Valuasi Saham SUPA Dinilai Murah, Diserbu Investor Saat IPO - Apa Prospeknya?

Saham News - Diposting pada 18 December 2025 Waktu baca 5 menit

https://www.superbank.id/en/pengumuman/pt-superbank-indonesia-pindah-kantor

Lonjakan harga saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) terus berlanjut tanpa hambatan. Hingga perdagangan siang hari, saham SUPA kembali berhenti di level Auto Reject Atas (ARA) pada hari pertama pencatatannya di bursa.

 

Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia pada Rabu (17/12/2025), saham SUPA menyentuh ARA setelah naik 155 poin atau sekitar 24,4% ke level Rp790 per saham.

 

Volume perdagangan tercatat mencapai 3,8 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp3 miliar. Saham ini diperdagangkan sebanyak 5.205 kali sepanjang sesi tersebut.

 

Sejak pagi hingga siang hari, antrean jual (offer) terpantau kosong, sementara antrean beli (bid) menumpuk lebih dari 14,66 juta lot pada harga Rp790 per saham.

 

Kenaikan yang mentok di ARA ini mendorong kapitalisasi pasar SUPA membengkak menjadi Rp26,5 triliun. Nilai tersebut jauh melampaui kapitalisasi pasar perusahaan satu grupnya, PT Bukalapak Tbk (BUKA), yang berada di kisaran Rp17 triliun.

 

Sebelumnya, perusahaan menetapkan harga penawaran perdana saham (IPO) di Rp635 per saham. Tak lama setelah perdagangan dibuka, hanya sekitar satu menit, harga saham SUPA langsung melesat ke Rp790 per saham.

 

Valuasi Saham SUPA

Berdasarkan riset analis Panin Sekuritas, Cliff Nathaniel, dengan harga IPO Rp635 per saham, rasio Price to Book Value (PBV) SUPA berada di level 2,6 kali. Angka tersebut dinilai lebih rendah atau diskon dibandingkan perusahaan sejenis di industri yang sama.

 

Nathaniel menjelaskan bahwa perhitungan valuasi relatif menunjukkan PBV SUPA sebesar 2,6x, sementara rata-rata PBV emiten sekelasnya berada di sekitar 3,2x, sehingga saham ini dinilai lebih murah secara valuasi.

 

Panin Sekuritas menilai SUPA sebagai perusahaan yang tengah bertumbuh dengan valuasi menarik dibandingkan para pesaingnya, sehingga berpotensi menjadi pilihan investasi yang atraktif.

 

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, termasuk ukuran IPO yang besar serta rasio cost to income (CIR) yang masih tinggi di level 74,2%, yang mengindikasikan efisiensi operasional belum optimal.

 

Pasca IPO, strategi pengembangan SUPA akan difokuskan pada penguatan ekosistem serta peningkatan profitabilitas. Perseroan tetap menitikberatkan segmen ritel dan UMKM yang menyumbang sekitar 72,5% pendapatan dan menawarkan tingkat imbal hasil yang relatif lebih tinggi.

 

Panin juga mencatat bahwa penetrasi ekosistem SUPA masih berada pada tahap awal, karena akuisisi pengguna saat ini masih didominasi oleh GrabPassenger. Padahal, potensi dari GrabDriver dan GrabMerchant belum dimanfaatkan secara maksimal.

 

Selain itu, integrasi dengan grup EMTK dinilai masih memiliki ruang percepatan, termasuk peluang menjadikan SUPA sebagai metode pembayaran utama di layanan Vidio. Langkah ini berpotensi mendorong pertumbuhan pengguna sekaligus meningkatkan keterlibatan dalam ekosistem.

 

Di sisi lain, porsi pembiayaan langsung (direct lending) yang saat ini masih di bawah 20% dari total kredit diperkirakan akan meningkat. Skema ini menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi serta pengelolaan risiko yang lebih baik dibandingkan channeling, sehingga berpotensi memperbaiki margin dan kualitas aset di masa mendatang.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.