Bisnis | Ekonomi
APBN 2027 Disahkan Rp4.106 Triliun, Ini Rincian Belanja dan Defisitnya
/index.php
Saham News - Diposting pada 30 September 2026 Waktu baca 5 menit
Jakarta, 30 September 2026 — Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan Rabu belum cukup untuk mengubah arah transaksi investor asing. Ketika indeks berhasil bertahan di zona hijau, investor asing justru mencatat penjualan bersih sebesar Rp677,4 miliar.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran jual terbesar dengan nilai net foreign sell Rp144,37 miliar. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyusul di posisi berikutnya.
Di sisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) justru memimpin daftar saham yang paling banyak dibeli investor asing.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan IHSG tidak selalu berjalan beriringan dengan masuknya dana asing.
Berdasarkan data perdagangan hingga akhir sesi I, BBCA mencatat net foreign sell sebesar Rp144,37 miliar.
Saham BCA juga menjadi emiten dengan nilai transaksi terbesar sepanjang sesi pertama, mencapai sekitar Rp547,08 miliar. Meski aktivitas perdagangannya tinggi, harga BBCA turun 0,81%.
Perlu dibedakan bahwa nilai transaksi Rp547,08 miliar mencakup aktivitas perdagangan saham secara keseluruhan. Sementara itu, net sell Rp144,37 miliar merupakan selisih antara penjualan dan pembelian investor asing.
TLKM menempati posisi kedua dengan net foreign sell Rp64,56 miliar, diikuti BMRI sebesar Rp44,49 miliar.
Menariknya, BMRI justru menguat 0,50% di tengah penjualan bersih asing. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas investor domestik dan faktor pasar lainnya juga dapat memengaruhi pembentukan harga.
Berikut lima saham dengan net foreign sell terbesar pada sesi I perdagangan 30 September 2026.
| Peringkat | Saham | Net foreign sell |
|---|---|---|
| 1 | BBCA | Rp144,37 miliar |
| 2 | TLKM | Rp64,56 miliar |
| 3 | BMRI | Rp44,49 miliar |
| 4 | CUAN | Rp37,33 miliar |
| 5 | PACK | Rp32,90 miliar |
Selain saham perbankan dan telekomunikasi, investor asing juga melakukan penjualan bersih pada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK).
Namun, besarnya net sell dalam satu sesi belum cukup untuk memastikan bahwa investor asing sedang mengurangi kepemilikan jangka panjang pada seluruh saham tersebut.
Perubahan posisi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk penyesuaian portofolio dan kebutuhan likuiditas.
IHSG ditutup menguat 0,15% atau 9,19 poin ke level 6.130,89 pada akhir sesi pertama.
Perdagangan berlangsung cukup fluktuatif. Indeks sempat menguat lebih dari 1% pada awal sesi, tetapi sebagian kenaikan tersebut terkikis sebelum jeda siang.
Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp6,36 triliun, dengan volume perdagangan 19,57 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,12 juta transaksi.
Berdasarkan data pasar yang digunakan dalam laporan ini, sebanyak 409 saham menguat, 236 saham melemah, dan 143 saham tidak berubah.
Artinya, jumlah saham yang mencatat kenaikan masih lebih besar dibandingkan saham yang terkoreksi.
Secara sektoral, mayoritas indeks menunjukkan kinerja positif hingga penutupan sesi pertama.
Sektor industri mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,63%.
Sebaliknya, sektor teknologi menjadi kelompok yang mengalami tekanan terdalam dengan penurunan 2,02%.
Perbedaan kinerja sektoral ini menunjukkan bahwa penguatan IHSG tidak terjadi secara merata.
Sebagian sektor masih menarik pembelian, sementara sektor lainnya menghadapi tekanan jual.
Karena IHSG dihitung berdasarkan pergerakan saham-saham penyusunnya, penguatan pada sejumlah saham dapat menjaga indeks tetap positif meskipun investor asing secara agregat mencatat net sell.
Nilai net foreign sell sebesar Rp677,4 miliar merupakan hasil selisih antara transaksi jual dan beli investor asing.
Secara keseluruhan, investor asing mencatat pembelian sekitar Rp2,02 triliun, sedangkan penjualannya mencapai Rp2,69 triliun.
Angka tersebut juga melanjutkan tekanan jual asing yang terlihat pada beberapa sesi perdagangan sebelumnya.
Namun, aliran dana asing tidak bergerak seragam pada seluruh saham. Di tengah penjualan bersih secara agregat, sejumlah emiten masih mencatat pembelian asing yang cukup besar.
ANTM berada di posisi pertama dalam daftar saham dengan net foreign buy terbesar, mencapai Rp47,94 miliar.
Posisi kedua ditempati PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar Rp28,30 miliar.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyusul dengan net buy Rp16,38 miliar, diikuti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp16,34 miliar dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) Rp15,63 miliar.
Berikut daftar lengkap lima besar pembelian bersih asing.
| Peringkat | Saham | Net foreign buy |
|---|---|---|
| 1 | ANTM | Rp47,94 miliar |
| 2 | UNTR | Rp28,30 miliar |
| 3 | BBRI | Rp16,38 miliar |
| 4 | GOTO | Rp16,34 miliar |
| 5 | TEBE | Rp15,63 miliar |
Masuknya BBRI dalam daftar net buy memperlihatkan bahwa investor asing tidak mengambil arah yang sama pada seluruh saham perbankan.
Saat BBCA dan BMRI menjadi sasaran jual, BBRI justru mencatat pembelian bersih dan harga sahamnya menguat 0,32%.
Data perdagangan tersebut memperlihatkan dua kondisi yang berlangsung bersamaan.
Pertama, IHSG berhasil menguat karena pergerakan harga saham-saham penyusunnya secara keseluruhan masih menghasilkan kenaikan indeks.
Kedua, investor asing tetap menjual lebih banyak daripada membeli jika dihitung berdasarkan nilai transaksi seluruh pasar.
Dengan kata lain, arah IHSG dan foreign flow tidak harus selalu sama.
Net foreign sell juga tidak dapat langsung dianggap sebagai tanda bahwa fundamental suatu perusahaan memburuk. Investor bisa menjual karena perubahan strategi, penyesuaian portofolio, atau faktor lain yang tidak selalu berkaitan dengan kinerja bisnis emiten.
Begitu pula, saham yang masuk daftar net buy tidak otomatis akan mengalami kenaikan harga pada perdagangan berikutnya.
IHSG mengakhiri sesi I perdagangan Rabu, 30 September 2026, dengan kenaikan 0,15% ke level 6.130,89.
Namun, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp677,4 miliar.
BBCA menjadi saham yang paling banyak dilepas dengan nilai Rp144,37 miliar. TLKM, BMRI, CUAN, dan PACK melengkapi lima besar daftar penjualan bersih asing.
Di sisi pembelian, ANTM menempati posisi pertama dengan net foreign buy Rp47,94 miliar, diikuti UNTR, BBRI, GOTO, dan TEBE.
Seluruh angka tersebut merupakan data hingga akhir sesi pertama, bukan hasil penutupan perdagangan harian. Nilainya masih dapat berubah mengikuti transaksi pada sesi berikutnya.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal, bukan rekomendasi personal untuk membeli, menjual, atau mempertahankan saham tertentu.
Sumber: idnfinancials.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.