IHSG Naik 1,36%, Asing Masih Net Sell: 10 Saham Ini Justru Diborong

Saham News - Diposting pada 06 October 2026 Waktu baca 5 menit

IHSG Naik 1,36%, Asing Masih Net Sell: 10 Saham Ini Justru Diborong

Jakarta, 6 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan rebound pada awal pekan. Namun, penguatan pasar belum diikuti perubahan arah arus dana investor asing secara keseluruhan.

Pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, IHSG ditutup menguat 81,97 poin atau 1,36% ke level 6.118,86.

Meski indeks menghijau, investor asing masih mencatat net sell sebesar Rp115,72 miliar di seluruh pasar.

Di tengah arus keluar tersebut, asing tetap melakukan pembelian selektif. BMRI menjadi saham dengan net foreign buy terbesar, kemudian disusul ULTJ, BBCA, BUVA hingga BRMS.

 

IHSG Melanjutkan Rebound

Penguatan Senin sebenarnya bukan akhir dari enam hari pelemahan berturut-turut.

IHSG sebelumnya sudah naik 0,46% ke 6.036,89 pada Jumat, 2 Oktober setelah beberapa hari mengalami tekanan.

Dengan demikian, kenaikan 5 Oktober merupakan penguatan hari kedua beruntun.

Pada perdagangan Senin, indeks bergerak di zona hijau dan akhirnya ditutup dekat level tertinggi hariannya.

Sebanyak 526 saham menguat, 153 melemah, dan 114 stagnan.

Menurut data RTI Business yang dilaporkan Katadata, volume perdagangan mencapai sekitar 40,98 miliar saham, frekuensi sekitar 1,65 juta transaksi, dan nilai transaksi mencapai sekitar Rp9,97 triliun.

 

Hampir Semua Sektor Menguat

Penguatan IHSG juga terjadi cukup luas secara sektoral.

Sebanyak 10 dari 11 sektor IDX-IC menutup perdagangan di zona hijau.

Sektor properti mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,31%, disusul barang baku 2,07% dan infrastruktur 1,99%.

Energi menguat 1,81%, sedangkan sektor keuangan naik 0,64%.

Teknologi menjadi satu-satunya sektor yang melemah dengan koreksi 1,33%.

Breadth yang positif menunjukkan rebound pasar tidak hanya berasal dari satu atau dua saham besar.

Namun saham berkapitalisasi besar tetap berperan penting dalam menentukan besarnya perubahan indeks.

 

Asing Masih Net Sell Rp115,72 Miliar

Di balik penguatan tersebut, foreign flow belum sepenuhnya berbalik positif.

Investor asing mencatat net sell Rp115,72 miliar di seluruh pasar.

Khusus pasar reguler, nilai jual bersih mencapai Rp123,10 miliar.

Sebaliknya, pasar negosiasi dan tunai mencatat net foreign buy sebesar sekitar Rp7,39 miliar.

Artinya, penguatan IHSG pada hari tersebut terjadi ketika investor asing masih menjual lebih banyak saham daripada yang mereka beli secara agregat.

Tetapi distribusi transaksinya tidak seragam.

Beberapa saham justru mencatat pembelian bersih asing cukup besar.

 

BMRI Paling Banyak Dibeli Asing

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menempati posisi pertama dalam daftar net foreign buy.

Investor asing membukukan pembelian bersih sekitar Rp86,82 miliar pada saham BMRI.

Saham Bank Mandiri juga menguat sekitar 1,74% ke Rp4.100 pada penutupan perdagangan.

Posisi kedua ditempati PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) dengan net buy Rp27,42 miliar.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul dengan Rp24,50 miliar.

 

10 Saham dengan Net Foreign Buy Terbesar

Berdasarkan rekap akhir perdagangan yang menggunakan data Stockbit, berikut sepuluh saham dengan pembelian bersih asing terbesar:

Peringkat Saham Net Foreign Buy
1 BMRI Rp86,82 miliar
2 ULTJ Rp27,42 miliar
3 BBCA Rp24,50 miliar
4 BUVA Rp20,63 miliar
5 BULL Rp16,57 miliar
6 PKPK Rp16,06 miliar
7 EMAS Rp15,83 miliar
8 WIFI Rp15,59 miliar
9 TPIA Rp13,16 miliar
10 BRMS Rp10,78 miliar

Ranking dan angka tersebut juga cocok dengan rekap EOD Banyu Capital.

Ada koreksi nama emiten pada materi awal: ticker PKPK saat ini merupakan PT Paragon Karya Perkasa Tbk, sebelumnya bernama PT Perdana Karya Perkasa Tbk. Nama perusahaan telah berubah pada 2025. PKPK bukan PT Paragon Technology and Innovation.

 

Saham Bank Bergerak Berlawanan

Foreign flow pada saham bank menunjukkan perbedaan yang cukup menarik.

BMRI dan BBCA berada dalam daftar saham yang paling banyak dibeli asing.

Namun PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) justru menjadi salah satu saham dengan net foreign sell terbesar.

BBRI mencatat penjualan bersih asing sekitar Rp71,23 miliar, kedua terbesar setelah GOTO.

Artinya, data tersebut tidak dapat disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa asing sedang “membeli sektor perbankan”.

Investor institusional dapat menambah posisi pada satu bank sambil mengurangi kepemilikan pada bank lainnya.

 

GOTO Jadi Saham Paling Banyak Dijual Asing

Di sisi sebaliknya, GOTO mencatat net foreign sell paling besar sekitar Rp115,73 miliar.

BBRI berada di posisi kedua dengan Rp71,23 miliar, kemudian ASII Rp55,87 miliar.

BUMI, HRTA, UNTR, TLKM, DSSA, KIJA, dan MDKA juga masuk daftar saham dengan foreign outflow terbesar.

Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa total foreign flow pasar tetap negatif meskipun BMRI dan sejumlah saham lain dibeli asing.

Nilai pembelian pada saham-saham tertentu belum cukup besar untuk menutupi total penjualan di saham lain.

 

Kenapa IHSG Bisa Naik Saat Asing Net Sell?

Tidak ada kontradiksi antara IHSG yang menguat dan investor asing yang net sell.

IHSG dihitung berdasarkan perubahan harga saham-saham penyusunnya dengan bobot masing-masing.

Investor domestik dapat menyerap saham yang dijual asing.

Selain itu, kenaikan pada saham dengan bobot besar dapat mendorong indeks lebih kuat dibandingkan tekanan pada saham lain.

Banyu Capital memperkirakan sepuluh kontributor positif terbesar menyumbang sekitar 53,25 poin dari total kenaikan IHSG 81,97 poin pada hari tersebut.

Namun breadth pasar yang luas dan 10 sektor yang menguat menunjukkan rebound bukan sekadar fenomena beberapa saham.

 

Tekanan Foreign Sell Juga Mengecil

Ada perkembangan lain yang cukup menarik.

Pada sesi I, foreign net sell sempat berada sekitar Rp205 miliar.

Hingga akhir perdagangan, nilainya mengecil menjadi Rp115,72 miliar di seluruh pasar.

Namun perubahan saldo tersebut tidak otomatis berarti asing net buy pada sesi II, karena data yang tersedia merupakan saldo kumulatif, bukan pemisahan transaksi resmi per sesi.

Interpretasi yang lebih aman adalah tekanan jual asing berkurang hingga penutupan.

 

Foreign Net Buy Bukan Berarti “Saham Pilihan Asing”

Daftar net foreign buy dapat memberikan gambaran mengenai saham yang menerima aliran dana asing pada periode tertentu.

Tetapi data tersebut bukan rekomendasi investasi.

Pembelian bersih satu hari dapat muncul karena berbagai alasan, termasuk rebalancing portofolio, perubahan posisi institusi, kebutuhan likuiditas, atau transaksi jangka pendek.

Hari berikutnya, arah transaksi bisa berubah.

Karena itu, foreign flow akan lebih berguna jika diamati bersama harga saham, volume, fundamental perusahaan, valuasi, dan konsistensi transaksi selama beberapa sesi.

 

Jangan Langsung Menyebut 10 Saham Ini “Mendorong IHSG”

Ada satu konteks editorial yang juga penting.

Saham yang masuk daftar net foreign buy tidak otomatis menjadi saham yang paling besar mendorong IHSG.

Net foreign buy mengukur aktivitas beli-jual investor asing.

Sementara kontribusi terhadap IHSG ditentukan oleh perubahan harga serta bobot saham dalam indeks.

Jadi lebih akurat menulis bahwa saham-saham tersebut dibeli asing ketika IHSG menguat, bukan bahwa pembelian asing pada sepuluh saham itulah yang menyebabkan IHSG naik 1,36%.

 

Kesimpulan

IHSG menutup perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, dengan kenaikan 1,36% ke 6.118,86, melanjutkan penguatan 0,46% pada perdagangan sebelumnya.

Sebanyak 526 saham menguat, 153 melemah, dan 114 stagnan. Sepuluh dari sebelas sektor juga berakhir positif.

Investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp115,72 miliar di seluruh pasar dan Rp123,10 miliar di pasar reguler.

Namun pembelian selektif tetap terjadi.

BMRI memimpin net foreign buy Rp86,82 miliar, kemudian ULTJ Rp27,42 miliar, BBCA Rp24,50 miliar, BUVA Rp20,63 miliar, dan BULL Rp16,57 miliar.

PKPK, EMAS, WIFI, TPIA, dan BRMS melengkapi daftar sepuluh besar.

Data tersebut menunjukkan bahwa foreign net sell secara keseluruhan tidak berarti investor asing menjual semua saham. Arus modal dapat keluar secara agregat sambil tetap masuk ke emiten-emiten tertentu.

 

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi pasar modal, bukan rekomendasi personal untuk membeli, menjual, atau mempertahankan saham tertentu.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.