NASA Potensi Kiamat Internet Akibat Badai Matahari

Edukasi - Diposting pada 04 July 2023 Waktu baca 5 menit

Baru-baru ini NASA memberikan peringatan mengenai kemungkinan gangguan pada internet yang berlangsung selama berbulan-bulan pada tahun 2025, yang mereka sebut sebagai "kiamat internet". Gangguan ini disebabkan oleh badai Matahari, seperti yang dikutip dari USA Today.

 

Menurut NASA, selama siklus 11 tahun, Matahari akan menjadi lebih aktif sekitar pertengahan periode tersebut dan kemudian secara bertahap menjadi tenang. Ketika Matahari menjadi lebih aktif, badai Matahari menjadi lebih parah dan kuat. NASA menjelaskan bahwa angin surya terjadi akibat ekspansi partikel bermuatan korona Matahari di atmosfer terluar. Meskipun angin surya jauh lebih padat daripada angin di Bumi, namun kecepatan angin Matahari jauh lebih tinggi, yaitu sekitar 1-2 juta mil per jam. Karena badai terbentuk di dekat Matahari, dampak atmosfer dapat dirasakan di Bumi.

 

Badai Matahari memicu pelepasan partikel Matahari dan radiasi elektromagnetik ke Bumi melalui suar Matahari dan pelepasan massa koronal. Ketika frekuensi pelepasan massa koronal meningkat pada puncak siklus 11 tahunan, aktivitas elektromagnetik di puncak Matahari terjadi. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan di Bumi, seperti terjadinya badai geometris yang dapat mengganggu sinyal satelit, komunikasi radio, internet, dan jaringan listrik. Para ahli menyatakan bahwa peristiwa semacam ini sangat langka dan belum pernah terjadi pada era digital.

 

Contoh peristiwa yang dapat memberikan gambaran dampaknya adalah "Carrington Event". Dilaporkan oleh Washington Post, badai Matahari yang terjadi pada tahun 1859 ini menyebabkan beberapa kerusakan. Badai Matahari tersebut memicu kebakaran di stasiun telegraf yang menghambat pengiriman pesan selama beberapa waktu. Selain itu, cahaya utara juga turun hingga garis lintang serendah Jamaika. Pada tahun 1989, badai Matahari juga menyebabkan pemadaman listrik selama berjam-jam di Quebec, Kanada. Jutaan penduduk Kanada harus hidup dalam kegelapan selama 12 jam dan sekolah serta pusat bisnis terpaksa ditutup.

 

Seorang profesor ilmu komputer di University of California, Sangeetha Abdu Jyothi, mengatakan, "Kami tidak pernah mengalami kejadian ekstrem seperti itu sebelumnya, dan kami tidak tahu bagaimana infrastruktur kami akan menghadapinya. Pengujian kegagalan kami bahkan tidak mencakup skenario semacam itu." Menurutnya, badai Matahari yang parah berpotensi mempengaruhi infrastruktur besar seperti kabel komunikasi bawah laut, yang dapat mengganggu konektivitas jarak jauh.

 

Garis lintang utara juga menjadi sangat rentan terhadap badai Matahari karena banyaknya infrastruktur internet yang terkonsentrasi di wilayah tersebut. Hal ini tidak pernah dipertimbangkan dalam penyebaran infrastruktur saat ini, seperti yang diungkapkan oleh ilmuwan NASA. Meskipun demikian, mereka sedang berusaha untuk mencegah bencana tersebut dengan meluncurkan penyelidikan bertahun-tahun yang lalu. Penyelidikan ini memungkinkan mereka untuk mempelajari dan mempersiapkan bagaimana badai Matahari dapat memengaruhi infrastruktur planet.

 

Sumber: USAToday/WashingtonPost/Kompas/

 

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun InstagramTikTokYoutube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar teknologi aset digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :