Berita Terkini
Abu Anak Krakatau Sudah Sampai Mana? BMKG Ungkap Sebaran Terbaru
/index.php
Saham News - Diposting pada 07 September 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan membuka perdagangan Senin, 7 September 2026 di zona hijau, tetapi penguatan awal tersebut belum menghilangkan risiko pergerakan mendatar hingga koreksi lanjutan.
IHSG naik 15,61 poin atau 0,24% ke 6.652,09 pada pembukaan perdagangan. Indeks LQ45 ikut menguat 1,43 poin atau 0,22% menjadi 659,02.
Meski demikian, Kiwoom Sekuritas menilai kondisi teknikal IHSG masih membutuhkan kewaspadaan.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata melihat indeks berpotensi menguji support 6.595, kemudian 6.551 dan 6.525 apabila tekanan jual berlanjut.
Sebaliknya, jika rebound mampu bertahan, resistance terdekat berada di 6.681 dan 6.704. IHSG selanjutnya berpeluang mencoba menutup area gap di sekitar 6.723.
Dengan rentang tersebut, perdagangan awal pekan dapat menjadi tarik-menarik antara sentimen positif dari Asia dan sejumlah faktor risiko global maupun domestik.
Secara teknikal, pelemahan pada perdagangan Jumat membuat momentum bullish IHSG mulai berkurang.
IHSG pada 4 September ditutup turun 0,47% ke 6.636,48 setelah bergerak di rentang 6.633,92–6.704,13.
Indikator RSI 14 hari juga kembali turun ke sekitar 64.
Posisi tersebut belum menunjukkan kondisi oversold, tetapi mengindikasikan momentum kenaikan sebelumnya mulai kehilangan tenaga.
Karena itu, area 6.595 menjadi salah satu level awal yang penting.
Jika IHSG mampu bertahan di atas zona support, peluang konsolidasi atau rebound masih terbuka.
Namun, apabila 6.595 ditembus dengan tekanan jual kuat, pasar dapat mulai melihat support berikutnya di 6.551 dan 6.525.
Sebaliknya, untuk kembali memperkuat momentum positif, indeks perlu melewati area 6.681–6.704.
Level support dan resistance merupakan alat analisis teknikal, bukan kepastian bahwa indeks akan berhenti atau berbalik tepat pada angka tersebut.
Pasar global memasuki awal pekan dengan ketidakpastian baru mengenai arah suku bunga Amerika Serikat.
Gubernur Federal Reserve Christopher Waller sebelumnya memberikan sinyal yang relatif dovish dengan mengatakan pembuat kebijakan sebaiknya memberikan waktu bagi proses penurunan inflasi untuk berjalan.
Komentar tersebut sempat menurunkan ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.
Namun, situasinya berubah setelah laporan tenaga kerja AS terbaru menunjukkan nonfarm payrolls Agustus bertambah 162.000 pekerjaan.
Angka tersebut jauh di atas perkiraan sekitar 56.000.
Data tenaga kerja yang kuat membuat pasar kembali meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed menjadi sekitar 57%–58%.
Artinya, narasi pasar saat ini bukan lagi sekadar “ekspektasi kenaikan suku bunga menurun”.
Investor sekarang berada di antara dua sinyal: komentar Waller yang lebih berhati-hati dan data pekerjaan yang menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat untuk menahan kebijakan moneter ketat.
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat.
Consumer Price Index Agustus dijadwalkan dirilis pekan ini sebelum pertemuan The Fed pertengahan September.
Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat kembali menguat.
Sebaliknya, data yang menunjukkan tekanan harga melandai dapat memperkuat pandangan Waller bahwa The Fed tidak perlu terburu-buru mengetatkan kebijakan.
Perubahan ekspektasi ini penting bagi pasar saham Indonesia karena suku bunga AS dapat memengaruhi yield Treasury, kekuatan dolar, serta arus modal menuju atau keluar dari emerging markets.
Sentimen regional pada Senin relatif lebih positif.
Jepang dan Korea Selatan menjadi dua pasar dengan kenaikan terbesar.
Reuters mencatat Nikkei Jepang naik sekitar 2,2%, sementara Kospi Korea Selatan menguat sekitar 3,1%.
Penguatan terutama ditopang saham teknologi dan semikonduktor seiring optimisme terhadap permintaan chip serta investasi terkait kecerdasan buatan.
Namun, bursa Asia tidak seluruhnya bergerak positif.
Hong Kong melemah, sementara pasar China bergerak lebih terbatas.
Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa sentimen regional masih bercampur, bukan reli seragam di seluruh Asia.
Pasar juga mencerna kebijakan baru Beijing.
Pemerintah China menyiapkan injeksi modal sekitar US$54 miliar atau sekitar 360 miliar yuan ke sejumlah bank dan perusahaan asuransi milik negara.
China Life Insurance akan menerima 35 miliar yuan.
China Taiping Insurance Group mendapatkan 7 miliar yuan.
People's Insurance Company of China berencana menghimpun hingga 15 miliar yuan melalui private placement kepada Kementerian Keuangan.
Di sektor perbankan, beberapa bank besar juga akan memperoleh tambahan modal.
Tujuan kebijakan tersebut adalah memperkuat solvabilitas dan permodalan lembaga keuangan serta meningkatkan kemampuan sistem perbankan dalam mendukung ekonomi.
Bagi pasar regional, stimulus seperti ini dapat menjadi sentimen positif karena menunjukkan Beijing masih berupaya menjaga stabilitas sektor keuangan.
Tetapi tambahan modal kepada bank dan asuransi tidak otomatis berarti pertumbuhan ekonomi China akan langsung melonjak.
Efeknya tetap bergantung pada penyaluran kredit, permintaan domestik dan aktivitas investasi.
Di sisi lain, geopolitik masih menjadi ancaman terhadap risk appetite global.
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat, termasuk serangan terhadap kapal dan tanker di kawasan Teluk.
Harga Brent berada di sekitar US$97 per barel pada perdagangan Senin.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi negara pengimpor energi termasuk Indonesia.
Jika bertahan lama, harga minyak tinggi berpotensi meningkatkan biaya impor, tekanan inflasi, dan kebutuhan valuta asing.
Risiko geopolitik tersebut menjadi salah satu alasan investor tetap berhati-hati meski sebagian pasar saham Asia bergerak kuat.
Konflik Rusia-Ukraina juga tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi harga energi, pangan dan rantai pasok global.
Dari dalam negeri, erupsi Gunung Anak Krakatau memberikan tekanan yang lebih langsung kepada sektor transportasi.
Kementerian Perhubungan memperpanjang penutupan delapan bandara terdampak abu vulkanik hingga Senin, 7 September pukul 09.00 WIB.
Bandara yang terdampak meliputi Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas dan Atung Bungsu.
Penutupan dilakukan demi keselamatan penerbangan karena abu vulkanik dapat merusak mesin dan sistem pesawat.
Gangguan tersebut telah berdampak pada ratusan penerbangan dan puluhan hingga ratusan ribu penumpang.
Jika penutupan berlangsung lebih lama, efek ekonominya dapat meluas ke maskapai, bandara, pariwisata, hotel, logistik dan distribusi barang.
Namun, dampak terhadap laporan keuangan emiten tertentu belum dapat dihitung hanya berdasarkan gangguan beberapa hari.
Salah satu data domestik yang sebelumnya diperkirakan menjadi perhatian pasar sudah dirilis Bank Indonesia pada Senin pagi.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar.
Angka tersebut meningkat dari US$145,3 miliar pada akhir Juli.
Bank Indonesia menyebut kenaikan terutama ditopang penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.
Kenaikan terjadi meskipun pemerintah melakukan pembayaran utang luar negeri dan BI menjalankan kebijakan stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.
Posisi cadangan tersebut setara dengan sekitar 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Level itu berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Data tersebut dapat memberikan sentimen pendukung bagi rupiah dan persepsi ketahanan eksternal Indonesia.
Selain cadangan devisa, kalender Bank Indonesia menunjukkan investor masih akan mencermati Survei Konsumen Agustus dan Survei Penjualan Eceran Juli pada September.
Indeks Keyakinan Konsumen terakhir untuk Juli tercatat 116,8.
Angka di atas 100 menunjukkan konsumen masih berada pada zona optimistis.
Namun, indeks tersebut turun dari bulan sebelumnya sehingga rilis Agustus akan menjadi salah satu indikator untuk melihat apakah daya beli dan optimisme rumah tangga mulai pulih atau justru kembali melemah.
Penjualan ritel juga penting untuk membaca kekuatan konsumsi domestik, salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Naskah awal menyebut pemerintah telah menutup 290 perusahaan dan menargetkan penutupan 700 perusahaan lain dengan efisiensi hingga Rp100 triliun.
Pernyataan resmi Presiden Prabowo memberikan angka yang berbeda.
Presiden menyebut 290 BUMN telah ditutup dan pemerintah menargetkan pada 31 Desember 2026 jumlah BUMN tersisa maksimal sekitar 300 perusahaan.
Artinya, secara keseluruhan lebih dari 750 BUMN direncanakan ditutup atau dirampingkan.
Prabowo menyebut penghematan overhead dari langkah tersebut saat ini telah melebihi Rp50 triliun.
Target pada akhir tahun yang disampaikan Presiden adalah penghematan lebih dari Rp70 triliun, bukan Rp100 triliun.
Penghematan disebut berasal dari biaya seperti direksi, komisaris, sewa gedung, kendaraan dan perjalanan dinas.
Secara teori, restrukturisasi dapat meningkatkan efisiensi BUMN.
Namun, dampaknya terhadap profitabilitas secara agregat baru dapat dinilai setelah hasil restrukturisasi dan laporan keuangan perusahaan tersedia.
Sebelum libur Labor Day pada Senin, Wall Street menutup perdagangan Jumat dalam zona merah.
Dow Jones Industrial Average turun 0,51% ke 53.414,25.
S&P 500 melemah 0,38% menjadi 7.718,60.
Nasdaq Composite turun 0,29% ke 26.506,99.
Penurunan terjadi setelah data tenaga kerja AS yang lebih kuat mendorong yield Treasury dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Karena pasar AS tutup pada Senin, bursa Asia tidak mendapat petunjuk intraday langsung dari Wall Street.
Bursa Eropa pada Jumat juga bergerak terbatas.
FTSE 100 Inggris berakhir hampir stagnan di 10.831,09.
DAX Jerman menguat sekitar 0,17%, sementara CAC 40 Prancis turun sekitar 0,09%.
Euro Stoxx 50 naik tipis sekitar 0,2%.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor global masih menunggu katalis yang lebih jelas dari inflasi, kebijakan bank sentral dan geopolitik.
Untuk IHSG, skenario awal pekan masih terbuka ke dua arah.
Pembukaan positif dan reli saham Asia memberikan dukungan.
Cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi US$146,5 miliar juga menjadi sentimen domestik yang konstruktif.
Namun, indeks masih berada dekat zona teknikal yang rentan koreksi.
Ketidakpastian arah The Fed, kenaikan harga minyak, konflik Timur Tengah dan gangguan penerbangan akibat Anak Krakatau tetap menjadi faktor risiko.
Dalam skenario teknikal Kiwoom, area 6.595 menjadi support terdekat.
Jika bertahan, IHSG masih mempunyai peluang rebound menuju 6.681–6.704 dan kemudian menguji 6.723.
Jika support pecah, perhatian dapat bergeser ke 6.551 dan 6.525.
Karena itu, kata “sideways” paling tepat dipahami sebagai potensi konsolidasi dalam rentang tertentu, bukan prediksi bahwa IHSG akan benar-benar datar sepanjang hari.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal. Support, resistance dan pandangan arah IHSG merupakan analisis pasar, bukan jaminan pergerakan indeks atau rekomendasi personal untuk membeli maupun menjual efek.
Sumber: antaranews.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.