Saham News
IHSG Anjlok 1,06% Jelang Keputusan MSCI dan BI Rate, Investor Mulai Waspada
/index.php
Investasi Digital - Diposting pada 02 March 2026 Waktu baca 5 menit
Para investor mulai memindahkan alokasi portofolionya ke instrumen safe haven seperti emas di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Seperti diketahui, Amerika Serikat dan Iran masih saling melancarkan serangan sejak Sabtu.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai emas akan menjadi komoditas unggulan bagi investor dalam situasi konflik tersebut. Mengutip Reuters pada Senin (2/3/2026), ia menyatakan bahwa emas kemungkinan akan lebih banyak diminati ketika pasar dibuka. Ketidakpastian mengenai durasi konflik, potensi keterlibatan negara lain, serta kekhawatiran terhadap inflasi membuat emas diperkirakan kembali memainkan perannya sebagai aset safe haven utama.
Waterer juga memperkirakan pasar saham dan berbagai aset berisiko lain berpotensi mengalami tekanan jual besar pada awal perdagangan pekan ini. Menurutnya, investor akan mencari instrumen yang paling aman untuk menempatkan dana, dan emas diprediksi menjadi pilihan teratas.
Sementara itu, analis Marex Edward Meir memperkirakan harga emas akan melonjak sebagai reaksi alami pasar terhadap pecahnya perang. Ia memproyeksikan harga emas dapat naik sekitar US$200 per troy ons pada pembukaan perdagangan awal pekan. Meski demikian, ia memperkirakan kenaikan tersebut kemungkinan akan terkoreksi sepanjang hari.
Ia menambahkan bahwa fokus utama investor saat ini adalah potensi gangguan terhadap pasokan minyak. Faktor tersebut menjadi penentu apakah investor akan semakin beralih ke aset safe haven atau tidak.
Analis pasar di City Index dan Forex.com, Fawad Razaqzada, bahkan memperkirakan harga emas dapat mencetak rekor baru hingga mencapai US$5.600 per troy ons atau sekitar Rp3 juta per gram dalam situasi perang di Timur Tengah. Ia menyebut peningkatan permintaan emas sebagai aset lindung nilai dapat mendorong harga kembali naik ke kisaran US$5.500 dan berpotensi melampaui rekor tertinggi Januari di sekitar US$5.600.
Namun demikian, kenaikan harga emas di atas level tersebut berpeluang tertahan jika dolar AS mengalami penguatan kembali, serta apabila harga minyak mentah tetap bertahan pada level yang sangat tinggi.
Sumber: detik.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.