Saham News
Purbaya Tegas Soal Demutualisasi BEI: 'Bereskan Dulu Tukang Goreng Saham!'
/index.php
Crypto News - Diposting pada 09 January 2026 Waktu baca 5 menit
Setelah sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah sebelum terkoreksi tajam pada tahun lalu, bitcoin dinilai kembali memiliki peluang untuk mencetak level harga baru pada 2026. Meski demikian, pelaku industri dan investor menilai potensi kenaikan tersebut akan dibarengi dengan fluktuasi harga yang sangat ekstrem.
Dalam rangkuman tahunan proyeksi bitcoin versi CNBC, para analis memperkirakan pergerakan harga pada 2026 akan berada dalam rentang yang sangat lebar, yakni antara US$75.000 hingga US$225.000. Rentang proyeksi yang jauh ini mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar kripto di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis.
Berdasarkan data CoinMetrics, bitcoin sempat menembus rekor di atas US$126.000 pada Oktober sebelum merosot ke kisaran US$80.000 menjelang akhir tahun. Hingga saat ini, harga bitcoin masih berada sekitar 30% di bawah puncak historisnya.
Kinerja pasar kripto tahun lalu sempat ditopang oleh harapan terhadap kebijakan regulasi yang lebih akomodatif di Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, serta meningkatnya partisipasi investor institusional dan lembaga keuangan konvensional seperti perbankan. Selain itu, muncul tren perusahaan digital asset treasury (DAT) yang agresif mengakumulasi bitcoin dan aset kripto lainnya.
Namun, tekanan muncul seiring perdebatan mengenai valuasi saham teknologi dan kekhawatiran bahwa lonjakan kecerdasan buatan berpotensi membentuk gelembung. Penjualan besar-besaran aset kripto di penghujung tahun terjadi ketika investor melakukan evaluasi ulang terhadap aset berisiko, memicu likuidasi paksa yang memperdalam koreksi dan menciptakan tantangan tersendiri bagi pasar pada 2026.
“Kami saat ini berada dalam lanskap investasi yang rumit, ditandai dengan valuasi ekuitas yang tinggi, ketidakstabilan geopolitik, serta pergeseran arah kebijakan moneter,” ujar Alex Thorn, Head of Research Galaxy, dikutip dari CNBC.com, Kamis (8/1/2026).
Menurut Thorn, kondisi tersebut membuat prospek pergerakan bitcoin pada 2026 menjadi sulit dipastikan. Sementara itu, Carol Alexander, profesor keuangan dari University of Sussex, memperkirakan bitcoin akan bergerak sangat volatil dalam kisaran US$75.000 hingga US$150.000, dengan titik keseimbangan harga di sekitar US$110.000 seiring peralihan pasar dari dominasi investor ritel menuju likuiditas institusional.
Alexander menilai peningkatan keterlibatan institusi dalam dua tahun terakhir akan berlanjut dan mengubah dinamika pergerakan harga bitcoin. Meski sebelumnya ia sempat memperkirakan bitcoin berpotensi mencapai US$200.000 pada 2026, capaian harga di atas US$100.000 pada 2025 masih dianggap sejalan dengan proyeksi jangka panjangnya.
Di sisi lain, Head of Research CoinShares, James Butterfill, memperkirakan harga bitcoin berada di rentang US$120.000 hingga US$170.000 pada 2026, dengan peluang pergerakan yang lebih positif muncul pada paruh kedua tahun tersebut.
Butterfill menambahkan bahwa pelaku pasar akan mencermati pergantian Ketua Federal Reserve AS setelah masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei. Selain itu, kepastian terkait pengesahan RUU Clarity Act yang mengatur aset digital di AS dinilai berpotensi menjadi pemicu penting bagi pasar kripto.
Standard Chartered memperkirakan bitcoin akan diperdagangkan di sekitar US$150.000 pada 2026, setelah memangkas target sebelumnya dari US$300.000. Bank tersebut menilai koreksi harga sepanjang 2025 masih tergolong wajar, meskipun cukup signifikan hingga mendorong revisi proyeksi.
Geoff Kendrick, Global Head of Digital Asset Research Standard Chartered, menyebut bahwa akumulasi bitcoin oleh perusahaan DAT kemungkinan tidak lagi menjadi faktor utama penopang harga. Menurutnya, aliran dana ke produk exchange-traded fund (ETF) berbasis bitcoin berpotensi menjadi pendorong utama kenaikan selanjutnya.
Sementara itu, CEO Maple Finance, Sidney Powell, mematok target harga bitcoin di level US$175.000 pada 2026, didukung oleh potensi penurunan suku bunga dan peningkatan adopsi institusional.
Powell juga menilai pencapaian penting pada 2026 adalah ketika nilai pinjaman berbasis bitcoin melampaui US$100 miliar. Ia meyakini kecenderungan investor untuk memanfaatkan bitcoin sebagai jaminan pinjaman, alih-alih menjualnya, akan menekan pasokan di pasar dan mendukung apresiasi harga.
Dari Bit Mining, Kepala Ekonom Youwei Yang memproyeksikan pergerakan harga yang sangat luas, yakni antara US$75.000 hingga US$225.000 pada 2026. Ia menilai bitcoin berpotensi mencatat kinerja yang solid, meski volatilitas tinggi akan tetap terjadi akibat ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik global.
Sementara itu, analis Nexo, Iliya Kalchev, memperkirakan bitcoin bergerak dalam kisaran US$150.000 hingga US$200.000 pada 2026. Ia menilai tekanan jual dari pemegang jangka panjang mulai mereda, sementara alokasi dana institusional diperkirakan meningkat secara bertahap.
Kalchev menambahkan bahwa bitcoin memasuki 2026 dengan risiko pasokan yang lebih rendah serta basis modal yang semakin kuat. Jika kondisi keuangan global menjadi lebih longgar, bitcoin dinilai berpeluang kembali menembus, bahkan melampaui, rekor harga sebelumnya.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.