Sisanya akan disalurkan sebagai pinjaman kepada Borneo Prima guna mendukung kebutuhan modal kerja operasional pertambangan serta aktivitas produksi.

 

Sejalan dengan rencana tersebut, FORU juga akan mengubah kegiatan usahanya dari perusahaan media dan percetakan menjadi perusahaan holding. Sebagai pemegang saham pengendali, IMR Asia Holding Pte Ltd akan melakukan penyertaan modal atas 168,58 miliar saham baru dalam bentuk inbreng berupa 10.780 saham seri A Borneo Prima yang setara dengan 49% kepemilikan.

 

Seluruh rencana aksi korporasi tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang akan diselenggarakan pada 16 Juli 2026.

 

Rekomendasi Saham Hari Ini

  • ASII — Buy: 4650–4670 | TP: 4750–4840 | SL: 4400
  • TLKM — Buy: 2760–2780 | TP: 2850–2900 | SL: 2620
  • IMPC — Buy: 1540–1555 | TP: 1595–1625 | SL: 1450
  • MBMA — Buy: 464–468 | TP: 478–486 | SL: 438
  • SGER — Buy: 342–346 | TP: 356–364 | SL: 328

Disclaimer: Seluruh analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini disampaikan semata-mata untuk tujuan informasi dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor dengan mempertimbangkan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Berinvestasilah secara bijak.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.