Saham News
Saham Bank Tertekan Aksi Jual Asing-Saatnya Waspada atau Justru Peluang?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 14 November 2023 Waktu baca 5 menit
Pengusaha meramalkan bahwa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor tekstil akan berlanjut hingga tahun depan, meskipun ada agenda politik di tahun tersebut.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serta dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menyatakan bahwa tren PHK mengikuti kinerja sektor tekstil. Artinya, ketika sektor tekstil mengalami pertumbuhan, tren PHK akan berhenti, dan sebaliknya.
"Iya (sampai tahun depan), ini kami (juga) perkirakan kuartal IV 2023 tren pertumbuhan masih negatif," kata Redma saat dihubungi kumparan, Senin (13/11).
Redma sebelumnya juga menyebutkan bahwa sektor ini belum mendapatkan permintaan yang signifikan untuk tahun depan, sehingga pihaknya belum dapat berharap banyak pada pertumbuhan sektor tekstil.
Redma menyatakan bahwa saat ini pelaku usaha industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih aktif dalam pemangkasan hubungan kerja dengan karyawan demi mempertahankan usahanya. Setiap minggu, pekerja terus dirumahkan.
"PHK masih terus terjadi setiap minggu, ratusan ribu karyawan masih dirumahkan," ungkap Redma.
Namun, Redma tidak menjelaskan perusahaan mana saja yang melakukan PHK dan merumahkan karyawan tersebut.
Di tengah kondisi sulit itu, Redma mengungkapkan bahwa utilisasi sektor TPT saat ini masih di bawah 50 persen dari pertengahan 2023. Pasar ekspor seperti Amerika Serikat dan Eropa juga terdampak oleh ketegangan geopolitik yang belum pulih.
Sementara itu, Redma menyatakan bahwa sektor tekstil di pasar domestik masih dihadapkan pada masalah banjirnya produk impor dari luar negeri, yang membuat PHK sulit dihindari.
Sebelumnya, Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Danang Girindrawardana, menjelaskan bahwa pada pertengahan tahun ini, industri TPT dan garmen masih tertekan karena penurunan permintaan ekspor sekitar 50 persen.
"Kami masih menghadapi situasi Berkurangnya permintaan ekspor dari Amerika atau dari Eropa yang belum pulih. Dan sampai sekarang pengurangan ekspornya mendekati 50 persen. Hal itu diperparah dengan gempuran barang-barang impor yang masuk ke Indonesia," kata Danang saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (21/6).
Kala itu, Danang menyebut bahwa akan ada lima perusahaan yang akan melakukan rasionalisasi pegawai, termasuk PHK yang melibatkan sekitar 12.000 buruh.
"Di internal kami, pembahasan itu kurang lebih ada lima perusahaan lagi yang akan merasionalisasikannya pada kuartal ketiga tahun ini, sampai Agustus-September. Itu kalau dikuantifikasi angkanya bisa sekitar 12.000-an pekerja," tutur Danang.
Sumber: kumparan.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.