7 Fakta Menarik Karakter Investor Kripto Indonesia, Nomor 5 Paling Mengejutkan

Crypto News - Diposting pada 09 January 2026 Waktu baca 5 menit

Temuan dalam Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025—hasil kolaborasi Indonesia Crypto Network (ICN), Coinvestasi, dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI)—menunjukkan bahwa karakter pasar kripto di Indonesia kini semakin terbentuk dan terdefinisi dengan jelas.

 

Laporan tersebut disusun berdasarkan survei terhadap 1.851 responden yang berasal dari berbagai daerah dan kelompok usia di Indonesia. Hasilnya menyajikan gambaran menyeluruh mengenai profil demografis, perilaku, serta preferensi investor kripto nasional. Selain memiliki basis pengguna yang besar, pasar kripto Indonesia juga memperlihatkan pola adopsi yang relatif stabil dan konsisten.

 

Berikut tujuh temuan utama terkait karakter investor kripto Indonesia, disusun dari yang paling umum hingga yang paling menonjol.

 

Dominasi Gen Z dalam Investor Kripto
Survei menunjukkan bahwa investor kripto di Indonesia didominasi oleh generasi Z, khususnya pada kelompok usia 18–34 tahun. Kelompok usia muda ini menjadi penggerak utama pertumbuhan adopsi kripto, di mana aset digital telah menjadi bagian dari diskursus keuangan sehari-hari melalui media digital, lingkaran pertemanan, dan komunitas sosial.

 

Ketika kripto mulai diperbincangkan secara luas di komunitas, legitimasi terbentuk secara alami dan mendorong lebih banyak individu untuk ikut berpartisipasi. Hal ini menegaskan bahwa pembelajaran sosial dan pengaruh antarpengguna memegang peran penting dalam adopsi kripto nasional, dengan Gen Z sebagai motor utamanya.

 

Paparan Awal Kripto Melalui Media Digital
Mayoritas investor kripto Indonesia mengenal kripto pertama kali lewat kanal digital seperti media daring, media sosial, dan konten berbasis komunitas. Platform seperti YouTube, TikTok, Instagram, X, dan Telegram menjadi sarana utama dalam membangun kesadaran serta pemahaman awal mengenai kripto.

 

Selain itu, rekomendasi dari teman dan keluarga juga berkontribusi besar. Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, kepercayaan personal sering kali lebih berpengaruh dibandingkan komunikasi formal institusi. Pola ini menegaskan bahwa adopsi kripto di Indonesia berkembang secara organik dan berbasis komunitas.

 

CEX Masih Menjadi Pilihan Utama
Bursa kripto terpusat atau centralized exchange (CEX) tetap menjadi platform dominan bagi investor Indonesia. Sebanyak 93,6% responden mengaku menggunakan CEX sebagai gerbang utama, sementara pemanfaatan DEX dan dompet non-kustodial masih relatif terbatas.

 

Keunggulan CEX terletak pada kemudahan penggunaan, persepsi keamanan yang lebih baik, likuiditas tinggi, serta dukungan terhadap sistem pembayaran lokal. Faktor-faktor tersebut menjadikan CEX sebagai pilihan paling praktis bagi investor ritel pada tahap adopsi saat ini. Seiring meningkatnya minat ini, OJK hingga kini telah mencatat 25 platform kripto berlisensi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD).

 

Konsentrasi Investor di Jawa dan Bali
Sebaran investor kripto Indonesia masih terpusat di wilayah Jawa dan Bali, yang mencakup sekitar 77,6% dari total responden. Dominasi wilayah ini didukung oleh kepadatan penduduk, kesiapan infrastruktur digital, serta akses yang lebih luas terhadap ekosistem kripto.

 

Sumatra berada di urutan berikutnya, menunjukkan bahwa adopsi mulai meluas ke luar Jawa–Bali, terutama di kawasan perkotaan. Sementara itu, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Timur masih berada pada tahap awal perkembangan, namun menyimpan potensi pertumbuhan jangka panjang seiring peningkatan inklusi digital dan keuangan.

 

Aset Blue Chip Mendominasi Portofolio
Kepemilikan aset investor kripto Indonesia didominasi oleh kripto berkapitalisasi besar. Bitcoin menjadi aset paling populer, disusul USDT, Ethereum, Solana, dan BNB. Aset-aset ini dipilih karena memiliki likuiditas tinggi, utilitas yang jelas, serta daya tahan pasar yang lebih kuat.

 

Sebaliknya, aset berisiko tinggi seperti memecoin dan altcoin berkapitalisasi kecil hanya mengisi porsi minor. Temuan ini menunjukkan kecenderungan investor Indonesia untuk membangun portofolio berbasis aset kripto yang sudah mapan.

 

Orientasi Investasi Jangka Panjang
Bertolak belakang dengan anggapan bahwa investor kripto Indonesia bersifat spekulatif, mayoritas responden justru mengadopsi strategi jangka panjang. Sebanyak 58,2% investor memilih menyimpan aset dalam jangka panjang, sementara aktivitas trading jangka pendek hanya dilakukan oleh sekitar 20,2%.

 

Perilaku ini sejalan dengan kecenderungan Gen Z dan milenial muda yang mulai memandang kripto sebagai instrumen investasi setara saham atau emas. Penggunaan kripto sebagai alat pembayaran masih terbatas, mengingat sistem pembayaran lokal yang telah efisien dan kondisi ekonomi makro yang relatif stabil.

 

Masuk Pasar Saat Bull Run 2024
Sebagian besar investor kripto Indonesia mulai masuk ke pasar pada fase bull run tahun 2024, saat harga Bitcoin menembus level US$100.000 untuk pertama kalinya. Momentum tersebut memicu lonjakan signifikan minat investor baru.

 

Gelombang adopsi ini dipicu oleh kombinasi sentimen global yang positif, meningkatnya kepastian regulasi, serta eksposur media yang luas. Meski masuk karena momentum pasar, perilaku investor setelahnya menunjukkan kecenderungan yang lebih rasional dan berhati-hati.

Sumber: coinvestasi.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.