Bisnis | Ekonomi
Kenapa Ekonomi Vietnam Ngebut, RI Masih 5%? Ini Penjelasan Airlangga
/index.php
Saham News - Diposting pada 07 October 2026 Waktu baca 5 menit
Jakarta, 7 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026.
IHSG ditutup naik 1,21% atau sekitar 74 poin ke level 6.192,93. Seluruh 11 sektor Bursa Efek Indonesia berakhir di zona hijau, dengan transportasi dan logistik menjadi sektor dengan penguatan tertinggi sebesar 3,16%.
Namun ada kondisi yang menarik di balik kenaikan tersebut.
Investor asing secara keseluruhan justru masih membukukan net sell Rp629,87 miliar di seluruh pasar.
Meski demikian, asing tetap melakukan pembelian bersih pada sejumlah saham, dengan TPIA, BBRI, TINS, ANTM, dan PTBA berada di posisi teratas.
Perdagangan Selasa berlangsung positif secara luas.
Data BEI yang dihimpun Katadata menunjukkan sebanyak 489 saham menguat, 183 saham melemah, dan 120 saham stagnan.
Frekuensi transaksi mencapai sekitar 1,88 juta kali dengan volume sekitar 48,23 miliar saham dan nilai perdagangan Rp12,35 triliun.
Seluruh sektor IDX-IC juga berakhir positif.
Transportasi dan logistik naik 3,16%, disusul teknologi 3,09%, energi 2,67%, barang baku 1,60%, dan infrastruktur 1,49%.
Sektor keuangan menjadi yang paling tertinggal, tetapi masih ditutup naik sekitar 0,09%.
Penguatan IHSG ternyata belum diikuti oleh perubahan arah arus dana asing secara agregat.
Data Indo Premier menunjukkan investor asing mencatat net sell Rp629,87 miliar di seluruh pasar.
Khusus pasar reguler, foreign net sell mencapai Rp597,49 miliar.
Sementara pasar negosiasi dan tunai secara gabungan juga mencatat arus keluar sekitar Rp32,37 miliar.
Artinya, asing masih menjual lebih banyak daripada membeli secara keseluruhan.
Namun hal tersebut tidak berarti mereka menjual seluruh saham di BEI.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berada di urutan teratas foreign inflow.
Net foreign buy saham TPIA tercatat sekitar Rp58,91 miliar.
Posisi kedua ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dengan pembelian bersih asing sekitar Rp45,80 miliar.
PT Timah Tbk (TINS) berada di posisi ketiga sebesar Rp38,24 miliar.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menyusul dengan Rp35,76 miliar dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sekitar Rp26,91 miliar.
Lima saham tersebut juga terkonfirmasi dalam rekap foreign flow Indo Premier.
Berdasarkan daftar Stockbit yang dikutip dalam materi CNBC Indonesia, berikut sepuluh saham dengan pembelian bersih asing terbesar:
| Peringkat | Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|---|
| 1 | TPIA | Rp58,91 miliar |
| 2 | BBRI | Rp45,80 miliar |
| 3 | TINS | Rp38,24 miliar |
| 4 | ANTM | Rp35,76 miliar |
| 5 | PTBA | Rp26,91 miliar |
| 6 | ENRG | Rp20,85 miliar |
| 7 | BUMI | Rp20,31 miliar |
| 8 | AMMN | Rp19,35 miliar |
| 9 | DSSA | Rp18,12 miliar |
| 10 | MEDC | Rp14,34 miliar |
Daftar tersebut merupakan snapshot Stockbit sebagaimana dipublikasikan dalam sumber materi.
Salah satu hal yang mencolok adalah banyaknya saham berbasis komoditas dan energi dalam daftar.
TINS memiliki eksposur terhadap timah, ANTM terhadap emas dan nikel, PTBA dan BUMI terhadap batu bara, AMMN terhadap tembaga dan emas, sementara ENRG dan MEDC bergerak di bidang energi.
Namun dominasi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing sedang melakukan rotasi besar-besaran ke sektor komoditas.
Untuk menyebutnya sebagai tren, pembelian perlu dilihat selama beberapa hari atau bahkan beberapa pekan.
BBRI menjadi salah satu saham yang menarik karena masuk urutan kedua foreign inflow.
Sementara itu, beberapa saham perbankan besar lainnya justru tidak mengalami pola yang sama.
Hal tersebut menunjukkan bahwa foreign flow dalam satu sektor tidak selalu seragam.
Investor institusional dapat menambah posisi pada satu emiten sambil mengurangi kepemilikan pada emiten lain yang bergerak di industri yang sama.
Sementara sebagian saham mendapat pembelian asing, tekanan jual terkonsentrasi pada beberapa saham lain.
Indo Premier mencatat GOTO sebagai saham dengan net foreign sell terbesar sekitar Rp255,8 miliar.
BMRI berada di posisi berikutnya dengan sekitar Rp127,2 miliar, disusul TLKM sekitar Rp73,1 miliar.
Besarnya penjualan pada saham tertentu menjelaskan mengapa total foreign flow tetap negatif meskipun terdapat sejumlah saham dengan net buy cukup besar.
IHSG tidak ditentukan hanya oleh transaksi asing.
Investor domestik juga memainkan peran besar dalam aktivitas Bursa.
Selain itu, bobot saham dalam indeks berbeda-beda. Penguatan sejumlah saham besar dan kenaikan seluruh sektor dapat mengimbangi tekanan dari saham yang dilepas investor asing.
Karena itu, IHSG naik 1,21% dan asing net sell Rp629,87 miliar bukan dua data yang bertentangan.
Keduanya menggambarkan dua aspek pasar yang berbeda.
Tidak dapat disimpulkan demikian hanya dari data foreign flow.
Net foreign buy menunjukkan bahwa nilai pembelian asing terhadap suatu saham lebih besar daripada nilai penjualannya.
Data tersebut tidak membuktikan bahwa pembelian asing merupakan penyebab kenaikan IHSG.
Faktor yang lebih relevan bagi indeks adalah perubahan harga saham serta bobot masing-masing saham di dalam IHSG.
Karena itu, formulasi yang lebih aman adalah bahwa sepuluh saham tersebut tetap menjadi tujuan pembelian asing di tengah kenaikan IHSG, bukan bahwa seluruhnya “mendorong IHSG naik”.
Pembaca mungkin menemukan daftar top foreign buy yang berbeda pada platform lain.
Sebagai contoh, rekap Banyu Capital untuk 6 Oktober mencatat TPIA, BBRI, TINS, ANTM, PTBA, ENRG, DSSA, MEDC, BRMS, dan MAPI sebagai pembelian asing terbesar pada basis yang digunakan sumber tersebut.
Sementara daftar CNBC Indonesia yang mengutip Stockbit menempatkan BUMI dan AMMN serta tidak memasukkan BRMS dan MAPI.
Perbedaan dapat muncul karena basis pasar, metode perhitungan, maupun snapshot data yang digunakan.
Karena itu, ranking foreign flow sebaiknya selalu dibaca bersama sumber datanya.
Saham yang masuk daftar pembelian bersih asing tidak otomatis berarti saham tersebut akan naik pada sesi berikutnya.
Investor asing dapat melakukan transaksi untuk berbagai alasan, seperti rebalancing portofolio, perubahan bobot indeks, strategi jangka pendek, hingga penyesuaian risiko.
Untuk analisis yang lebih lengkap, foreign flow perlu dipadukan dengan fundamental perusahaan, valuasi, pergerakan harga, volume, dan konsistensi pembelian selama beberapa sesi.
IHSG ditutup naik 1,21% ke 6.192,93 pada perdagangan 6 Oktober 2026, dengan seluruh sektor IDX-IC berakhir positif.
Namun investor asing tetap mencatat net sell Rp629,87 miliar di seluruh pasar, termasuk sekitar Rp597,49 miliar di pasar reguler.
Di tengah arus keluar tersebut, investor asing masih melakukan pembelian selektif.
Berdasarkan snapshot Stockbit yang menjadi sumber materi, TPIA memimpin net foreign buy sebesar Rp58,91 miliar, disusul BBRI, TINS, ANTM, PTBA, ENRG, BUMI, AMMN, DSSA, dan MEDC.
Kondisi ini menunjukkan bahwa foreign net sell secara agregat tidak berarti investor asing menjual seluruh saham di pasar.
Yang terjadi lebih tepat dibaca sebagai pengurangan eksposur secara keseluruhan bersamaan dengan pembelian selektif pada emiten tertentu.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal, bukan rekomendasi personal untuk membeli, menjual, atau mempertahankan saham tertentu.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.