Chemistry Prabowo-Putin Jadi Modal Ekonomi, Apa Untungnya buat RI?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 05 September 2026 Waktu baca 5 menit

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan saat bertemu dalam acara jamuan santap siang di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). (Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Harga Pangan Naik, Upah Cuma Naik 3%: Pengeluaran Apa yang Perlu Dipangkas?

Tekanan keuangan rumah tangga tidak selalu datang karena penghasilan berkurang. Dalam banyak kasus, masalah justru muncul ketika biaya hidup naik lebih cepat daripada kemampuan seseorang menambah penghasilannya.

Situasi seperti ini mulai terasa pada sejumlah kebutuhan pangan.

Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok atau SP2KP Kementerian Perdagangan menunjukkan rata-rata harga beras premium nasional berada di Rp15.546 per kilogram pada 4 Agustus 2026. Sebulan kemudian, pada 4 September, harganya berada di sekitar Rp15.621 per kilogram.

Pergerakan lebih besar terjadi pada daging ayam ras. Harga rata-rata nasional yang sekitar Rp38.408 per kilogram pada awal Agustus meningkat menjadi Rp40.978 per kilogram pada 4 September.

Sementara itu, kemampuan pendapatan pekerja tidak serta-merta bergerak dengan kecepatan yang sama.

Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata upah buruh Indonesia pada Mei 2026 sebesar Rp3,39 juta per bulan. Nilainya meningkat Rp101.301 atau sekitar 3,08% dibanding Februari 2026.

Artinya, upah memang tidak sepenuhnya mandek. Namun, bagi rumah tangga dengan anggaran yang sudah ketat, kenaikan kebutuhan pokok tetap dapat membuat ruang keuangan terasa semakin sempit.

Lalu, pengeluaran apa yang sebaiknya dikurangi terlebih dahulu?

 

Jangan Mulai dari Makan Pokok

Kesalahan yang mudah terjadi ketika kondisi keuangan ketat adalah memangkas semua pengeluaran secara merata.

Padahal, tidak semua pengeluaran mempunyai tingkat kepentingan yang sama.

Makanan pokok, tempat tinggal, listrik, biaya pendidikan, transportasi untuk bekerja, cicilan wajib, dan kebutuhan kesehatan berada pada level yang berbeda dibanding nongkrong, upgrade gadget, liburan, atau layanan streaming yang jarang digunakan.

Karena itu, langkah pertama bukan sekadar “hemat”, tetapi menentukan mana pengeluaran yang masih dapat dihilangkan tanpa mengganggu kebutuhan dasar.

Dalam materi yang menjadi dasar artikel ini, perencana keuangan menyarankan pengeluaran gaya hidup menjadi area pertama yang dievaluasi ketika pendapatan mulai terasa terlalu ketat.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan prinsip budgeting yang digunakan dalam modul edukasi Bank Indonesia. Metode 50:30:20, misalnya, menempatkan kebutuhan pokok pada porsi utama, keinginan pada porsi yang lebih fleksibel, dan tabungan atau investasi sebagai bagian persiapan masa depan.

Namun, angka tersebut bukan aturan yang harus dipaksakan kepada semua orang. Kondisi pendapatan dan biaya hidup masing-masing rumah tangga berbeda.

 

Pangkas Pengeluaran yang Tidak Mengubah Kualitas Hidup Secara Signifikan

Jika harus melakukan efisiensi, cari pos yang pengurangannya tidak membuat aktivitas utama terganggu.

Kebiasaan membeli kopi atau makanan kekinian setiap hari bisa dikurangi frekuensinya. Nongkrong yang biasanya dilakukan setiap pekan dapat diubah menjadi dua minggu sekali atau satu bulan sekali.

Langganan digital juga layak diperiksa.

Seseorang mungkin membayar beberapa layanan streaming, penyimpanan cloud, aplikasi kebugaran, aplikasi musik atau platform lainnya setiap bulan tetapi hanya benar-benar menggunakan satu atau dua layanan.

Nominal satu subscription mungkin terlihat kecil. Masalahnya muncul ketika beberapa pembayaran otomatis berjalan bersamaan tanpa pernah dievaluasi.

Pengeluaran impulsif juga perlu diperhatikan.

Diskon 50% tidak berarti seseorang menghemat 50% jika barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan. Dalam kondisi arus kas ketat, uang yang tidak dibelanjakan sering kali lebih berharga daripada barang yang dibeli hanya karena sedang promo.

 

Bedakan Wajib, Penting, dan Keinginan

Salah satu cara sederhana menyusun anggaran adalah membaginya berdasarkan tingkat prioritas.

Kelompok pertama adalah pengeluaran wajib. Di dalamnya termasuk tempat tinggal, listrik, cicilan utang, biaya pendidikan, serta kewajiban lain yang memiliki konsekuensi serius jika tidak dibayar.

Kelompok berikutnya adalah kebutuhan penting yang nominalnya masih dapat disesuaikan.

Biaya makan adalah kebutuhan, tetapi cara memenuhinya bisa berbeda. Memasak sendiri atau membawa bekal dapat lebih murah dibanding membeli makanan beberapa kali sehari.

Transportasi menuju tempat kerja juga wajib bagi banyak pekerja, tetapi moda transportasinya dapat dievaluasi. Jika tersedia dan masuk akal, transportasi publik atau berbagi kendaraan dapat menjadi pilihan lebih ekonomis.

Kelompok terakhir adalah keinginan.

Liburan, nongkrong, gadget baru, pakaian tambahan, hiburan berbayar, dan berbagai pembelian berbasis tren biasanya mempunyai fleksibilitas paling besar.

Saat anggaran mulai defisit, kelompok inilah yang seharusnya menerima pengurangan terbesar sebelum kebutuhan dasar dikorbankan.

 

Rumus 50:30:20 Tidak Harus Dipaksakan

Metode 50:30:20 sering digunakan sebagai titik awal: sekitar 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi.

Bank Indonesia juga menggunakan metode tersebut dalam materi edukasi budgeting dan menekankan bahwa komposisinya dapat berubah mengikuti tingkat pendapatan.

Artinya, seseorang yang 70% penghasilannya sudah habis untuk kebutuhan pokok tidak perlu merasa gagal hanya karena tidak mampu mengikuti angka 50%.

Masalah sebenarnya bukan apakah persentasenya sama persis.

Pertanyaannya adalah apakah pengeluaran masih berada di bawah pendapatan dan apakah ada ruang untuk membangun perlindungan keuangan.

Saat harga pangan naik, porsi kebutuhan mungkin sementara meningkat menjadi 60% atau bahkan lebih.

Konsekuensinya, porsi keinginan perlu turun lebih dulu.

 

Dana Darurat Jangan Jadi Korban Pertama

Ketika kondisi keuangan ketat, investasi sering menjadi pos yang dipertanyakan.

Namun, sebelum memikirkan investasi agresif, hal yang lebih mendasar adalah likuiditas untuk menghadapi keadaan darurat.

Dana darurat berguna ketika muncul pengeluaran yang tidak direncanakan, seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan, kendaraan rusak, atau kebutuhan keluarga mendadak.

OJK dalam materi literasi keuangannya menempatkan dana darurat sebagai salah satu prioritas sebelum investasi. Bank Indonesia juga menekankan pentingnya menyisihkan dana cadangan untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan.

Karena itu, jika pilihan yang tersedia adalah mengejar investasi tetapi tidak memiliki uang tunai untuk kondisi darurat, memperkuat dana cadangan dapat menjadi prioritas yang lebih masuk akal.

 

Apakah Investasi Harus Berhenti?

Tidak selalu.

Jika setelah memenuhi kebutuhan pokok, cicilan wajib, dan dana darurat masih terdapat surplus, investasi tetap dapat dilanjutkan.

Namun, porsinya dapat disesuaikan.

Seseorang yang sebelumnya mengalokasikan Rp1 juta per bulan untuk investasi mungkin memilih menguranginya sementara menjadi Rp300 ribu atau Rp500 ribu apabila kebutuhan rumah tangga meningkat.

Yang perlu dihindari adalah memaksakan investasi hingga kebutuhan dasar akhirnya dibayar menggunakan utang konsumtif.

Investasi merupakan alat untuk tujuan jangka panjang. Dana untuk kebutuhan hidup bulan depan sebaiknya tidak ditempatkan pada aset berisiko hanya demi mempertahankan target investasi.

 

Cicilan Mulai Berat? Jangan Tunggu Sampai Menunggak

Kenaikan kebutuhan pokok juga dapat memperburuk kondisi orang yang sebelumnya sudah mempunyai cicilan tinggi.

Jika cicilan mulai mengambil porsi terlalu besar dari pendapatan, evaluasi perlu dilakukan sebelum terjadi gagal bayar.

Pilihan yang tersedia akan berbeda tergantung jenis pinjaman dan pemberi kredit. Dalam kondisi tertentu, nasabah dapat mendiskusikan restrukturisasi atau perubahan skema pembayaran dengan lembaga pemberi pinjaman.

Namun, keputusan semacam ini perlu memahami konsekuensinya, termasuk perubahan tenor dan total biaya.

Yang tidak disarankan adalah menutup cicilan lama dengan utang konsumtif baru tanpa memperbaiki masalah arus kas.

 

Coba Audit 30 Hari Terakhir

Sebelum memangkas pengeluaran secara agresif, lihat mutasi rekening dan dompet digital selama satu bulan terakhir.

Sering kali kebocoran terbesar bukan berasal dari satu transaksi bernilai jutaan rupiah.

Pengeluaran Rp25 ribu, Rp40 ribu, atau Rp60 ribu yang berulang berkali-kali dapat menghasilkan jumlah yang cukup besar pada akhir bulan.

Kelompokkan seluruh transaksi ke dalam kebutuhan wajib, kebutuhan fleksibel, keinginan, cicilan, tabungan, dan investasi.

Dari sana akan terlihat kategori mana yang paling realistis dikurangi.

Cara ini lebih efektif dibanding hanya berjanji “bulan depan harus lebih hemat” tanpa mengetahui ke mana uang sebenarnya pergi.

 

Jangan Hanya Hemat, Cari Ruang Tambah Pendapatan

Ada batas untuk berhemat.

Jika setelah memotong keinginan dan mengoptimalkan kebutuhan dasar anggaran masih defisit, masalahnya mungkin bukan lagi gaya hidup.

Pendapatan memang perlu ditingkatkan atau struktur biaya besar perlu diubah.

Pilihan dapat berupa mengambil pekerjaan tambahan, meningkatkan keterampilan untuk mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi, menjual jasa secara freelance, atau mencari sumber pendapatan tambahan yang realistis.

Tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan hal tersebut. Karena itu, solusi keuangan personal tidak seharusnya hanya berhenti pada nasihat “kurangi kopi”.

Untuk rumah tangga yang kebutuhan dasarnya sudah menyerap hampir seluruh penghasilan, persoalannya lebih struktural daripada sekadar konsumsi impulsif.

 

Jadi, Apa yang Dipangkas Lebih Dulu?

Saat biaya hidup meningkat, urutannya sebaiknya bukan mengurangi seluruh pengeluaran sekaligus.

Pertahankan kebutuhan dasar dan kewajiban penting terlebih dahulu.

Evaluasi gaya hidup, pembelian impulsif, langganan yang tidak dipakai, frekuensi makan di luar, biaya hiburan, serta rencana belanja besar yang masih bisa ditunda.

Setelah itu, optimalkan kebutuhan yang fleksibel seperti makanan dan transportasi tanpa mengorbankan kesehatan atau kemampuan bekerja.

Dana darurat sebaiknya tetap dibangun sesuai kemampuan. Investasi dapat dikurangi sementara jika kondisi kas terlalu sempit, tetapi tidak harus dihentikan jika keuangan masih memungkinkan.

Intinya bukan hidup sehemat mungkin.

Tujuannya adalah membuat pengeluaran sesuai dengan kemampuan pendapatan, sehingga satu kenaikan harga atau satu kejadian darurat tidak langsung membuat keuangan rumah tangga runtuh.

 

 

 

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi keuangan umum dan bukan perencanaan keuangan personal untuk kondisi individu tertentu.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.