Saham News
Saham Bank Tertekan Aksi Jual Asing-Saatnya Waspada atau Justru Peluang?
/index.php
Crypto News - Diposting pada 21 May 2025 Waktu baca 5 menit
Ether (ETH), yang merupakan kripto terbesar kedua di dunia, kembali mengalami tekanan harga, dengan nilainya turun hingga mencapai US$2.400 setelah sebelumnya sempat melonjak ke rekor tertinggi mingguan sebesar US$2.700. Koreksi ini juga diiringi oleh aksi likuidasi besar-besaran di pasar aset digital.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada Senin (19/5/2025), harga ETH mengalami penurunan dari US$2.580 menjadi US$2.392, mencatat koreksi lebih dari 5% dalam periode 24 jam terakhir. Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar Ether juga terus merosot hingga tersisa US$288 juta.
Secara umum, pasar kripto mengalami tekanan, dengan kapitalisasi pasar global menurun sekitar 1,40% ke posisi US$3,25 triliun. Bitcoin (BTC) terkoreksi tipis kurang dari 1% ke harga US$103.000, sementara altcoin utama lainnya seperti XRP dan Solana (SOL) masing-masing mencatat penurunan sebesar 2,3% dan 4,5%.
Salah satu penyebab utama melemahnya harga ETH adalah lonjakan likuidasi posisi long yang terjadi dalam waktu singkat. Berdasarkan data dari CoinGlass, dalam 24 jam terakhir tercatat lebih dari US$263 juta (sekitar Rp4,3 triliun) posisi ETH dilikuidasi, di mana sekitar US$205 juta berasal dari posisi long yang mengandalkan tren kenaikan harga.
Ketika investor membuka posisi long dengan leverage tinggi namun pergerakan harga tidak sesuai ekspektasi, maka platform perdagangan akan otomatis menjual aset tersebut untuk membatasi kerugian. Proses ini menimbulkan efek berantai berupa likuidasi paksa yang semakin menekan harga ETH secara tajam.
Tren pengurangan leverage ini juga terjadi di seluruh pasar kripto, dengan total nilai likuidasi seluruh aset kripto mencapai US$665 juta atau sekitar Rp11 triliun, di mana lebih dari US$466 juta berasal dari posisi long.
Selain itu, penurunan harga kripto saat ini juga bertepatan dengan ketidakpastian di pasar keuangan global setelah Moody’s Ratings menurunkan peringkat kredit Amerika Serikat dari Aaa menjadi Aai pada tanggal 17 Mei 2025.
Penurunan tersebut didasari oleh peningkatan tajam utang nasional AS yang kini menembus US$36 triliun, defisit anggaran yang terus berlangsung, kenaikan beban bunga, serta lemahnya komitmen politik untuk mengendalikan belanja pemerintah.
Keputusan tersebut mengguncang pasar global, dengan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS sebagai sinyal meningkatnya ketidakpastian, dan munculnya sikap “risk-off” dari investor yang mulai menjauhi aset berisiko, termasuk kripto.
Menurut analisa dari The Kobeissi Letter, meskipun ada tekanan resesi, penurunan inflasi, dan perlambatan ekonomi, imbal hasil obligasi tetap naik karena ketegangan pasar.
Sementara itu, Federal Reserve masih mempertahankan sikap tegas dengan belum berencana menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Berdasarkan proyeksi CME FedWatch, pasar hanya memperkirakan kemungkinan dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun 2025.
Sumber: coinvestasi.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.