Rosan Ungkap Modal RI Jadi Hub AI dan Data Center Asia

Teknologi Terkini - Diposting pada 06 October 2026 Waktu baca 5 menit

Foto: WEF ANNUAL MEETING 2026 (dok Istimewa)

Rosan Ungkap Modal RI Jadi Hub AI dan Data Center Asia

Indonesia sedang membidik posisi yang lebih besar dalam perlombaan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Namun persaingannya bukan hanya soal siapa memiliki teknologi paling canggih.

Untuk menjalankan AI dalam skala besar, dibutuhkan listrik, pusat data, jaringan transmisi, konektivitas, lahan industri, dan investasi bernilai besar.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menilai kombinasi kebutuhan tersebut justru membuka peluang bagi Indonesia.

Dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta pada 6 Oktober, Rosan mengatakan salah satu peluang terpenting bagi Indonesia berada pada persinggungan antara transisi energi dan ekonomi digital.

Dengan kata lain, masa depan AI bukan hanya persoalan software.

Ia juga merupakan persoalan infrastruktur.

 

AI Membutuhkan Listrik dalam Skala Besar

AI generatif dan layanan komputasi berbasis cloud memerlukan kapasitas komputasi yang besar.

Semakin banyak model AI dilatih dan digunakan, semakin besar pula kebutuhan server dan fasilitas data center.

Data center kemudian membutuhkan listrik dalam jumlah besar, sistem pendingin, jaringan transmisi yang andal, koneksi serat optik, dan lahan yang memadai.

Rosan menilai peningkatan kebutuhan tersebut mempertemukan dua agenda besar Indonesia: ekonomi digital dan transisi energi.

Artinya, daya tarik Indonesia sebagai lokasi investasi data center tidak hanya ditentukan oleh harga tanah atau besarnya jumlah pengguna internet.

Ketersediaan listrik dan sumber energi yang semakin bersih menjadi faktor penting.

 

Indonesia Punya Potensi Energi Hampir 3.700 GW

Salah satu modal terbesar Indonesia adalah sumber energi terbarukan.

Rosan menyebut potensi energi terbarukan nasional mencapai hampir 3.700 gigawatt (GW).

Potensi tersebut berasal dari berbagai sumber seperti tenaga surya, angin, hidro, biomassa, panas bumi, dan energi laut.

Namun kesenjangannya masih sangat besar.

Kapasitas energi terbarukan yang telah terpasang baru sekitar 15 GW-an, atau kurang dari 1% dari potensi tersebut.

Dalam materi ISF 2026, angka yang disebut berada di sekitar 15,4 GW.

Dengan demikian, keunggulan Indonesia saat ini lebih tepat disebut sebagai potensi energi, bukan kapasitas energi bersih yang seluruhnya sudah tersedia untuk data center.

Itu menjadi tantangan sekaligus peluang investasi.

 

Kenapa Energi Bersih Penting bagi Data Center?

Perusahaan teknologi global semakin memperhatikan sumber energi yang digunakan untuk menjalankan pusat data.

Data center dapat beroperasi selama 24 jam sehari dan membutuhkan listrik dalam jumlah besar.

Semakin besar kapasitas AI, semakin tinggi pula kebutuhan energinya.

Jika Indonesia mampu menyediakan listrik yang kompetitif, stabil, dan berasal dari sumber rendah karbon, hal tersebut dapat meningkatkan daya tariknya sebagai tujuan investasi digital.

Sebaliknya, potensi energi yang besar tidak otomatis menjadi keunggulan apabila belum diikuti jaringan transmisi, pembangkit, penyimpanan energi, dan kepastian pasokan.

Karena itu, pengembangan AI dan data center juga menciptakan peluang investasi pada sektor energi.

 

Indonesia Sudah Punya Ekosistem Data Center

Indonesia bukan memulai dari nol.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2026 menyebut Indonesia telah memiliki 182 data center, dengan konsentrasi terbesar berada di Jakarta sebanyak 94 fasilitas dan Batam sekitar 16 fasilitas.

Jakarta menjadi pusat utama karena berada dekat dengan konsentrasi perusahaan, pengguna digital, jaringan telekomunikasi, dan pusat ekonomi.

Sementara Batam berkembang sebagai hub kedua karena lokasinya sangat dekat dengan Singapura dan terhubung melalui jaringan kabel bawah laut.

Namun angka jumlah data center perlu dibaca dengan hati-hati.

Komdigi pada Agustus 2025 pernah menyebut terdapat sekitar 185 data center dengan kapasitas 274 MW.

Perbedaan 182 dan 185 dapat terjadi akibat metodologi, definisi fasilitas, atau waktu inventarisasi yang berbeda.

Karena itu, jumlah fasilitas tidak selalu dapat dibandingkan langsung tanpa memahami basis datanya.

 

Batam Jadi Salah Satu Lokasi Strategis

Batam menjadi salah satu wilayah yang paling menarik dalam ekspansi data center.

Lokasinya berdekatan dengan Singapura, salah satu pusat data center terbesar di Asia.

Koneksi kabel bawah laut Nongsa–Changi juga semakin memperkuat hubungan digital kedua wilayah.

Kemenko Perekonomian mencatat fasilitas NDP1 milik BW Digital di Nongsa Digital Park memiliki kapasitas IT 120 MW.

DayOne bersama Indonesia Investment Authority juga sedang mengembangkan kampus hyperscale dengan jalur pasokan listrik terkontrak menuju 450 MW, sementara Oracle telah memilih Batam sebagai lokasi Indonesia North Cloud Region.

Perkembangan tersebut menunjukkan Batam mulai menjadi bagian penting dalam koridor infrastruktur digital Indonesia-Singapura.

 

Potensi Investasi Disebut Mencapai Rp360 Triliun

Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menilai besarnya minat investor menunjukkan Indonesia mulai diperhitungkan dalam persaingan data center AI.

Ia menyebut terdapat peluang investasi yang nilainya dapat mencapai sekitar Rp360 triliun.

Khusus Batam, rencana investasi data center disebut berada di kisaran US$15 miliar–US$20 miliar, dengan target kapasitas sekitar 1,3 GW.

Namun angka Rp360 triliun perlu diberi label yang tepat.

Angka tersebut merupakan pipeline, target, atau potensi rencana investasi, bukan nilai investasi yang seluruhnya sudah terealisasi.

Menyebut Rp360 triliun sudah “masuk” ke Indonesia akan menyesatkan.

 

Pasar AI Indonesia Juga Menjadi Daya Tarik

Modal Indonesia bukan hanya energi dan lokasi.

Kemenko Perekonomian menyebut Indonesia merupakan salah satu pasar potensial AI terbesar di Asia, dengan estimasi pasar sekitar US$70 miliar berdasarkan data KORIKA.

Besarnya populasi digital memberikan alasan bagi perusahaan teknologi untuk menempatkan kapasitas komputasi lebih dekat ke pengguna.

Semakin dekat data center dengan pasar yang dilayani, semakin rendah latensi dan semakin mudah layanan digital beroperasi secara efisien.

Faktor ini menjadi salah satu keunggulan Indonesia dibanding negara yang mempunyai pasar domestik lebih kecil.

 

Data Center Bukan Sekadar Gudang Server

Data center sering dibayangkan hanya sebagai gedung berisi komputer.

Padahal fasilitas modern jauh lebih kompleks.

Di dalamnya terdapat ribuan server, sistem penyimpanan data, jaringan, sistem pendingin, cadangan listrik, sistem keamanan, serta infrastruktur komunikasi.

Untuk AI, kebutuhan tersebut bahkan lebih besar karena komputasi menggunakan GPU dan akselerator berdaya tinggi.

Itulah sebabnya pembangunan data center menciptakan permintaan lanjutan terhadap berbagai sektor.

Mulai dari listrik, konstruksi, telekomunikasi, peralatan pendingin, semikonduktor, hingga tenaga kerja teknis.

 

Jakarta Juga Tetap Menjadi Magnet Investasi Digital

Selain Batam, Jakarta tetap memegang posisi strategis.

Pada semester I-2026, realisasi investasi Jakarta mencapai Rp173,6 triliun.

Sektor transportasi, pergudangan dan telekomunikasi mencatat investasi Rp54,4 triliun, sementara kategori jasa lainnya—yang antara lain mencakup web hosting dan data center—mencapai Rp43,6 triliun.

Besarnya aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur digital sudah menjadi bagian dari arus investasi riil.

Namun ekspansi data center ke luar Jakarta juga semakin penting karena keterbatasan lahan, kebutuhan energi, dan kebutuhan redundansi jaringan.

 

Jawa Barat, Madura, dan Bali Juga Masuk Radar

Selain Jakarta dan Batam, Didik menyebut beberapa wilayah lain yang berpotensi menjadi sasaran investasi data center, termasuk Jawa Barat, Madura, dan Bali.

Pemilihan lokasi data center biasanya mempertimbangkan berbagai hal:

ketersediaan listrik,

harga dan ketersediaan lahan,

akses fiber optic,

risiko bencana,

kedekatan dengan pengguna,

ketersediaan air atau teknologi pendinginan,

serta kepastian regulasi.

Karena itu, tidak semua wilayah yang mempunyai lahan luas otomatis cocok sebagai lokasi data center.

 

Kepastian Regulasi Masih Jadi Tantangan

Didik mengingatkan bahwa minat investor perlu diikuti oleh kepastian kebijakan.

Data center merupakan investasi jangka panjang dengan modal besar.

Investor membutuhkan kepastian mengenai perizinan, pasokan listrik, penggunaan air, lingkungan, tata ruang, dan konektivitas.

Ketidakpastian di tingkat pusat atau daerah dapat menambah risiko proyek.

Karena itu, peluang investasi besar tidak otomatis berubah menjadi realisasi.

Pemerintah masih harus memastikan proyek dapat memperoleh izin dan beroperasi secara berkelanjutan.

 

Lingkungan Juga Tidak Bisa Diabaikan

Pertumbuhan data center membawa tantangan lingkungan.

Fasilitas ini dapat membutuhkan listrik sangat besar.

Sebagian desain juga menggunakan air untuk sistem pendinginan.

Karena itu, ekspansi data center tidak bisa hanya dilihat dari besarnya investasi.

Pemerintah dan operator perlu memperhatikan sumber listrik, efisiensi energi, emisi, kebutuhan air, serta dampak terhadap masyarakat sekitar.

Inilah alasan Rosan menghubungkan pertumbuhan ekonomi digital dengan transisi energi.

AI yang berkembang cepat membutuhkan infrastruktur digital, sementara infrastrukturnya harus semakin efisien dan berkelanjutan.

 

Apakah Indonesia Pasti Jadi Pusat AI Asia?

Belum tentu.

Indonesia memiliki sejumlah modal penting:

pasar digital yang besar,

lokasi strategis,

jaringan data center yang sudah berkembang,

akses kabel bawah laut,

dan potensi energi terbarukan yang sangat besar.

Namun negara lain di Asia Tenggara juga berlomba menarik investasi serupa.

Malaysia, Singapura, Thailand, dan negara lain terus mengembangkan ekosistem data center masing-masing.

Karena itu, potensi Indonesia baru akan berubah menjadi keunggulan nyata jika pembangunan energi, konektivitas, SDM, regulasi, dan infrastruktur berjalan seiring.

 

Kesimpulan

Rosan Roeslani menilai Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu tujuan utama investasi AI dan data center di Asia.

Alasannya bukan hanya pasar yang besar.

AI membutuhkan listrik, transmisi, lahan, jaringan, dan kapasitas data center dalam skala besar. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan hampir 3.700 GW, tetapi kapasitas yang sudah dimanfaatkan masih sekitar 15 GW-an atau kurang dari 1%.

Indonesia juga telah mengoperasikan sekitar 182 data center menurut data pemerintah yang digunakan pada 2026, dengan 94 berada di Jakarta dan 16 di Batam.

Sementara itu, sejumlah pihak menilai pipeline investasi data center AI dapat mencapai sekitar Rp360 triliun.

Namun angka itu merupakan potensi atau rencana investasi, bukan realisasi yang sudah masuk seluruhnya.

Jadi, modal Indonesia memang besar.

Tantangannya adalah mengubah potensi energi, pasar digital, dan posisi geografis menjadi listrik bersih yang tersedia, konektivitas yang andal, regulasi yang konsisten, dan proyek yang benar-benar beroperasi.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.